![]() |
| Kereta api ini membawa FAMili Sumbar ke Pariaman |
Perjalanan yang sangat ramai memang, dan itu di luar dugaan kami. Otomatis, niat untuk meniup lilin ulang tahun di atas kereta api tidak mungkin kami laksanakan karena Kereta Api yang kami tumpangi adalah jenis Kereta Api tanpa asap dan dilarang menghidupkan api di atasnya. Akhirnya disepakati saja, tiup lilin bakal diadakan di pantai Gandoriah Pariaman, di mana sang Kakanda Korwil FAM Wilayah Sumatera Barat Nuh Rafi sudah menunggu sebagai tuan rumah.
![]() |
| Kue Milad ke-1 FAM Indonesia |
Kereta Api wisata jurusan Padang - Pariaman ini sangat nyaman. Cocoklah untuk embel-embel wisatanya. Tak ada penumpang yang berebutan naik ke atas atap. Atau dorong-dorongan saat antri tiket. Perjalanan antara Padang - Pariaman berarti juga bernostalgia sejarah, karena Kereta Api ini bakal melewati beberapa gedung dan tempat peninggalan kolonial yang masih serupa bentuknya, namun beralih fungsinya.
![]() |
| Bendi di Pariaman |
Milad ke-1 FAM Indonesia “ala FAM Sumatera Barat” akhirnya kami peringati di bibir pantai Gandoriah. Di tengah kesyahduan embusan angin yang sepoi. Dibelai panas lautan yang menyiangi ubun. Serta suara debur ombak yang meningkahi perahu biduk nelayan, bertujuh FAMili hadir merayakannya. Bukan tumpeng yang kami potong, sebab sungguh tidak sampai hati buat menyaingi selebrasi yang sudah diselenggarakan di Kantor FAM Pusat Jalan Mayor Bismo Pare Kediri sana, jadi kami cukup memotong Kue Ulang tahun bikinan FAMili Amika Feetluck yang sejenak pada pandangan pertama aku langsung bisa mengidentifikasi permainan warnanya dengan bentuk logo FAM Indonesia. Sungguh kreatif sekali. Tentu saja ada juga yang mesti kami tiru dari penyelenggaraan helat tasyakur FAM di Pare yaitu tentang masalah “KOOR DI NASI”. Bagaimanapun masalah “KOOR DI NASI” ini akan menjadi keharusan manakala detak jam sudah tegak lurus di angka 12 tepat. Maka setelah kue Ultah habis berpindah tempat ke dalam perut tujuh FAMili yang hadir, maka saatnya makan hidangan nasi bersambal khas Pariaman.
![]() |
| Muhammad Abrar, Befaldo Angga, Irwan Hasan |
Di siang itu saya bacakan sebuah puisi untuk Milad FAM Indonesia berjudul SELEBRASI TAPAK AWAL yang kemudian disambut dengan alunan merdu lagu Selamat Ulang Tahun dan tiup lilin oleh Koordinator Wilayah Sumbar, Uda Nuh Rafi. Selanjutnya kami bertujuh menulis dan menyusun puisi bertema Gondoriah yang dipersembahkan untuk Milad FAM Indonesia yang pertama ini. Lalu kemudian puisi-puisi itu dibaca ulang satu persatu (Video akan menyusul diunggah).
Nah, begitulah perjalanan FAM Wilayah Sumatera Barat hari ini. Merayakan Milad FAM di tengah alunan bunyi tut... tut... tut... kereta api yang bersambung dengan suara debur ombak dan tingkah camar. Semuanya itu memang diniatkan sebagai suatu persembahan, walau sederhana namun diharapkan dapat dimaknai lebih kepada bentuk keikhlasan dan persaudaraan di tengah keluarga besar FAMili Indonesia. Semoga kita semua jaya selalu dan sukses, aamiin.
Salam santun, salam karya !!
DENNI MEILIZON
Sekretaris FAM Wilayah Sumbar
FAM906U-PADANG




wahhh asiknya :)
ReplyDelete