Skip to main content

FAM Indonesia dan Terbentuknya ‘Citizen Journalism’ yang Bertanggung Jawab

Oleh: Nuryaman Emil Hamzah

Citizen Journalism atau sering disebut Pewarta Warga mulai menampakkan geliatnya. Tetapi ibarat pisau bermata dua, Citizen Journalism yang bisa dianggap sebagai terobosan informasi di mana masyarakat terlibat aktif menjadi citizen reporter, kebebasan itu melahirkan banyak pelanggaran kode etik bahkan cenderung rasis dan provokatif.

Kompasiana yang cukup populer misalnya, saat terjadi dualisme kepengurusan PSSI dan dualisme kompetisi IPL dan ISL, oleh sebagian member yang sudah terdaftar dijadikan sarana yang paling efektif untuk saling menghina dengan kata-kata yang tidak sepantasnya. Padahal idealnya, dalam menyikapi dualisme kepengurusan PSSI, akun tersebut lebih baik digunakan sebagai sarana membangun opini yang positif agar dualisme segera berakhir.

Tak ayal lagi, ulah segelintir Kompasianer tersebut turut memengaruhi kredibilitas Kompasiana. Timbul kesan negatif bahwa tulisan atau berita yang dimuat di Kompasiana tidak bisa dipercaya bahkan sebagian orang menganggap berbahaya bagi tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mengapa Muncul Posting tidak Etis?

Citizen reporter sangat berbeda dengan jurnalis di media massa yang terikat oleh kode etik jurnalistik dan tunduk pada peraturan pers, sedangkan citizen reporter atau reporter warga bisa dilakukan oleh siapa saja walaupun sama sekali tidak mengenal ilmu jurnalistik dan berbagai peraturan yang berhubungan dengan pers.

Penyelenggara Citizen Journalism sendiri tidak bisa mengontrol sepenuhnya posting tulisan yang dimuat di halamannya serta komentar yang menanggapi postingan tersebut. Semua seolah dibiarkan seperti air mengalir. Etika Jurnalis Warga pun hanya diketahui oleh orang-orang yang telah mengantongi kartu keanggotaan sebagai Citizen Reporter yang dikeluarkan PPWI.

Adakah Kode Etik Citizen Journalism?

Sejak dideklarasikan pendirian Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) pada tanggal 11 Nopember 2007, organisasi yang dipimpin oleh Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA., ini telah menetapkan sebuah kode etik yang terdiri atas 10 poin. Sepuluh poin yang ditetapkan sebagai kode etik tersebut mengatur agar setiap pemberitaan atau tulisan dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi etika maupun norma yang berlaku di masyarakat.

Hal yang menarik dari kode etik PPWI ini terdapat pada poin 3 yang berbunyi : “PEWARTA WARGA tidak diperkenankan menerima imbalan yang dapat memengaruhi obyektivitas beritanya.” Sisi ini memang rentan untuk dimanfaatkan pihak tertentu untuk “membeli” seorang citizen reporter agar membuat pemberitaan yang menguntungkan pihaknya.

Mungkinkah FAM Indonesia membentuk Citizen Journalism yang bertanggung jawab?

Misi dakwah bilqalam yang diusung FAM Indonesia dan motto “Membina dengan Hati Calon Penulis Islami,” akan memberikan implikasi yang sangat positif terhadap etika anggota FAM dalam menjalani peran sebagai Citizen Reporter. Di samping kode etik sebagai citizen reporter yang ditetapkan PPWI akan memberikan gambaran secara detail apa-apa yang mesti dipatuhi.

Dua sisi etis inilah yang akan membuat anggota FAM Indonesia bisa menjadi citizen reporter yang akan melahirkan tulisan atau pemberitaan yang etis dan bisa dipertanggungjawabkan. Sikap positif citizen reporter FAM Indonesia akan menjadikannya sebagai sumber rujukan baru yang bisa dipertanggungjawabkan bagi masyarakat.

Dipilihnya kata “hati” sebagai landasan pembinaan oleh FAM Indonesia, merupakan suatu langkah strategis, di mana “hati” merupakan sumber kontrol untuk setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Maka bila “hati” sudah terbina sesuai dengan kehendak Sang Pemilik Hati, akan lahirlah perilaku-perilaku positif. Inilah yang akan menjadi self kontrol setiap anggota FAM Indonesia ketika menjadi seorang citizen reporter.

Definisi Citizen Journalism dalam Wikipedia:

Jurnalisme warga (bahasa Inggris: citizen journalism) adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. (http://id.wikipedia.org/wiki/Jurnalisme_warga)

*) Penulis adalah anggota FAM Indonesia, IDFAM255U Pandeglang


 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...