Skip to main content

[Resensi Buku] Menyatukan Ide dan Realita

Judul Buku: Flamboyan Senja
Penulis: Aliya Nurlela
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan ke: I, Desember 2012
Tebal: 139 halaman
ISBN: 978-602-17143-5-5


“Lembayung bersolek menawarkan kilau kuning keemasan. Memanjakan mata-mata lelah yang ingin bersantai di ujung senja. Menunjukkan ke-Mahabesaran ciptaanNya dari sekian ciptaan. Menorehkan kerinduan pada jiwa-jiwa yang berharap dan menanti kehadiran sesaat sebelum azan magrib berkumandang”.

Bagaimana perasaan Anda saat membaca kutipan ini? Sebuah kutipan yang padat dan indah dalam pengolahan diksinya. Kutipan ini langsung memancing imajinasi pembaca akan sebuah suasana, entah itu di padang rumput, puncak gunung, ataupun di tepi pantai, sembari menyelami keindahan senja yang sebentar lagi akan beranjak pergi.

Inilah kutipan pembuka yang bisa kita temukan dalam buku “Flamboyan Senja”. Sebuah buku fiksi yang ditulis dengan gaya bahasa sederhana, namun kaya akan variasi penempatan diksi dan jemawa dalam mengolah nurani pembaca untuk menelisik pesan terdalam yang mau disampaikan melalui setiap katanya. Kiranya keindahan yang termaktub dalam judul buku “Flamboyan Senja” perlahan-lahan dilerai lewat baris-baris kata yang merangkai kalimat yang syarat pesan ini.

Sepuluh topik cerpen yang dirangkai dalam buku ini menyingkapkan kepada kita pesan variatif, sekaligus menyentak hati, apa yang hendak kita lakukan setelah membacanya? Justru dalam kesederhanan latar belakang cerita yang diangkat, yaitu dari hidup kita sehari-hari itulah, tulisan-tulisan ini tampil sebagai evaluator bagi pola pikir dan pola laku yang sering kita praktikkan. Melalui tulisannya, penulis menampilkan cerita yang membedah segala tindak-tanduk kita, entah yang kita lakukan dengan sadar atau hanya ikut-ikutan. Ia mengajak kita agar tidak menghalalkan segala cara demi mencapai keinginan pribadi, melainkan tampil sebagai pribadi yang bersahaja, yang selalu mau menghargai orang lain.

Kutipan ini kiranya mencerminkan hal ini. “Zahda Amir adalah penulis yang dikenal santun dan karya-karyanya mengusung nilai-nilai Ilahiah. Tak satu pun karyanya yang vulgar atau membuat kotroversi”. Kutipan ini, meski mengacu pada penulis ternama, Zahda Amir, tetapi penulis mampu memilah kutipan yang langsung menimbulkan pertanyaan reflektif bagi pembacanya. Kalau Zahda Amir, sang penulis terkenal itu saja masih mampu menujukkan kesahajaannya, mengapa kita yang baru merintis jalan menjadi penulis ini cenderung arogan?

Kutipan ini juga mengindikasikan bahwa meskipun cerpen adalah tulisan berkategori fiksi, tetapi untuk dasar dan pondasi bagi ide utama yang mau disampaikan seorang penulis harus sungguh-sungguh kuat. Dalam beberapa cerpennya, penulis sungguh menunjukkan hal ini. Inilah salah satu keunggulan dari buku ini.

Di sisi lain, dalam cerpen berjudul “Impian yang Terhapus”, penulis lagi-lagi menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah diksi. “Sentuhan sepoi angin terasa begitu keras, ketika rasa cinta perlahan menguap. Bukan saatnya menakar cinta di usia yang terus merangkak menuju kematangan. Cinta bukan sekadar rasa yang akan bertahan di hati seseorang tanpa didukung faktor-faktor lainnya. Cinta membutuhkan penopang yang kuat. Kasih sayang, kesabaran, pembuktian, dan kebersamaan. Harus muncul sikap saling menghargai dan saling menyayangi. Itulah cinta yang sesungguhnya. Letak cinta bukan di raga, penampilan, atau kekayaan. Itu hanya tipuan cinta yang semu dan menjerumuskan”.

Dalam ungkapan ini, dalam hemat saya, penulis mau mengajak pembacanya untuk menyelami makna terdalam dari cinta. Cinta yang hakiki bukan soal pegangan tangan, ciuman, jalan-jalan, atau mendegarkan lagu cinta dari grup band kesukaan. Cinta membutuhkan kesanggupan untuk menyediakan diri secara utuh bagi orang lain, demikian pun sebaliknya.

Membaca lebih jauh buku “Flamboyan Senja”, banyak hal yang bisa ditimba. Meski beberapa hal seperti penghematan bahasa tentu harus diperhatikan. Ada beberapa kata yang tentu perlu dibuang karena tidak terlalu penting untuk dicantumkan. Meski begitu, penempatan diksi tepat pada posisinya sudah mampu menutupi sedikit kekurangan buku ini.

“Flamboyan Senja” bagai mata air yang pesannya tak habis ditimba pesannya. Keunggulan lain dalam buku ini adalah merangkai kalimat-kalimat yang membawa kita terbang melayang dalam khayalan, bersamaan dengan itu membuka ruang pandang agar kita melihat kenyataan yang ada dalam keseharian kita. Jika kita hendak meluangkan waktu untuk merefleksikan apa yang ada dalam khayalan dan apa yang ada dalam dunia nyata, sehingga menemukan keputusan yang tepat dalam kehidupan kita, buku ini patut menjadi acuan. Selamat menikmati dan berselancar dalam “yang ada dalam ide” dan “yang ada dalam realitas” untuk membawa kita semakin mendekati kebijaksaan.

Peresensi:
STEVE AGUSTA
Simpatisan FAM Indonesia, asal Oepoli, NTT

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...