Skip to main content

Ulasan Cerpen “Bulan Tak Jadi ke Riba” Karya Guy Le Fleur (FAMili Riau)

Seorang lelaki tua yang malang, yang harus kehilangan mata pencahariannya sebagai tukang batu karena fisik yang menua dan mata yang rusak karena debu batu. Kemalangan semakin sempurna karena istri dan anak yang meninggalkannya, dengan alasan klasik karena ia tak lagi mampu menafkahi mereka. Tinggallah ia sendiri, sebatang kara, hidup dari belas kasihan tetangga. Dia masih menikmati cahaya bulan, walau tidak menyukainya. Tapi, perlahan, cahaya itu hilang dan lelaki tua itu merasakan gelap yang sangat, ia menjadi buta.

Cerpen “Bulan Tak Jadi ke Riba” ditulis dengan apik oleh Guy Le Fleur (FAMili Riau). Penulis mampu menyajikan kalimat yang indah dari bait ke bait. Kalimat yang menceritakan tentang cahaya bulan, seperti pada alinea pertama  tulisan: “Bulan itu datang lagi. Ia menghampiri rumahku. Cahayanya menyelinap masuk di antara daun-daun yang kehitaman karena malam. Menerobos celah-celah papan rumah yang lapuk. Sinarnya menyebar ke sudut ruangan yang sempit. Menusuk permukaan papan yang datar. Membentuk garis-garis lurus seperti bayangan pelangi. Sinar bulan itu, kuat menekan dinding. Menimbulkan lubang-lubang kamuflase yang baru. Memberkaskan sebuah pesan yang maha dashyat.”

Namun ada juga ditemukan kesalahan dalam penulisan “harahiri” seharusnya ditulis “harakiri”. Selain itu, hendaknya penulis memilih judul yang lebih menarik dan berhubungan dengan isi cerita, singkat saja. Bisa diberi judul “Cahaya yang Hilang” atau lainnya. Untuk penulis, teruslah menulis agar tulisan semakin baik. Semakin sering kita menulis, maka pena juga akan semakin tajam. Tetap semangat, ya?

Salam santun, salam karya.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

BULAN TAK JADI KE RIBA

Oleh: Guy Le Fleur

Bulan itu datang lagi. Ia menghampiri rumahku. Cahayanya menyelinap masuk di antara daun-daun yang kehitaman karena malam. Menerobos celah-celah papan rumah yang lapuk. Sinarnya menyebar kesudut ruangan yang sempit. Menusuk permukaan papan yang datar. Membentuk garis-garis lurus seperti bayangan pelangi. Sinar bulan itu, kuat menekan dinding. Menimbulkan lubang-lubang kamuflase yang baru. Memberkaskan sebuah pesan yang maha dashyat.

Aku terus memperhatikan cahaya bulan yang jatuh. Mengikuti geraknya seiring hembusan angin malam yang kaku, sejuk menyentuh kulit. Pergerakkannnya terasa bergelombang di kelopak mata. Menutupi seluruh cahaya yang masuk ke mataku.  Kedatangan sinar bulan itu pada separuh malam, menimbulkan rasa benci dan dendam dalam diriku. Tidak ada seorang pun yang tahu  perasaan ini. Tak sanggup aku menjelaskan rasa ini kepada siapapun juga. Karena memang mereka tak berhak harus tahu! 

Pernyataan Dokter Ram yang masih tergiang di telinga tentang kondisi  kesehatanku, membuatku lemah tak berdaya untuk mendengar keterangannya lebih lanjut.    

“Pak! Sudah saatnya Bapak berhenti bekerja sebagai pemecah batu. Tenaga Bapak sudah tak kuat lagi untuk bekerja. Bapak membutuhkan istirahat total. Lagipula, mata Bapak  hampir  rusak akibat banyaknya debu-debu batu yang masuk ke mata tanpa Bapak sadari. Sebaiknya Bapak istirahat panjang!” demikian katanya.

Aku merasa terpukul dengan pernyataan Dokter Ram. Duniaku saat itu, seakan-akan telah menghempas seluruh badanku. Mataku menjadi gelap seketika. Mengingat inilah satu-satunya pekerjaan yang mampu aku lakukan. Pekerjaan yang telah lama menghidupi keluargaku. Banyak sekali kenangan yang kusimpan bersama pekerjaanku itu. Sangat memilukan kalau aku benar-benar kehilangan pekerjaanku ini! Demi segala yang aku pikirkan, akhirnya aku terpaksa juga meninggalkan pekerjaan itu.  Akibatnya, aku harus  kehilangan isteri  yang tercinta. Ia meninggalkanku karena sebuah alasan klasik. Aku tak mampu lagi menghidupi dirinya dan anak-anak dengan kehilangan pekerjaanku itu. Meski segala upaya untuk menahanya telah aku lakukan. Semua  ternyata sia-sia. Padahal sebelumnya kehidupan kami sangat bahagia. “nasi sudah jadi bubur”, demikian kata pepatah lama. 

  Kesehatanku mulai menurun drastis. Badanku tidak sekuat dulu. Tulang-tulang badanku sudah sangat kering. Kulitku semakin longgar dan berkedut. Otakku sudah tidak sanggup berpikir secara logis. Makin lama makin lemah. Yang bisa aku lakukan saat ini adalah meratapi nasib, dan sebuah   kematian  yang seolah-olah datang lebih cepat. 

Sudah berbagai cara aku lakukan untuk mengobati penyakit yang aku derita ini. Semampu dan sekuat aku. Sudah berbagai pelosok negeri aku datangi., Jauh maupun dekat. Dan sudah berbagai tabib aku temui, dengan berbagai jampi serapahnya yang juga telah aku pratekkan. Tapi kini, penyakit ini masih setia menungguku.  Persis bayangan sinar bulan itu. Sinar yang selalu jatuh dirumahku. Perasaan tanpa menyalahkan orang lain mungkin satu-satunya cara bagiku untuk menghiburkan diri. 

Pernah juga terlintas di benakku untuk mengakhiri hidup. Harahiri, bunuh diri ala-Jepang. Menancapkan belati tepat ditengah-tengah dada. Biarpun aku tahu itu sebuah dosa besar. Kupikir cara itu dapat menghilangkan derita yang aku rasai kini. Setelah kupikir-pikir lebih dalam lagi aku nyatanya belum siap untuk mengakhiri kematianku dengan cara yang sadis itu. Terlalu banyak hambatan bagiku untuk melakukannya. Terutama ingatanku yang tak begitu mudah untuk melupakan kenangan hidup bersama isteri dan anak-anakku. Aku masih mengharapkan kedatangan mereka sampai kini

Sejalan dengan waktu yang berpacu sangat cepat. Aku semakin tak berdaya. Kini aku hanya menunggu dan mengharapkan bantuan orang lain. Terutama masyarakat yang berada dekat tempat tinggalku. Aku hanya menunggu dan menunggu bantuan dari mereka. Sesekali aku terkadang melakukan aktivitas sebisaku. Untuk melepas rasa bosan dan rindu terhadap pekerjaan yang telah aku tinggalkan sebagai pemecah batu Terkadang aku terpaksa keluar dari sarangku. Sekaligus mencari udara segar dalam langkah tertatih-tatih dan pelan. Menyapa orang-orang yang kukenal di jalan. Menyapa mereka membuat hatiku bersemangat lagi untuk melanjuti hidupku yang semakin gersang. Penghormatan yang mereka berikan sangat tulus padaku sangat berarti buatku. Itu cukup membuatku begitu dihargai. Ada rasa bangga,. Mengingat  kini pun aku tak lagi meminta banyak lebih dari mereka berikan. Bagiku yang terpenting ialah, aku tidak menyusahkan mereka sedikit pun. Meski kini aku dalam kekurangan. 

Yah! Udahlah….! Aku tak mau terlalu lama berhalusinasi tentang ini semua. Bisa membuat pikiran dan nafasku bertambah berat. Pusing….! Hanya kepada merekalah memang harapan terakhir hidupku!

Malam ini, seperti malam sebelumnya. Bulan itu datang lagi. Datang menjengukku. Cahayanya tak segarang dulu. Agak redup dan malu-malu. Sinarnya berpencar-pencar tak penuh. Tidak ada kamuflase cahaya yang menerkam dinding rumahku. Sinar bulan yang jatuh di bola mataku, kini tak lagi mampu kurasakan. Seperti ada sebuah tanda. Sebuah perasaan akan kehilangan sesuatu. Perasaan yang selama ini memang tak kuharapkan kedatangannya. Dengan itu, aku jadi merasa bersalah pada diriku sendiri. 

“Apakah aku sudah buta ………..! Ataukah aku telah dihukum oleh bulan itu karena   kedatangannya yang selalu aku halangi !“ tanyaku dalam hati.

Aku berusaha mencari jawabannya. Kutelusuri setiap sudut rumah. Kuputar kepalaku 180 derajat. Kekiri dan kekanan. Kucari bulan itu lewat bayangan yang jatuh di setiap sudut rumah.  Aku gunakan instinkku untuk menemuinya. Di jendela, dan dinding-dinding. Meski agak ragu, sesekali kujulurkan tanganku keluar jendela agar  bisa menyingkap  dedaunan  yang  menganggu sinarnya. Walau tak kupungkiri sampai kini bahwa kehadiran bulan itu tetap tak aku terima. Tapi, aku berusaha memaksa agar cahayanya bisa kutangkap dan kuraih sehingga aku mampu mersakan keindahannya. Meski sesaat saja. Namun, itu semua sia-sia. Pandanganku terasa terhalang dan semakin samar. Warna yang kulihat semakin putih. Kini, ternyata aku gagal menikmati cahaya bulan itu. Aku benar-benar telah menjadi  buta. Buta buat selamaya. Duniaku   telah menjadi sempit dan gelap walaupun  aku  masih hidup…..!

“Ketahuilah hal-hal terindah didunia ini terkadang tak dapat terlihat dalam pandangan atau teraba dengan sentuhan, mereka hanya dapat dirasakan dengan hati….!”     

Hellen Keller (1880-1968,Seorang penulis Tuna Wicara, Netra USA)          

Bengkalis, 3 Maret 2013

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...