Judul
Buku: Kumpulan puisi
Penulis:
Denni Meilizon
Penerbit:
FAM Publishing
Cetakan:
I, November 2012
Tebal:
xviii + 116 halaman
Harga:
Rp. 38.500,-
ISBN:
978-602-18971-7-1
Berdakwah
tidak harus dilakukan oleh seorang ustad, kiyai, ataupun ulama, juga tidak
melulu harus dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadist. Cukup dengan imajinasi
yang tinggi lalu menuliskan imajinasi itu menjadi puisi sederhana namun sarat
akan makna. Dengan begitu kita sudah bisa berdakwah melalui tulisan. Seperti
halnya Denni Meilizon yang menyuguhkan tulisan indahnya dalam buku “Kidung
Pengelana Hujan” yang isinya kumpulan puisi yang sarat akan makna keislamannya.
Di
dalam buku ini penulis menjelaskan lebih jauh tentang hubungan makluk dengan
penciptanya, juga hubungan makhluk dengan makhluk lainnya. Seperti dalam puisi
yang berjudul “Memeluk Takdir”, di mana sang penulis berharap kepada Sang
Pencipta (Allah SWT) agar ia dapat menerima takdir yang sudah digariskan dan
bisa menghargai dirinya sendiri. Penulis juga menggambarkan secara jelas
tentang hubungan makhluk dengan makhluk lainnya, seperti dalam puisi yang
berjudul “Aku dan Kamu”, di mana sang penulis mengajak kekasihnya untuk selalu
bersama dalam keadaan senang maupun susah. Karena memang begitulah hidup, harus
ada keharmonisan antara Pencipta dengan ciptaanNya dan antara sesama makhluk
ciptaan. Selain dua hal di atas, penulis juga menceritakan liku kehidupan
pribadinya melalui beberapa puisi yang lain. Seperti pada puisi yang berjudul
“Aku dan Surga Itu” penulis menceritakan kesedihan yang teramat sangat ketika
ditinggal dua orang perempuan yang ia sebut sebagai pemilik surga, yakni ibu
dan ibu mertuanya. Jadi, ketika kita selesai membaca buku “Kidung Pengelana
Hujan”, kita akan tahu bagaimana hidup yang benar-benar hidup sekaligus
menyelami kehidupan pribadi sang penulis.
Sepertinya
sang penulis dalam memainkan kata-kata tidak diragukan lagi, terbukti dari
tulisan-tulisannya yang menggunakan bahasa diksi dan sedikit sulit dipahami,
hingga membuat siapa saja yang membacanya terus meraba-raba arti dari bait demi
bait yang tertoreh dalam puisi-puisi tersebut. Meskipun saya menemukan ada
beberapa kesalahan dalam penulisan kata baik dalam isi maupun judul. Seperti
penulisan judul yang menggunakan huruf kapital seluruhnya juga dalam penulisan
kata sambung atau penghubung dan kata depan pada beberapa judul yang tidak
sesuai dengan EYD. Salah satu contoh penulisan judul dan penggunaan kata
sambung yang tidak sesuai adalah judul puisi “AKU DAN SURGA ITU” yang harusnya
ditulis “Aku Dan Surga Itu” lalu diubah lagi menjadi “Aku dan Surga Itu”.
Karena kata “dan” merupakan kata sambung yang harus ditulis menggunakan huruf
kecil meskipun dalam judul. Juga dalam judul lain “EMBUN DIATAS KACA” yang
harusnya ditulis “Embun di Atas Kaca”. Karena kata “di” merupakan kata depan
yang juga harus ditulis menggunakan huruf kecil meskipun dalam judul. Juga
masih ditemukan kesalahan yang sama pada beberapa judul yang menggunakan kata
sambung atau penghubung dan kata depan.
Lain
halnya dengan kesalahan pada judul yang terjadi dalam penulisan dan penggunaan
kata sambung dan kata depan, pada isi saya menemukan beberapa kesalahan dalam
penggunaan tanda baca. Semisal dalam bait “Kawan, ingatkah kalian saat kampung
kecil itu teramat sempit bagi kita” dalam puisi yang berjudul “Kawan, Ternyata
Dunia Tidak Seperti yang Kita Kira” yang seharusnya diberi tanda baca berupa
tanda tanya (?) pada akhir kalimat, karena kalimat tersebut merupakan sebuah
kalimat pertanyaan dikarenakan adanya kata “ingatkah”. Kesalahan yang sama juga
saya temukan pada kalimat “Jadi kenapa kita mendikte cinta mesti menuruti
maunya kita” dalam puisi yang berjudul “Ku Defenisikan Cinta”.
Kesalahan
lain juga saya temukan pada nomor halaman sebuah puisi di daftar isi tidak
sesuai dengan tata letak puisi tersebut, bahkan seluruhnya. Kesalahan ini
bermula dari puisi ketiga yang berjudul “Tulang Rusukku”. Di mana dalam daftar
isi nomor halaman yang tertera adalah nomor 8, sedangkan yang benar adalah
nomor 7 begitu seterusnya hingga sampai pada puisi terakhir. Bahkan dalam
daftar isi nomor halaman yang tertera sampai 116, sedangkan yang benar hanya sampai
112. Dan catatan “Tentang Penulis” terdapat pada halaman 114 bukan 118. Memang
ini kesalahan sepele, namun ketika pembaca ingin membaca puisi dengan judul
tertentu dan mencarinya pada daftar isi, tapi ketika dilihat pada halaman yang
nomornya tertera pada daftar isi dan tidak menemukan puisi tersebut, maka
pembaca mengira bahwa puisi tersebut tidak ada. Padahal terdapat pada halaman
sebelumnya atau sesudahnya. Dan inilah alasan saya menulis jumlah halamannya
adalah xviii + 116, bukan xviii + 120. Karena setelah saya hitung ulang pun
hasilnya 116.
Satu
masalah lagi saya temukan pada tulisan di bagian belakang cover yang kurang
jelas dibaca terutama nomor ISBN dan alamat penerbit yang sama sekali tidak
bisa dibaca, juga plastik tipis yang membalut cover mudah mengelupas. Namun,
terlepas dari semua itu buku “Kidung Pengelana Hujan” masih sempurna dalam
penyampain makna-makna yang terkandung dalam setiap baitnya. Yang bisa membuat
pembaca ikut terhanyut dalam imajinasi sang penulis. Jadi, apa kalian harus
berpikir dua kali untuk membeli buku ini? Saya rasa tidak!
Peresensi:
ROHYULI
FAM1603U,
Serang

Comments
Post a Comment