Skip to main content

Yurnaldi, Mpek-Mpek, dan Buku

Harian Singgalang, Minggu (30/11/2014)
Oleh Muhammad Subhan
Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

Suatu hari, saya menumpang bermalam di rumah Yurnaldi, mantan wartawan Kompas yang urang awak. Secara kebetulan, saya bersama beliau mendapat amanah sebagai anggota Dewan Perpustakaan Provinsi Sumatra Barat Masa Bakti 2014-2017. Besoknya, kami bersama anggota lainnya, dilantik gubernur Sumatra Barat di gedung baru Perpustakaan Daerah, di Jalan Diponegoro, Padang. Kami pergi bareng, diantar istri beliau, Yuk Lina yang ramah.

Malam itu, kami berdiskusi seputar jurnalistik, sastra dan buku. Beliau banyak berbagi pengalaman kepada saya, terutama pengalamannya ketika masih bekerja sebagai wartawan dan redaktur Kompas. Sekitar tahun 2003-2004, di saat saya masih bekerja di sebuah koran harian di Padang, kami sering berjumpa di lapangan dalam tugas-tugas meliput berita. Setelah itu, beliau ditarik ke Jakarta, dan komunikasi di antara kami terputus.

Tetapi, setahun terakhir, Uda Nal—demikian akrab saya sapa—pulang kampung dan mengabdikan dirinya di Sumatra Barat. Dia telah berhenti bekerja di Kompas dengan alasan idealisme dan ‘harga diri’. Ia memutuskan membangun kampung, lewat gerakan literasi yang dibangunnya sendiri, lewat buku-buku yang ditulisnya. Pengalamannya bekerja di Kompas melahirkan buku Jurnalisme Kompas yang menjadi panduan di kelas-kelas jurnalistik, terutama di perguruan tinggi.

Mpek-Mpek

Satu hal yang menarik dari sosok Yurnaldi, adalah sikap tidak diamnya terhadap keadaan. Di jejaring sosial facebook, suatu hari, saya melihat banyak postingan tulisan dan foto beberapa temannya sesama penulis dan wartawan yang sedang makan Mpek-Mpek khas Palembang rasa Padang. Tampak nikmat sekali. Istri beliau, Yuk Lina, asal Palembang, ternyata mahir membuat Mpek-Mpek. Keterampilan itu menjadi peluang bisnis yang ternyata memiliki prospek cerah dan mendapat sambutan luas berbagai pihak.

Malam itu di rumah beliau, saya ikut menikmati hidangan Mpek-Mpek buatan Yuk Lina. Betul-betul nikmat rasanya. Seingat saya, baru dua kali saya makan Mpek-Mpek, pertama di saat tugas jurnalistik di Palembang sekitar tahun 2005, dan kedua di rumah Yurnaldi. Paginya, saya melihat langsung bagaimana Yuk Lina mengolah Mpek-Mpek itu. Sempat saya tanya, mengapa tidak dibisniskan saja secara massal, namun beliau jawab dengan nada merendah, hanya sekadar menyalurkan hobi memasak dan untuk menyambut kawan-kawan yang datang ke rumah. Satu-dua ada kawan yang memesan, dicoba untuk dibuat dan dipaketkan ke alamat tujuan.

Di hari yang lain, saya membaca berita di koran, “Pengantar Mpek-Mpek Itu Dipercaya Jadi Komisioner Komisi Informasi”. Benar, Yurnaldi yang mendaulat dirinya sebagai “pengantar” Mpek-Mpek itu, dipercaya menjadi anggota KI, setelah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPRD Sumatra Barat. Ia mendapat amanah mendorong pemerintahan yang bersih, mengoptimalkan pengawasan publik, mengembangkan masyarakat informasi, dan memperjuangkan keterbukaan informasi publik. Jabatan baru itu mengantarnya menjadi salah seorang yang memiliki posisi penting di Sumatra Barat. Tak lama setelah itu, beliau menjadi anggota Dewan Perpustakaan Daerah Sumatra Barat, namun tetap tidak melepaskan kebiasaan menulis dan mempromosikan Mpek-Mpek ‘Lamak Bana’ buatan Yuk Lina, istrinya tercinta.

Bergelut dengan Buku

Seusai berdiskusi tentang banyak hal di rumah beliau, malam itu saya diantar ke kamar lantai atas rumahnya. Yang membuat saya takjub, di setiap anak tangga menuju lantai atas itu, penuh dengan jejeran buku yang disusun rapi. Setiap melangkah terlihat buku dengan judul-judulnya yang menggoda mata hendak dibaca. Beliau mengatakan, banyak buku-buku yang menumpuk dan kekurangan tempat. Dengan sedikit kreativitas, tumpukan-tumpukan buku itu terurai, salah satunya memanfaatkan ruang-ruang kosong, di antaranya anak tangga. Kreatif sekali.

Bergelut dengan buku tentu sudah lama dilakoni alumni Universitas Negeri Padang (UNP) ini. Bukan saja membaca dan mengoleksi buku, tetapi baginya karir tertinggi seorang wartawan adalah kemampuan menulis buku. Dia sering mengutip pesan bijak Jakob Oetama, “buku adalah mahkota wartawan”. Artinya, kehebatan seorang wartawan tidak hanya sekadar menulis berita, menulis feature, atau menulis kolom dan artikel di media, tetapi juga mampu menulis buku.

Memang, sebelum bergabung dengan Kompas, Yurnaldi telah banyak menulis buku. Hebatnya, dua buku tentang jurnalistik ia tulis ketika ia masih aktif sebagai mahasiswa di UNP, yang kemudian menjadi modal utama baginya untuk melamar dan bergabung di Kompas, sebuah koran terkemuka Indonesia. Kompas, akunya, memang telah menjadi target ketika ia masih mahasiswa. Banyak dosen, hingga rektor di masa itu, menilai dirinya sangat layak bekerja di Kompas. Setelah dia benar-benar bekerja di Kompas, ia tidak pernah melupakan kampung halaman, sebab banyak tulisan dan berita daerah ini yang diangkatnya menjadi isu nasional yang tentu saja berdampak baik bagi kemajuan daerah sebab menjadi perhatian pusat.

Soal buku juga, Yurnaldi adalah mahasiswa pertama di Sumatra Barat yang menulis dua buku ketika masih berstatus mahasiswa. Buku yang ditulisnya ketika itu adalah “Kiat Praktis Jurnalistik” dan “Jurnalistik Siap Pakai”. Buku tersebut hingga kini mengalami cetak ulang dan menjadi referensi mahasiswa komunikasi. Begitupun, sejak mahasiswa, tahun 1986, di samping menulis artikel di banyak media massa, ia juga menulis karya jurnalistik. Dunia kewartawanan ditekuninya sejak 27 tahun lalu, di mana 19 tahun bergabung di Kompas. Dia juga salah seorang pendiri (dan pencipta logo) Forum Wartawan Peduli Aset Daerah Sumatra Barat, Padang Press Club (PPC), dan Forum Wartawan Peduli Pariwisata Sumatra.

Sebagai wartawan profesional, Yurnaldi telah melatih ribuan calon wartawan, wartawan, staf/kepala kehumasan, serta siswa dan mahasiswa peminat bidang jurnalistik. Buku-buku jurnalistiknya laris dan menjadi referensi, antara lain “Kiat Praktis Jurnalistik” (1992, 2007), “Jurnalistik Siap Pakai” (1992, 2007), “Menjadi Wartawan Hebat” (2004, 2008), “Menjadi Kaya dengan Foto” (2001, 2009), juga belasan buku-buku lain, baik yang ditulis sendiri maupun terhimpun dalam berbagai buku yang ditulis bersama wartawan Kompas dan wartawan media cetak lain. Beberapa kali karyanya memenangkan lomba karya jurnalistik dan juara mengarang tingkat nasional. Karya jurnalistiknya tentang PLN pernah mendapat penghargaan dari Menteri Pertambangan dan Energi. Tanggal 3 Maret 2009, karya jurnalistiknya tentang gizi/kesehatan yang dimuat di Kompas.com, memperoleh penghargaan terbaik dari PT Nestle Indonesia.

Selama di Kompas, Yurnaldi pernah bertugas dalam hitungan tahun di Bandarlampung (Lampung), Palembang (Sumatra Selatan), dan Padang (Sumatra Barat). Selain itu mendapat kesempatan bertugas di sejumlah kota di Indonesia dan luar negeri, seperti Republik Namibia, Republik Afrika Selatan, Botswana, Inggris, Singapura, Malaysia, Thailand. Bersama Sastrawan Hamsad Rangkuti, ia diundang mengikuti Pertemuan Penulis Dunia dan London Book Fair 2004.

Di luar profesi wartawan, Yurnaldi juga dikenal sebagai sastrawan dan penyair Indonesia. Antologi puisi tunggalnya yang telah terbit “Berita Kepada Ibu” (1992). Puisinya pernah masuk nominasi terbaik lomba cipta puisi tingkat Sumatra Barat tahun 1994, dan pemenang lomba cipta puisi sosial tingkat nasional di Banda Aceh tahun 1996.

Puisi-puisinya selain dimuat di berbagai media massa nasional, juga terhimpun dalam antologi bersama penyair Indonesia lain, yakni “Rantak 8: Antologi Puisi Penyair dari Sumatra Barat” (1991), “Taraju ‘93: Kumpulan Puisi Indonesia Sumatra Barat” (1993), “Antologi Puisi Rumpun” (1992), “Puisi 1999 Sumatra Barat” (1999), “Parade Sajak-Sajak Indonesia” (1994), “Puisi 50 Tahun Indonesia Merdeka” (1995), dan “Kumpulan Puisi Jalan Bersama” (2008). Sebagai penyair ia sering dipercaya menjadi juri lomba cipta puisi dan lomba baca puisi. Ia juga salah seorang juri pemberian nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Pariaman. Sering juga diundang membaca puisi di berbagai kota, di antaranya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dalam acara “Baca Puisi Jalan Bersama” yang digelar Yayasan Panggung Melayu, 30 November 2008 dan dalam “Panggung Revitalisasi Budaya Melayu”, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Desember 2008.

Namanya juga tercantum dalam “Leksikon Susastra Indonesia” (Penyusun Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pusataka, 2000). Pernah juga menjadi redaktur tamu dan memberikan catatan apresiatif puisi di harian Haluan, Padang, selama satu tahun. Selain dikenal sebagai penyair, Yurnaldi juga dikenal sebagai seniman: sebagai pelukis, kaligrafer, fotografer dengan berpameran beberapa kali dan meraih sejumlah prestasi. Beberapa kali juara dan jadi juri lomba foto. Juga juara dan juri lomba karikatur tingkat nasional. Di samping itu, dia juga mantan Pengurus Harian Dewan Kesenian Sumatra Barat (periode 2005-2007), Koordinator Penggiat Sastra Padang, Pemimpin Produksi Teater Noktah Padang yang telah mementaskan lebih 20 kali naskah teater dengan sutradara Suhendri dan Lilik.

Membaca sosok Yurnaldi hari ini, seolah tidak akan habis-habisnya, sebanyak membaca tumpukan buku di rumahnya, yang membutuhkan waktu untuk ‘dikunyah-kunyah’. Wartawan dan penulis-penulis muda layak berguru kepada beliau yang tidak pernah pelit ilmu dan selalu rendah hati. Pintu rumahnya terbuka bagi siapa saja, terutama yang ingin berenang di lautan ilmu yang tak pernah kering, sebab seperti ia katakan kepada saya, “mengajar hakikatnya belajar”. Ibarat air, jika dialirkan, air akan bening, Begitu pula ilmu, jika dibagi dengan kerendahan hati, manfaatnya akan terasa bagi banyak orang. (*)

Diterbitkan di:
HARIAN SINGGALANG EDISI MINGGU, 30 NOVEMBER 2014

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...