Skip to main content

Memotret Wajah Indonesia

Singgalang, 27 September 2015
Judul: Senyum Nolina
Penulis: Dedi Saeful Anwar
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penerbit: FAM Publishing
Halaman: 131 hlm; 13x20 cm
ISBN: 978-602-7956-48-3

Sebelum berangkat ke sekolah sudah menjadi rutinitasnya menitipkan bala-bala, gehu, cireng, dan comro di warung-warung di sekitar kampungnya. Sekadar untuk menyambung hidup (Piagam untuk Emak, hlm. 15-16).

Menulis dan mengisahkan sebuah cerita ternyata bukan sekadar perihal menyajikan suatu kejadian, suatu cuplikan, yang semuanya bermula dari ide dan diksi yang dikemas sedemikian elok dan indah. Menulis cerita ternyata memberi ruang kepada diri untuk mengamati semesta, tingkah laku perangai manusia, mengamati esensi hidup, misteri mati, dan banyak hal-hal besar lainnya, atau mengamati diri, hingga jauh ke dalam jiwa, dan hal-hal kecil lainnya. Menulis memberi ruang untuk merenung, berpikir, dan meramu pengamatan-pengamatan menjadi sedemikian bermakna dan memberi makna–walau tidak dengan bahasa yang langsung.

Begitulah yang dilakukan oleh Dedi Saeful Anwar. Ia memotret wajah negeri ini, lalu mengabadikannya dalam kata demi kata yang ia tata dengan baik, penuh pesan, penuh empati, simpati. Entah itu masalah kemiskinan, atau getirnya perjuangan hidup. Entah pula itu perihal carut-marut sosial ekonomi, atau gigih membangun bisnis sendiri. Entah itu potret buram wajah pendidikan, atau persoalan remaja, segala bentuk rupa negeri ini penulis benamkan dan semayamkan dalam Senyum Nolina, salah satu judul cerpen dari 12 cerpen yang dijadikan sebagai judul kumpulan cerpen ini.

Pada Impian Azizah misalnya, penulis memotret kerasnya kehidupan para TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri, juga getirnya kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Juga pada Daun Kering, kisah tentang Nyai seorang istri tukang jahit yang tergiur untuk bekerja di Timur Tengah, lantaran melihat penampilan mentereng tetangga yang pulang dari sana. Lalu berimbas dengan peristiwa Nyai mengalami penipuan, hingga luka-luka. Betapa kehidupan nyata mengandung sedemikian banyak kegetiran, kepedihan, cobaan, juga ujian, namun di akhir kisah selalu tokoh cerita diberi pilihan, entah itu memilih bangkit, menghadapi kegetiran demi kegetiran itu, menghadang kepedihan demi kepedihan dengan jiwa besar dan hati lapang, entah pula pada akhirnya menyesali setiap keputusan yang diambil. Hal yang nyata, riil, penulis paparkan dengan apa adanya, menengokkan kepada kita potret-potret wajah anak negeri, entah itu anak-anak remaja usia sekolahan yang berjuang gigih dalam susahnya hidup, atau anak lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga, entah pula perempuan tua dengan anak yang masih belia sementara suami telah tiada. Semuanya adalah potret kehidupan nyata kita.

“Mau dari mana kamu membiayai dua adikmu itu kuliah? Sementara kamu sendiri berhenti di tengah jalan. Mau dari mana, Nak?” pertanyaan Ibu getir meluncur. Sebuah cuplikan dialog dalam  Donat Kentang (hlm. 29). Hal sederhana yang nyatanya sangat dekat dengan nadi kita. Setiap perjuangan, kepedihan, dan kegetiran itu penulis pungut dari jalan-jalan setapak, dari gubuk-gubuk di desa hingga hiruk pikuk Ibukota, dari kegagalan yang satu ke kegagalan yang lain, lalu ia potret dan abadikan satu persatu. Seperti seorang gadis kecil berkebutuhan khusus seperti Nolina yang berkat keyakinannya dan juga sang guru, ia bisa ikut serta dalam penampilan Tari Piring di acara perpisahan sekolah, hal yang semula diragukan banyak orang. Ini dikisahkan dalam Senyum Nolina (hlm. 96).

Begitu juga dalam Spidol Jamil, ada semangat juang yang dipaparkan melalui tokoh cerita yang masih anak-anak, yang berjuang berprestasi, mengerahkan segala kemampuan untuk membahagiakan keluarga. Begitu juga dalam Hangat Mentari dalam Rinai. Ada watak tokoh yang begitu kuat terasa. Potret bocah kelas empat SD bernama Iman yang giat bekerja menyemir sepatu di terminal dekat sekolahnya, profesi yang sudah ia lakoni sejak kelas satu. Hal serupa akan ditemukan juga dalam Piagam untuk Emak. Perjuangan bocah-bocah generasi muda bangsa dalam hidup. Kita tidak disajikan cerita yang muluk-muluk, atau hal-hal yang terlampau besar dari diri kita sendiri, namun kita disajikan dengan hal–yang kita anggap–remeh yang barangkali kerap kita abaikan, hal sederhana yang melekat dalam hidup, yang akan kita dapati di mana pun mata kita melihat. Pengakuan penulis bahwa cerpen-cerpen ini lahir lantaran terinspirasi dari kisah nyata menjadi bukti yang kuat, bahwa memang penulis memotret wajah Indonesia, lalu menyemayamkannya dengan baik ke dalam raga tulisannya, hingga bernyawa dan hidup.

Jufri, Nyai, dan ketiga anaknya berusaha mengubur dalam-dalam kegetiran hidup yang penuh mimpi. Mereka memandang esok hari dengan penuh pengharapan baru, seraya tak lepas mengucap tasbih. Mereka bersyukur kepada ilahi Rabbi. Berharap pelangi tidak cepat pergi (Daun Kering, hlm. 125) demikian penulis mengkhatimahi kumpulan cerpen ini.[]

Peresensi: Yusrina Sri, bergiat di Rumahkayu Indonesia.

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...