![]() |
| NET |
Kehidupan jalanan tergambar lewat pilihan diksi sederhana, namun tajam dan lugas. Penulis dinilai cukup baik dalam mengolah setiap baris puisinya sehingga kedalaman makna tercipta tidak sekadar lewat diksi-diksi yang "wah", melainkan "tepat sasaran". Seakan-akan rutinitas metropolitan yang kejam bagi penghuni jalanan tersaji di depan pembaca. Seakan-akan hidup yang pahit merupa dalam susunan aksara di setiap baitnya.
Pada bait pertama kita melihat seolah penjaja koran berjuang dalam persaingan sengit kota besar. Bait berikutnya memperkuat kesan derita yang dijalani dengan tabah. "Berat berpisah dengan lima ribuku", tetapi memang harus terjadi karena ia tidak boleh mati. Bait-bait berikutnya menggambarkan rutinitas pahit seorang jalanan. Sebuah rutinitas yang sulit, namun terus dijalani dengan tabah. Tak peduli meski baik atau buruk yang kelak dipetik.
Puisi ini dari segi rasa, sangat kuat. Namun pesan yang tersirat seakan menunjukkan kepasrahan total, meski tiada henti berjuang. Apakah itu siratan pesimisme? Ataukah sekadar sindiran semata agar kita tetap tegak berdiri apa pun kondisinya? Sebab pada akhirnya Tuhanlah yang tentukan?
Ada beberapa koreksi EYD. Kata "gohet" tidak ditemukan dalam KBBI. Begitupun "daari"—yang mungkin saja maksud penulis adalah "dari". Namun bagaimanapun, kekurangan bisa diminimalkan (atau dihilangkan) dengan mengoreksi tulisan-tulisan terbaru ke depan sebelum dipublikasikan. Saran untuk penulis, terus pertajam pena Anda. Kekhasan telah nampak. Tetap tebarkan nilai-nilai positif lewat pilihan diksi yang tajam.
Salam santun, salam karya!
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT NASKAH ASLI TANPA EDITING]
Aku malam aku siang
Oleh Destriyadi (IDFAM3445M)
Aduh, tatap dengan metropolitan
Siangku koran pergi dengan sesama
Gohet sepeda roda berliku
Uuh, berlomba menjadi pemenang dengan keringat
Lepas penat memakan nasi
Berat berpisah dengan lima ribu-ku
Jadilah, segitiga tempe kuah sayur keringat
Sambil mentari mengejek muka
Aaahh, tenang kian akhir lagi
Cukup setengah malam berada
Daari bantu mandikan piringnya
Bersih, kotor, bersih, dan lagi
Hai malam, hai siang, kau sahabatku kan ?
Selalu akrab mengintip aku
Air mata, keringat senyum, ada di bisumu
Kau saksi, aku dakwa, salam mimpi

Comments
Post a Comment