Cerpen berjudul “Penumpang-Penumpang” ini bercerita tentang
seorang bapak yang baru saja ditinggal bunuh diri istrinya karena masalah
ekonomi. Setelah 3 bulan kematian istrinya, ia berniat menjual anaknya karena
alasan yang sama, Maka ia melakukan perjalanan menuju rumah seorang makelar
anak bernama Aminah untuk melakukan transaksi.
Dalam perjalanan ia naik angkot yang supirnya mengalami
nasib yang sama, yaitu dijerat kemiskinan. Karena suatu hal, lelaki ini cekcok
dengan sopir angkot yang berujung tewasnya kedua orang tersebut. Anak-anak yang
hendak dijual lari ketakutan hingga akhirnya meninggal karena kelaparan.
Penulis cukup pintar dalam membuat deskripsi cerita. Ini
membuat pembaca seolah-olah melihat langsung adegan yang terjadi. Gambaran yang
seakan nyata membuat pembaca mudah membayangkan seperti apa kejadian
sebenarnya.
Teknik penulisan dan alur cerita juga cukup bagus. Hal ini
membuat pembaca betah dan penasaran mengetahui kelanjutan setiap kalimatnya.
Satu poin lagi yang bagus adalah kalimat pembuka. Penulis pintar memilih scene pembuka yang membuat pembaca
langsung dalam kondisi “on” untuk terus menikmati isi cerita.
Catatan dari FAM untuk cerpen ini adalah soal judul dan EYD.
Entah kenapa, FAM merasa judul yang digunakan kurang ‘eye catching’. Mungkin bisa diganti dengan “Angkot Berdarah” yang
membuat orang bisa langsung penasaran mengetahui isinya saat membaca judulnya. Sedangkan
untuk EYD, ada beberapa cara penulisan yang harus diperbaiki seperti penulisan
kata “di” yang seharusnya dipisah ketika diikuti kata tempat. Begitupun
penulisan tanda petik dua ( “ ) sebagai pembuka dialog, terlalu berjarak dari
kalimat dialog, seharusnya dirapatkan. Bahkan ada dialog yang menggunakan tanda
petik satu ( ‘ ) yang seharusnya tanda petik dua ( “ ). Sebagai contoh dialog
berikut (lihat tanda petiknya):
‘ Aku jelas telat. Moga-moga Aminah masih menungguku,’ harap
cemas lelaki hitam itu…
FAM menganjurkan, lakukan kembali editing sebaik mungkin.
Tidak cukup sekali membaca ulang, bila perlu berkali-kali sehingga benar-benar
tidak ada terjadi kesalahan ketik. Sebab, sebagus apapun isi cerpen bila teknik
pengetikannya salah, maka cerita itu akan menjadi rusak. Sayang kan?
Overall, secara
keseluruhan cerpen ini bagus. FAM berharap penulis terus berlatih agat kualitas
tulisan semakin bagus lagi.
Semangat berkarya!
Salam Aishiteru
TIM FAM INDONESIA
BERIKUT CERPEN “PENUMPANG-PENUMPANG” DIPOSTING SEBAGAIMANA
NASKAH ASLI (TANPA EDITING):
Oleh Retna Kusumawati
Duda beranak dua itu
membasuh peluhnya dengan cemas.
Di kanan kiri duduk
terkantuk-kantuk anak-anaknya.
Angkot masih ngetem lama di terminal
gelap. Berkali-kali dia melihat jam
tangannya. Sang sopir tertidur di
atas setir mobilnya. Siang terik tak
bersahabat sedikitpun dengan keadaan hatinya. Sangat kerontang sekering hati. Kedua pria itu sama letihnya. Letih
dengan penderitaan ekonomi.
‘ Aku jelas telat. Moga-moga Aminah masih menungguku,’ harap
cemas lelaki hitam itu.
Di elusnya rambut anak-anaknya. Rambut kusam tak terurus. Sejak
kematian ibu mereka
karena deraan ekonomi. Istri
lelaki itu bunuh diri dengan minum
cairan pembasmi serangga. Gara-gara tak bisa berbuat apa-apa,
melihat anak-anaknya meraung-raung
kelaparan. Saat itu lelaki berusia tigapuluhan tahun
itu sedang berjuang, mencari
pekerjaan di kota besar. Tak bisa mencegah
tindakan nekad istrinya.
“ Hey, tarik-tarik! Molor
melulu, mau dapat duit nggak Lu!” teriak pencatat waktu diterminal gelap
itu.
Sopir geragapan, diraihnya handuk di leher. Dengan umpatan
pelan dia tarik gigi angkot. Pelan-pelan sopir mulai menjalankan angkot.
Penumpangnya hanya bapak beranak dua itu. Jalanan sepi tersiram terik mentari.
membuat orang malas untuk keluar rumah.
Jika tak ada hal mendesak duda itu juga tak mau
keluar rumah. Tapi hari ini dia punya keperluan yang sangat
penting. Mau tak mau dia harus berpanas-panas ria.
“ Bapak, aku lapar,” rengek si anak kecil.
“ Aku juga. Haus Pak.” Sambung sang kakak.
“ Ya, ya. Nanti kalau sampai tujuan kita beli makanan dan
minuman yang kalian inginkan. Sabar dulu ya. Bang, nggak bisa cepat sedikit
jalannya?” si bapak bertanya.
Sopir menguap lebar, matanya masih merah. Tanda kantuk masih
terlihat.
“ Pelan-pelan Pak. Sambil
nunggu penumpang lain. Dunia belum mau kiamat ini. Sabar
saja.” Ucapnya sinis.
“ Tolong Bang. Saya ada janji dengan
seseorang untuk mengantar anak-anak ini.” Rajuk si duda.
Sopir angkot menyeringai. Tak jelas arti seringainya.
Mungkin karena masih menyimpan sisa kantuknya atau lapar yang melilit perut.
“ Enak saja ngatur-atur gue. Lu berani bayar berapa? Ini
bukan taksi tahu!” kata sopir agak membentak.
Dia letih, letih menunggu penumpang. Setiap harinya
jumlah penumpang di rasa kian menyusut. Mana trayek yang dia tempuh bukan trayek resmi.
Sopir itu bikin
jalur sendiri. Dengan resiko ketahuan sopir angkot trayek resmi,
penumpang tak menentu bahkan kadang tak ada hasil sedikitpun.
Duda itu terdiam. Hatinya mulai
menimbang-nimbang. Mungkinkah apa yang akan dilakukannya tidak di ridhoi
Tuhan. Sebab sejak keberangkatan mereka dari rumah, ada saja hal-hal yang tak
diinginkan terjadi. Kunci yang terselip, sandal jepit anak bungsunya
putus, lupa mematikan kompor.
Hal-hal yang bikin senewen duda itu. Juga ketakutan-ketakutan yang lain.
‘ Ini hanya perasaanku saja. Moga-moga bukan sial yang kuperoleh. Aku harap apa yang
kulakukan ini adalah jalan terbaik bagi anak-anakku.’ Doa lelaki duda itu dalam diam.
Sopir sekarang berhenti, dari ujung sebuah gang
berbondong-bondong anak-anak muda. Tampak seperti habis keluar dari tempat kursus. Berceloteh
dengan riang seolah dunia selalu indah.
Anak-anak muda itu berisik, satu persatu
masuk ke angkot yang hanya muat
untuk tigabelas penumpang. Itupun di paksakan. Sopir yang sepertinya
merindukan dapat penumpang banyak itu
mulai tamak. Keenambelas anak muda itu hendak
di angkutnya sekaligus. Hal
yang jelas tidak
memungkinkan. Apalagi di dalam angkot sudah ada seorang duda berikut
dengan anaknya
“ Pak, anaknya dipangku saja. Biar muat. Kasihan mereka
kalau harus menunggu angkot lagi. Ayo, Pak! Geser kanan sedikit!.” Perintah
sopir mulai rakus. Terbayang
lembaran-lembaran rupiah yang di carinya hari ini lumayan banyak.
Duda itu kembali mengelus rambutnya yang mulai beruban.
Keringat mengucur deras. Takut
mengecewakan seseorang yang
tengah menunggunya. Duda itu muak
dengan sikap sopir. Dia mulai berontak. Di tatapnya sopir dengan dingin.
“ Hey, Bang kira-kira dong. Angkot sekecil ini mana muat
untuk duapuluh orang.”
Sopir terbeliak
demi mendengar lelaki itu berteriak. Dia
tak pernah menerima bentakan dari para penumpangnya.
“ Apa mau lu? Nantang
lu. Ini angkot, angkot gue. Kalau lu nggak mau naik angkot gue, keluar sana!” balas sopir.
Duda itu meradang, dia sudah ikut ngetem angkot itu
selama dua jam. Ikut
menunggu penumpang-penumpang lain
di terminal gelap. Sekarang, begitu bertemu dengan rombongan penumpang lain,
dengan seenaknya sopir itu mengusirnya? Belum cukupkah kesabarannya diuji kini?
“ He, Bang! Jangan
mentang-mentang ya. Tadi memohon-mohon agar saya mau naik angkot Abang. Sekarang Abang
mengusir saya. Sopir macam apa Abang ini!” semprot laki-laki itu dengan nada tinggi.
Sopir keluar dari angkot. Berjalan ke arah belakang. Menuju laki-laki beranak dua itu.
“ Turun lu, kita selesaikan ini di luar secara laki-laki!”
sopir itu seolah menantang.
Habis kesabarannya, demi di
ingatkan sikapnya yang tadi memohon-mohon
kepada penumpang pertamanya hari ini. Duda itu keluar sekalian dengan
anaknya.
“ Saya turun saja!
Saya nggak mengancam, tetapi lihat saja. Angkot ini takkan pernah
sampai tujuannya. Ayo Nak, kita
cari angkot lain!” duda itu menyeret kedua anaknya.
Menjauhi angkot dan para penumpang yang terbengong-bengong
dengan kejadian itu.
Sopir menyuruh
masuk keenam belas anak muda itu.
Menjalankan angkot dengan ketegangan.
Keenambelas penumpangnya juga terdiam. Hening dalam sesaknya angkutan
perkotaan yang terseok-seok meniti jalanan berdebu yang
ranggas. Berlobang sana sini,
ada genangan air, ditambah tuanya
usia angkot tersebut. Membuat keheningan yang mencekam di angkot tersebut
Belum ada satu kilometer, tiba-tiba sopir itu mendadak
menghentikan angkotnya. Dengan sedikit kecewa dia menyilakan penumpangnya
turun. Keenambelas penumpang itu turun dengan menggerutu. Segala bentuk omongan
mereka tak digubris
sang sopir. Meski begitu keenambelas anak muda itu memberikan uang
masing-masing seribu rupiah.
Sekedar bentuk terimakasih daripada harus jalan satu kilometer di terik mentari begini.
“ Dengar, saya mau
membereskan laki-laki tadi. Dia sudah mendoakan saya tak sampai tujuan. Saya juga
akan membuatnya tidak sampai pada
tujuannya. Maaf mengganggu perjalanan
kalian.” Katanya penuh misteri.
Keenambelas penumpang
itu tercekat. Ada nada dendam dalam kalimat sopir itu. Kata membereskan
berarti menghilangkan nyawa laki-laki dua anak tadi. Membuat anak muda
yang sebagaian perempuan
itu bergidik ngeri. Tak
melanjutkan umpatan kemarahan pada sopir angkot itu. Mereka keluar dengan
teratur. Berdiri berjajar di tepi jalan, menatap angkot yang
tergesa-gesa berlalu dari hadapan
mereka.
Angkot itu berlalu secepat kilat, menghilang dari pandangan.
Meninggalkan debu-debu beterbangan. Menyadarkan
keenam belas anak muda itu.
“ Apa yang akan terjadi? Kenapa kita tidak mencegahnya?”
panik seorang gadis diantara mereka.
“ Kasihan bapak tadi, tapi apa peduli kita? Secara tak
langsung dia juga mendoakan kita agar tak sampai tujuan kita.” Sambung yang
lain.
“ Ya, mestinya kita mengalah. Setidaknya kita membagi diri
jadi dua bagian…”
“ Stop! Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencegah hal
itu jangan sampai terjadi! Kita kembali ke tempat tadi!” saran seorang laki-laki.
Tanpa di komando, rombongan anak muda itu setengah berlari kembali ke tempat mereka naik angkot tadi.
Sampai di tempat semula sepi, seolah tak terjadi apa-apa.
Jalanan itu memang sepi.
Jauh dari rumah penduduk. Di sekitarnya hanya deretan sawah-sawah
yang menguning oleh tanaman padi, dan kebun yang menghijau
oleh sayur-sayur segar.
“ Sial, kita terlambat!”
umpat seorang anak laki-laki. Mereka sangat yakin, sopir itu sudah
melaksanakan niat jahatnya. Bapak dua anak tadi tak mungkin mendapatkan angkot
lain secepat itu. Sebab jalan itu tak dilewati angkot secara resmi.
Tak mungkin juga singgah di warung atau
kedai minum. Sebab tak ada bangunan
apapun sepanjang lima kilometer dari
tempat itu. Keenambelas anak muda
itu terdiam dalam
ketakutan. Membayangkan sesuatu
mengerikan terjadi pada bapak anak itu.
Di tempat lain, tiga hari setelah peristiwa itu. Di sebuah
rumah, seorang wanita muda menanti sesuatu dengan cemas.
“ Kapruk Janur
kemana? Sudah kupanjer dua juta
nggak nongol-nongol? Apa dia berniat menipuku?” tanyanya pada
diri sendiri.
Wanita itu adalah
Aminah. Orang yang
akan ditemui duda beranak dua yang berjulukan
Kapruk Janur. Aminah
sudah menghubungi handphone
Kapruk Janur. Tetapi lelaki
kurus kering itu tak
mengangkat handphonenya. Maka
ketika handphonenya berbunyi,
Aminah sangat yakin itu Kapruk Janur.
“ Halo, kemana..”
“ Betul ini ibu Aminah? Ini dari polisi Bu, berkaitan dengan SMS
ibu kepada Pak Kajan sebelum Pak
Kajan tewas..” suara
polisi di ujung telpon membuat
Aminah terkulai lemas
dan pingsan. Sesuatu
yang tak pernah diharapkannya
terjadi dalam bisnisnya.
Ya, Kapruk Janur tak
pernah sampai ke
tempat Aminah. Di tengah jalan dia dihabisi Margonda,
sopir angkot plat hitam. Gara-gara perkataannya. Mayatnya di temukan di tebing
perbukitan penuh luka di kepala.
Dan nasib kedua anaknya tak jelas. Kedua
anak inilah yang diharapkan Aminah, sebab Aminah sudah
menjanjikan dua anak ini pada
sepasang orangtua yang ingin mengadopsi anak secara ilegal.
Aminah adalah wanita
yang sering keluar masuk
perkampungan kumuh di kota - kota
besar. Dia sering menawarkan
‘bantuan’ pada orang - orang tak
mampu dengan cara
membeli anak - anak mereka. Kemudian
Aminah menjual anak - anak itu
pada mereka yang membutuhkan.
Gara - gara ini pula bisnis haram Aminah tercium polisi. SMS yang dikirim ke Kapruk Janur
jelas menyebutkan posisi dirinya sebagai makelar anak. Ini yang memposisikan
dirinya sebagai tersangka.
Ternyata Kapruk Janur
berniat menjual anaknya sendiri. Dia
merasa tak bisa menjadi ayah yang baik. Kajan alias Kapruk Janur, yang menduda
baru tiga bulan silam, hendak menjual darah
dagingnya sendiri dengan harapan anak-anaknya kelak berpenghidupan
layak. Kajan tewas di tabrak angkot. Dan angkot itu sendiri terjungkal di
tebing jurang. Margonda sopir angkot
itu juga tewas. Kepalanya terbentur dinding tebing yang cadas oleh bebatuan.
Ya, kedua lelaki yang sama - sama didera masalah ekonomi itu
tewas mengenaskan. Keduanya tak pernah
sampai pada tujuan hidup. Yaitu mencari nafkah. Lantas, kemanakah dua
anak Kapruk Janur?
Kedua bocah cilik itu
berlari tak tentu arah, ketika angkot itu dengan membabi buta menabrak
tubuh bapak mereka. Mereka terus berlari dengan
ketakutan. Mereka berhenti ketika gelap mulai merambat. Kedua bocah itu
menemukan sebuah saung reot ditengah persawahan. Di sanalah kedua anak itu
dijemput ibunya. Ibunya menyelamatkan anak - anaknya. Menyelamatkan dari
perdagangan anak, dan ditemukan tewas
dalam ketakutan, kedinginan dan kelaparan.
Comments
Post a Comment