Jelas sekali betapa damai dan indahnya suasana yang
tergambarkan dalam puisi ini. Pembaca dapat merasakan apa yang dilukis penulis
dengan guratan kata-kata seperti setiap sapuan kuas yang memberi arti di atas
kanvas.
Puisi ini mungkin terlahir dari suatu proses perenungan
ketika suasana hati penulis merasakan kedalaman damai terhadap sesuatu yang
ditemui dengan mata dan hati.
Ya, mata adalah jendela ketika kita menangkap sinyal-sinyal
dan tanda yang tertangkap di sekitar kita, tentu beragam apa yang tersaksikan
akan memberi getar bagi hati kita.
Disini penulis nampaknya semacam mengalami proses seperti
itu.
Masih Adakah Esok?
Sebuah judul yang memberi penafsiran cukup beragam bagi
pembaca untuk memahami apa yang dimaksud penulis.
Apakah penulis mengharapkan hari esok karena sesuatu yang
didapati saat ini belum seperti yang diinginkan, atau esok adalah sesuatu yang
diharapkan kembali agar kebahagiaan yang terdapati saat ini terulang kembali.
Kita simak bait pertama puisi ini:
Butir- butir bening
bergelayut
Kemilau di pucuk-pucuk
jamrud
Sinar surya makin
merenggut
Permata pergi seiring
mentari menyambut
Pemilihan diksi cukup padat dan selektif, hingga kita perlu
sedikit perenungan bahkan membaca berulang-ulang untuk dapat mengetahui apa
yang dimaksud. Begitulah puisi, dengan sedikit menyamarkan atau mengambangkan
apa yang kita maksud justru ia seperti memiliki suatu kekuatan arti tersendiri.
Yang jelas bait ini menggambarkan suasana pagi yang masih
tenang, sejuk, damai, disaat embun masih bergayut di pucuk-pucuk dedaunan dan
dahan. Bisa juga ini sebagai bahasa simbol yang menggambarkan suasana negeri
yang semula tenang, damai, seperti suasana pagi yang kita buka setiap hari.
Lalu kita akan membayangkan apa dengan munculnya "surya
dan "mentari" terhadap suasana pagi? Jelas di sini kita mengganggap “surya”
sebagai suatu yang "merenggut" dari apa yg kita dapati.
Sebuah nilai yang harus cukup dalam kita mengajinya.
Pada bait ke tiga dan ke empat adalah suatu gambaran lebih
jauh dari bait pertama.
Akan terbayangkan cuaca yang makin cerah seiring makin
tingginya matahari beranjak dari ufuk timur. Penulis yang terkesan dengan
keindahan daerah tropis kita ini menggambarkan kesuburan tanah negeri dengan
diksi:
Helai- helai hijau
terhampar menari- nari
Ssebuah gaya bahasa/majas personifikasi yang cukup kuat. Membayangkan
suatu keriangan hati hingga lentik jemari dan gerak tubuh biasanya ikut terbawa
dengan suasana.
Secara umum penulis punya insting yang cukup kuat merangkai
kata demi kata hingga membentuk rima-rima yang menarik dengan sendirinya.
Seorang yang terlatih berimajinasi, biasanya kata-kata yang mempunyai rima itu
bisa cepat datang dalam satu suasana hati. Lalu, apakah kita hanya akan fokus
pada bentuk-bentuk rima? Tentu tidak. Ada tema dan pesan yang pasti ingin kita
sampaikan dari sebuah puisi dan imajinasi.
Penulis cukup jeli memakai dan menempatkan kata-kata sesuai
dengan EYD. Terlihat sangat pas dan mengena.
Dengan semakin sering dan berlatih menulis dalam bentuk
puisi lainnya, yakin penulis akan semakin mapan merangkai puisi jadi lebih
bagus dan menarik lagi.
Selamat menulis.
Salam Aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT NASKAH PUISI
TANPA EDITING YANG DIPOSTING FAM INDONESIA]
MASIH ADAKAH ESOK?
Oleh Nadia Regina
Martanti
IDFAM695M Anggota FAM
Sukoharjo.
Butir- butir bening
bergelayut
Kemilau di pucuk-
pucuk jamrud
Sinar surya makin
merenggut
Permata pergi seiring
mentari menyambut
Helai- helai hijau
terhampar menari- nari
Diterpa sepoi music
pagi
Gemulai lembut tarian
bidadari
Menatap biru bersih
lazuardi
Burung- burung kecil
berlompatan di sela derit dahan
Bersiul merdu
bersahutan
Percintaan pagi
seindah ini
Masih adakah esok
hari?
Comments
Post a Comment