Skip to main content

Ulasan Puisi "Masih Adakah Esok?" Karya Nadia Regina Martanti (Sukoharjo)

Jelas sekali betapa damai dan indahnya suasana yang tergambarkan dalam puisi ini. Pembaca dapat merasakan apa yang dilukis penulis dengan guratan kata-kata seperti setiap sapuan kuas yang memberi arti di atas kanvas.

Puisi ini mungkin terlahir dari suatu proses perenungan ketika suasana hati penulis merasakan kedalaman damai terhadap sesuatu yang ditemui dengan mata dan hati.

Ya, mata adalah jendela ketika kita menangkap sinyal-sinyal dan tanda yang tertangkap di sekitar kita, tentu beragam apa yang tersaksikan akan memberi getar bagi hati kita.

Disini penulis nampaknya semacam mengalami proses seperti itu.

Masih Adakah Esok?

Sebuah judul yang memberi penafsiran cukup beragam bagi pembaca untuk memahami apa yang dimaksud penulis.

Apakah penulis mengharapkan hari esok karena sesuatu yang didapati saat ini belum seperti yang diinginkan, atau esok adalah sesuatu yang diharapkan kembali agar kebahagiaan yang terdapati saat ini terulang kembali.

Kita simak bait pertama puisi ini:

Butir- butir bening bergelayut
Kemilau di pucuk-pucuk jamrud
Sinar surya makin merenggut
Permata pergi seiring mentari menyambut

Pemilihan diksi cukup padat dan selektif, hingga kita perlu sedikit perenungan bahkan membaca berulang-ulang untuk dapat mengetahui apa yang dimaksud. Begitulah puisi, dengan sedikit menyamarkan atau mengambangkan apa yang kita maksud justru ia seperti memiliki suatu kekuatan arti tersendiri.

Yang jelas bait ini menggambarkan suasana pagi yang masih tenang, sejuk, damai, disaat embun masih bergayut di pucuk-pucuk dedaunan dan dahan. Bisa juga ini sebagai bahasa simbol yang menggambarkan suasana negeri yang semula tenang, damai, seperti suasana pagi yang kita buka setiap hari.

Lalu kita akan membayangkan apa dengan munculnya "surya dan "mentari" terhadap suasana pagi? Jelas di sini kita mengganggap “surya” sebagai suatu yang "merenggut" dari apa yg kita dapati.

Sebuah nilai yang harus cukup dalam kita mengajinya.

Pada bait ke tiga dan ke empat adalah suatu gambaran lebih jauh dari bait pertama.

Akan terbayangkan cuaca yang makin cerah seiring makin tingginya matahari beranjak dari ufuk timur. Penulis yang terkesan dengan keindahan daerah tropis kita ini menggambarkan kesuburan tanah negeri dengan diksi:

Helai- helai hijau terhampar menari- nari

Ssebuah gaya bahasa/majas personifikasi yang cukup kuat. Membayangkan suatu keriangan hati hingga lentik jemari dan gerak tubuh biasanya ikut terbawa dengan suasana.

Secara umum penulis punya insting yang cukup kuat merangkai kata demi kata hingga membentuk rima-rima yang menarik dengan sendirinya. Seorang yang terlatih berimajinasi, biasanya kata-kata yang mempunyai rima itu bisa cepat datang dalam satu suasana hati. Lalu, apakah kita hanya akan fokus pada bentuk-bentuk rima? Tentu tidak. Ada tema dan pesan yang pasti ingin kita sampaikan dari sebuah puisi dan imajinasi.

Penulis cukup jeli memakai dan menempatkan kata-kata sesuai dengan EYD. Terlihat sangat pas dan mengena.

Dengan semakin sering dan berlatih menulis dalam bentuk puisi lainnya, yakin penulis akan semakin mapan merangkai puisi jadi lebih bagus dan menarik lagi.

Selamat menulis.
Salam Aishiteru.

TIM FAM INDONESIA

[BERIKUT NASKAH PUISI TANPA EDITING YANG DIPOSTING FAM INDONESIA]

MASIH ADAKAH ESOK?

Oleh Nadia Regina Martanti
IDFAM695M Anggota FAM Sukoharjo.

Butir- butir bening bergelayut
Kemilau di pucuk- pucuk jamrud
Sinar surya makin merenggut
Permata pergi seiring mentari menyambut

Helai- helai hijau terhampar menari- nari
Diterpa sepoi music pagi
Gemulai lembut tarian bidadari
Menatap biru bersih lazuardi

Burung- burung kecil berlompatan di sela derit dahan
Bersiul merdu bersahutan
Percintaan pagi seindah ini
Masih adakah esok hari?

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...