Skip to main content

Ulasan Puisi "Kemanakah" Karya Nuhrafi (Pariaman Timur)

NUH RAFI

KEMANAKAH
IDFAM130U Anggota FAM Pariaman Timur

Kemanakah perginya kalimat-kalimat itu?
Bukankah ia telah kususun menjadi paragraf dan menjadi bangunan cerita nan indah dipandang.

Duh...
Apakah ku harus mengorek dasar sungai dan kumpulkan pasir-pasir kata tuk membangun gedung cerita?
Atau kuharus pergi kelaut nan luas tuk kumpulkan buih-buih ombak dan satukan ia jadi garam cerita nan asin dilidah?

Oh tidak...
... Aku bukan manusia laut atau manusia sungai yang bisa lakukan itu dengan mudah.

ULASAN:

Menarik sekali. Ada kalanya seorang penulis hanya bisa terdiam terpaku mencari inspirasi yang mungkin agak tersendat mengalir. Bahkan tidak satu kata pun tertulis setelah sekian lama duduk terpaku menerawang intuisi.

Nah, keadaan yang semacam ini justru dijadikan tema untuk sebuah puisi. Jadilah seperti tulisan yang ternyata juga punya nilai estetika untuk sebuah puisi.

Kemanakah perginya kalimat-kalimat itu?

Sebuah kalimat pembuka yang diharapkan dapat memasuki ruang kata-kata lebih luas dan dalam lagi.

Hal itu bisa dilakukan dengan mengembangkan sayap-sayap imajinasi, mengikuti arah angin pada detak hati, sehingga menjadi kesatuan yang utuh walau terkadang selayang tidak terlihat korelasi makna di dalamnya. Biarlah orang akan membaca berulang-ulang untuk dapat menebak atau memahami apa yang kita maksud dalam kalimat itu.

Disinilah yang merupakan salah satu struktur fisik sebuah puisi yaitu "bahasa figuratif".

Bahasa figuratif puisi banyak memakai kiasan yang mungkin diambil dari alam atau nilai-nilai estetika lainnya. Sehingga puisi menjadi prismatis (memancarkan banyak makna).

Dalam puisi ini sebagian telah mencoba menggunakan itu.

Kita lihat pada bait kedua:

Duh...
Apakah ku harus mengorek dasar sungai dan kumpulkan pasir-pasir kata tuk membangun gedung cerita?
Atau kuharus pergi kelaut nan luas tuk kumpulkan buih-buih ombak dan satukan ia jadi garam cerita nan asin dilidah?

Di sini nampak sekali semacam bentuk kegundahan penulis ketika menanti sesuatu yang akan ditulis belum kunjung datang. Hingga sesuatu yang dirasa tidak mungkin, apa harus dilakukan?

Kenapa takut? Hal itu mungkin saja kita lakukan dalam menerawang kata dan sejenak bermain-main dengan jiwa yang lepas disana.

Tanda elipsis (....) hanya dipakai dalam kalimat yang terputus atau bila ada kata/bagian kalimat yang dihilangkan.

Dalam tulisan ini sepertinya tidak dimaksudkan seperti itu. Jadi sebaiknya dihilangkan, diganti dengan titik atau koma bila merupakan jeda untuk kalimat selanjutnya.

Satu lagi yang bisa disarankan "Rima" atau persamaan bunyi dalam puisi juga merupakan salah satu stuktur fisik dari puisi.

Disini ada terlihat tapi sedikit sekali nampaknya, yaitu pada kalimat akhir di bait kedua:

... ia jadi garam cerita nan asin dilidah?

Dan, pada kalimat terakhir:

...atau manusia sungai yang bisa lakukan itu dengan mudah.

Penulis secara umum sangat berbakat, terus asah dan kembangkan dengan lebih banyak lagi menulis dan membaca karya-karya penulis yang telah cukup mempunyai nama.

Salam aishiteru!
TIM FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...