Sepenggal Rindu Untuk Ibu.
Puisi Refdinal Kelana Mimpi
IDFAM160U
Ma, di persimpangan buih langkah aku terpaku
Sengat matahari yang semakin akrab membiusku
untuk mengenangmu
Setapak jalan tanah di pinggirian desa,
hujan yang kita tampung di tengadah sawah
dan burung burung putih yang selalu akrab
melayang di langit petang.
Serindu itupun membuatku kembali bertahan
Lalu lintas nasib meriuh angkuh di belantara kota
Tak melihat lagi perbedaan selayaknya paduan warna
bianglala, jelas membatas untuk semakin memekat
dan glamorius purba.
Debu-debu kutangkap di sela wajah-wajah kalah
Legam memekat hati kala tak lagi bisa memilih
Hingga mesti terpecahkan bening kristal nurani
sekedar bertahan untuk hari ini
Bahkan entah untuk sebuah kuburan mana dipesankan
saat gelora makin tak terbendung,
mewabah bagai deras arus bendungan yang bobol.
Ya, Ma.Aku terpana.
Aku merindukanmu seperti kala lapar kami
menunggumu menanak nasi
Masih ada riang terlukis dengan polos, karena tahu
sebentar lagi malam kan kau selimuti dalam kebersahajaan hidup.
Dan Ma, disini aku telah mencoba melangkah
doakan agar perjalanku tak melupa
arah menuju pangkuanmu
ULASAN PUISI “SEPENGGAL RINDU UNTUK IBU”
Karya Refdinal Kelana Mimpi, IDFAM160U
Puisi berjudul “Sepenggal Rindu Untuk Ibu” ini menggambarkan kerinduan sang penyair kepada ibunya. Secara tersirat, penulis mencoba mengisahkan kenangan bersama ibunya. Kenangan itulah yang sanggup membuatnya bertahan menghadapi kerasnya hidup di perantauan.
Tema ibu memang tidak akan pernah usang. Betapapun, ibu merupakan sosok yang paling layak untuk selalu dikenang. Sebesar dan sekeras apapun bakti yang kita berikan, tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan yang beliau lakukan. Itulah mengapa ibu diutamakan tiga kali dari ayah.
Penulis cukup berbakat dalam membuat puisi. Itu terlihat dari teknik penyusunan dan diksi yang digunakan. Perumpamaan dan kiasan yang dipakai juga menarik. Ini membuat pembaca betah dalam menghayati setiap kalimatnya hingga akhir.
Sayangnya, penulis kurang teliti dalam proses penyusunan. Ada baiknya, setelah selesai menulis, dilakukan proses editing agar tidak terjadi kesalahan penulisan maupun ejaan. Beberapa kesalahan yang terdapat dalam puisi ini diantaranya:
Kata ‘Pinggirian’ pada baris keempat yang seharusnya ditulis pinggiran
‘Burung burung’ pada baris keenam yang seharusnya ditulis ‘burung-burung’
Kata ‘perjalanku’ di bagian akhir puisi yang seharusnya ditulis ‘perjalananku’
Secara keseluruhan, puisi yang dibuat penulis sudah bagus. FAM berharap, penulis terus mengasah kemampuannya dengan sering berlatih. Harapannya, kualitas tulisan menjadi semakin baik.
Teruslah berkarya.
Salam Aishiteru
TIM FAM INDONESIA
Puisi Refdinal Kelana Mimpi
IDFAM160U
Ma, di persimpangan buih langkah aku terpaku
Sengat matahari yang semakin akrab membiusku
untuk mengenangmu
Setapak jalan tanah di pinggirian desa,
hujan yang kita tampung di tengadah sawah
dan burung burung putih yang selalu akrab
melayang di langit petang.
Serindu itupun membuatku kembali bertahan
Lalu lintas nasib meriuh angkuh di belantara kota
Tak melihat lagi perbedaan selayaknya paduan warna
bianglala, jelas membatas untuk semakin memekat
dan glamorius purba.
Debu-debu kutangkap di sela wajah-wajah kalah
Legam memekat hati kala tak lagi bisa memilih
Hingga mesti terpecahkan bening kristal nurani
sekedar bertahan untuk hari ini
Bahkan entah untuk sebuah kuburan mana dipesankan
saat gelora makin tak terbendung,
mewabah bagai deras arus bendungan yang bobol.
Ya, Ma.Aku terpana.
Aku merindukanmu seperti kala lapar kami
menunggumu menanak nasi
Masih ada riang terlukis dengan polos, karena tahu
sebentar lagi malam kan kau selimuti dalam kebersahajaan hidup.
Dan Ma, disini aku telah mencoba melangkah
doakan agar perjalanku tak melupa
arah menuju pangkuanmu
ULASAN PUISI “SEPENGGAL RINDU UNTUK IBU”
Karya Refdinal Kelana Mimpi, IDFAM160U
Puisi berjudul “Sepenggal Rindu Untuk Ibu” ini menggambarkan kerinduan sang penyair kepada ibunya. Secara tersirat, penulis mencoba mengisahkan kenangan bersama ibunya. Kenangan itulah yang sanggup membuatnya bertahan menghadapi kerasnya hidup di perantauan.
Tema ibu memang tidak akan pernah usang. Betapapun, ibu merupakan sosok yang paling layak untuk selalu dikenang. Sebesar dan sekeras apapun bakti yang kita berikan, tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan yang beliau lakukan. Itulah mengapa ibu diutamakan tiga kali dari ayah.
Penulis cukup berbakat dalam membuat puisi. Itu terlihat dari teknik penyusunan dan diksi yang digunakan. Perumpamaan dan kiasan yang dipakai juga menarik. Ini membuat pembaca betah dalam menghayati setiap kalimatnya hingga akhir.
Sayangnya, penulis kurang teliti dalam proses penyusunan. Ada baiknya, setelah selesai menulis, dilakukan proses editing agar tidak terjadi kesalahan penulisan maupun ejaan. Beberapa kesalahan yang terdapat dalam puisi ini diantaranya:
Kata ‘Pinggirian’ pada baris keempat yang seharusnya ditulis pinggiran
‘Burung burung’ pada baris keenam yang seharusnya ditulis ‘burung-burung’
Kata ‘perjalanku’ di bagian akhir puisi yang seharusnya ditulis ‘perjalananku’
Secara keseluruhan, puisi yang dibuat penulis sudah bagus. FAM berharap, penulis terus mengasah kemampuannya dengan sering berlatih. Harapannya, kualitas tulisan menjadi semakin baik.
Teruslah berkarya.
Salam Aishiteru
TIM FAM INDONESIA
Comments
Post a Comment