
Kediri-Geliat
literasi Forum Aktif Menulis (FAM)
Indonesia semakin semarak. Bulan Ramadan dijadikan langkah awal, kembali digelarnya
event-event bergengsi. Baik berupa pembukuan karya, lomba cipta puisi, lomba
cipta cerpen, maupun lomba menulis kata mutiara bertema Ramadan dan Idul Fitri.
“Saya mengamati dalam
lima tahun belakangan ini, minat menulis di Bulan Ramadan meningkat dibanding
bulan lainnya. Hal itu terlihat dari antusias para penulis mengikuti
event-event kepenulisan. Termasuk dari naskah buku yang masuk ke meja penerbit,
jumlahnya lebih banyak,” ujar Aliya Nurlela, Novelis sekaligus Pegiat FAM
Indonesia. Hal
itu pula yang mendorong FAM Indonesia, menggelar berbagai event
kepenulisan dalam rangka memacu semangat menulis di bulan penuh rahmat ini.
Event-event yang
digelar FAM di Bulan Ramadan, lebih fokus kepada event kepenulisan yang
bersifat online. Artinya, penulis diharuskan mengirimkan karyanya via email
atau media online lainnya. Sedangkan acara lain yang diluar online, lebih
difokuskan kepada diskusi dan buka puasa bersama. Seperti, FAM Cabang Palembang
yang menggelar diskusi & buka bersama para tokoh Palembang. Dari pertemuan
tersebut, FAM Palembang menghasilkan beberapa agenda kepenulisan yang akan
disinergikan dengan berbagai komunitas kepenulisan di daerah tersebut.
Sementara itu di
Kediri, FAM Indonesia mengadakan diskusi terbatas yang dikhususkan bagi para
pengurus harian FAM. Aliya Nurlela selaku pengisi diskusi, memberikan beberapa
arahan yang bersifat motivasi. Sekaligus melemparkan pancingan kepada para
pengurus untuk memantik ide kreatif.
“Saya optimis, geliat
literasi semakin semarak jika para pegiat literasi itu sendiri melahirkan
karya. Ide-ide kreatif untuk perkembangan semangat menulis juga sangat perlu,
sebab event kepenulisan yang digelar harus variatif. Agar para penulis semangat
dan tertantang untuk berpartisipasi,” ujar Aliya Nurlela yang bulan ini
melahirkan buku cerpen terbarunya, “Sebait Pesan Sebelum Hujan.”
Namun demikian—menurut
Aliya Nurlela pula, ia tidak mengharuskan para pengurus harian FAM menjadi
penulis. FAM lebih cenderung memberikan dorongan untuk berkarya, serta
menularkan semangat cinta menulis dan membaca pada orang-orang terdekat.
Terbukti, beberapa pengurus tertular semangat menulis itu. Sebagian darinya,
sudah melahirkan karya yang tergabung dalam buku antologi.
Pada kesempatan
diskusi dan buka puasa bersama itu (15/6), Aliya mengucapkan terima kasih
kepada beberapa cabang FAM di daerah—terutama yang aktif berkegiatan.
“Saya sangat
berterimakasih kepada teman-teman penulis di FAM Wilayah Surabaya, FAM Cabang
Palembang, FAM Galuh Ciamis, FAM Cabang Sorong, FAM Cabang Luwu, dll yang aktif
berkoordinasi serta menggelar pertemuan. Sekaligus apresiasi yang
setinggi-tingginya kepada para pegiat literasi tersebut, yang tak lelah menjaga
dan menggaungkan literasi di daerah masing-masing,” pungkasnya. [FAM]


Comments
Post a Comment