Skip to main content

Penulis # Pengetik, Penulis = Pengetik Plus


By: Syukur Budiarjo

       Hanya yang bermental baja yang berani mengambil risiko hidup sebagai penulis semata. Penulis sebagai profesi dapat dihitung dengan jari. Sebab, di negeri ini literasi masih menjadi barang luks, tidak seperti sembako. Budaya baca dan tulis masih sangat perlu diperjuangkan.

       Umumnya yang suka menulis adalah para profesional, misalnya guru, dosen, wartawan, dokter, pengacara, dan cerdik cendekiawan. Seandainya tulisan yang dikirim ke media massa ditolak oleh redaksi, mereka tidak berputusasa. Bukankah mereka sudah mendapat penghasilan tetap setiap bulan untuk menghidupi keluarga?

       Sebenarnya siapa pun dapat menjadi penulis profesional. Layaknya mereka berniat menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai penulis semata atau penulis murni. Penulis murni bernapas panjang, menjadi penulis sampai akhir hayat.

Penulis # pengetik 

       Penulis akan memberdayakan otak dan tangannya dengan maksimal sehingga menghasilkan karya tulis yang layak dibaca oleh siapa pun. Dengan otak dan tangannya ia bekerja menganyam kata dan menyulam kalimat sehingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan kepada sidang pembaca, yaitu tulisan.

       Sampai akhir hayatnya Bung Karno dan Bung Hatta terkenal sebagai penulis. Mereka adalah penulis teks proklamasi yang sangat terkenal itu, sedangkan pengetik teks proklamasi tersebut adalah Sajuti Melik, wartawan zaman revolusi. Jadi, penulis berbeda dengan pengetik.

       Kita tahu bahwa Presiden Abdurrahman Wahid itu tidak dapat melihat. Akan tetapi, artikel ilmiah populernya merajalela di mana-mana, misalnya di harianKompas dan majalah Tempo. Rupanya sang mantan presiden itu meminta tolong jasa pengetik. Gus Dur malafalkan karangannya itu secara nyaring, sedangkan pengetik bekerja mengetik ide Gus Dur menjadi sebuah naskah.

       Itu sebabnya, penulis berbeda dengan pengetik. Penulis bekerja secara maksimal memberdayakan anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya itu -- otak. Pengetik layaknya hanya bekerja sesuai dengan perintah. Ia hanya mengetik naskah yang disodorkan kepadanya, baik menggunakan mesin tik manual maupun komputer.

Penulis = pengetik plus 

       Saya menyebut penulis sebagai pengetik plus. Layaknya pengetik, ia memberdayakan tangannya untuk mengetik di depan layar komputer. Meskipun demikian, ia juga memberdayakan otaknya untuk menuangkan ide atau gagasannya sehingga terwujud tulisan kreatif dan akademik.

       Siapa pun dapat menjadi penulis asalkan memiliki niat dan tekad yang bulat, kemudian diwujudkan dengan laku menulis. Kalau tak menghasilkan tulisan yang diekspos dan dibaca orang lain, ia bukan penulis, tetapi pengetik. Sejak Nabi Adam hingga Adam Malik, penulis terabadikan melalui karya tulisnya.

       Saya salut kepada mereka yang mau dan mampu menulis di media sosial, seperti facebook. Tulisan mereka umumnya berupa status untuk dibagikan kepada kawan atau sahabat. Sebagai anggota grup yang disukainya, ia mampu menulis puisi, cerpen, dan apa pun yang tentu saja bermanfaat bagi kawan atau sahabat. Meski tidak memeroleh honorarium pemuatan, mereka rajin mengekspos tulisannya.

       Meski tidak memperoleh honorarium pemuatan (yang berkorelasi dengan tujuan dan manfaat ekonomis), penulis di media sosial melalui grup yang dimasukinya telah mengekspos idenya melalui tulisan. Dengan demikian mereka menjangkau tujuan dan manfaat yang berkorelasi dengan aspek ekspresi, terapi, prestasi, prestise, dan dakwah. Namun, tidak sedikit dari mereka yang kemudian membukukan karya tulisnya menjadi antologi dengan berbagai variatifnya. Kemudian diterbitkan, baik oleh penerbit mayor maupun oleh penerbit indie. Buku-buku antologi karya mereka terpajang di rak-rak buku di sejumlah toko buku di seantero tanah air.


*) Syukur Budiardjo, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 119 Jakarta Pusat. Suka menulis artikel, puisi, dan cerpen di media massa cetak dan media sosial. Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...