Skip to main content

Ekspedisi Literasi Kampung Lawas Maspati, (Surabaya)


Milad Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Ke-7

Oleh: Chania Ditarora

Rabu siang, surya membelai bumi cukup riang. Memantapkan langkah berekspedisi literasi ke Kampung Lawas Maspati, Surabaya. Semangat berlipat bahkan cendrung nekat. Saya dan saudara Sopian Ansori memutuskan berangkat siang itu juga. Saya katakan nekat karena sepeda motor yang kami gunakan tanpa kaca spion. Diperparah saya tidak bawa alat bantu dengar. Tak pelak lagi aral perjalanan menghadang. Beberapa ratus meter sebelum pelabuhan penyeberangan, kami kena e-tilang polantas polres Lombok Barat.

Meski begitu, tak menyurutkan tekad kami untuk melanjutkan perjalanan. Setiap rintangan, bagi kami adalah bunga rampai setiap perjalanan. Setiba di pelabuhan, menyempatkan shalat zuhur sebelum naik ke kapal. Rabu, sekitar pukul 16.00 WITA, kapal yang kami tumpangi melepas sauh. Mengarungi selat Lombok dan laut Jawa.

KMP Legundi yang kami tumpangi dengan gagahnya membelah lautan. 20 jam bersensasi menikmati setiap sisi dari kapal Legundi. Kami tiba di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kamis, pukul 12.30 WIB. Di sambut pekik selamat datang dari moncong kapal menambah energi menyapa Surabaya yang panasnya bagi kami tak bersahabat. Ramahnya keberterimaan arek Surabaya tidak diikuti ramahnya panas Surabaya.


Sebagai pendatang, mau tidak mau harus menerima seringai panas Surabaya. Memanfaatkan waktu 2 hari sebelum hari-H acara, kami mencoba beradaptasi dengan cuaca panas sekaligus menyeksamai tempat kami menginap. Bersyukur tempatnya representatif. Tak jauh dari Kampung Lawas, Maspati.

Jelang Matahari kembali ke peraduannya, kami tiba di Kampung Lawas, Maspati Surabaya. Senyum dan peluk hangat Tengku Lihar Amin serta Horas Arif membuyarkan kekakuan setelah sepersekian detik terhipnotis diorama kampung di depan kami. Didampingi panitia menuju penginapan, hati bersoneta ria. Campur aduk. Antara bahagia dan dagdigdug sesaat lagi bertemu dengan Penghuni Rinai Kabut Singgalang dan Pemilik Senyum Gadis Bel’s Palsy. Sebelumnya kami hanya berkomunikasi via sosial media. Ternyata paras dan pesona mereka berdua di dunia maya dan dunia nyata tidak jauh beda.

Dengan membaca basmalah kami memasuki penginapan. Terlihat kedua petinggi FAM sedang duduk santai. Berbeda dengan kami yang terlihat canggung. Namun semua tak berlangsung lama. Rasa itu menguap seiring keramahtamahan mereka. Layaknya anggota keluarga yang telah lama berpisah. Bersua kembali. Tentu suasana hati berirama tak menentu.

Bakda magrib acara inti dimulai. Diawali dengan perkenalan serta sharing suka duka menulis. Doa bersama. Pemotongan Tumpeng sebagai simbol FAM berusia yang ketujuh. Dari sharing tersebut menitik beratkan pada kiprah FAM di masa depan.

Keesokan harinya rangkaian acara Milad Fam ke-7 Dengan Tema WRITING CAMP TEMU PENULIS dimulai. Acara dibuka dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Bidadari Timur asal Sorong, Papua Barat. Suara merdunya menguar memberkahi acara tersebut. Peserta dan tamu undangan khusyuk masyuk mendengar lantunan ayat suci. Kesederhanaan acara tersebut pun berubah menjadi sakral.


Tamu undangan dari instansi terkait terlihat antusias. Acara sederhana namun khidmat ini semakin istimewa dengan kehadiran orang yang paling bertanggungjawab terhadap perkembangan literasi di Jawa Timur. Dalam sambutannya, Bapak Dr. Ir. Abdul Hamid mengapresiasi dan mendukung setiap acara yang diadakan FAM. Ia berharap FAM menjadi ikon Literasi provinsi Jawa Timur. Tidak lupa di sela sambutan, ia menyelipkan kata-kata motivasi. Menurut Kadis Perpustakaan & Kearsipan itu, judul dan konten sebuah buku sangat berpengaruh dalam menarik minat pembaca.

Tidak kalah spesialnya pembicara dari intern FAM sendiri. Mulai dari Muhammad Subhan (Ketum FAM), Reffi Dinar, Handoko, dan lainnya turut berbagi ilmu dan inspirasi. Bagi kami tentu ini merupakan ilmu yang berharga. Tak salah jika orang bijak mengatakan bahwa “setiap perjalanan adalah belajar” . Tidak ada perjalanan yang sia-sia tersebab darinya akan ada warna baru. Baik itu ilmu, teman, dan suasana yang tentunya terbarui.

Selain itu, kegiatan ini juga kian terasa beda dengan lainnya manakala melihat dari perspektif lokasi acara. Memilih sebuah kampung di pusat kota sebagai tempat event tentu terbetik stigma negatif di benak. Kampung di pusat kota selama ini diidentikkan dengan kumuh, kotor, berbau, dan tentunya tak ramah bagi pendatang.

Namun kampung Lawas Maspati seakan meruntuhkan stigma buruk yang sudah mengakar di tengah masyarakat. Bagaimana sebuah kampung dengan beragam karakter masyarakatnya bisa diberdayakan dan dipersatukan untuk menghijaukan kampung. Tentu butuh waktu yang tidak singkat untuk mengkondisikan kampung Lawas Menjadi Asri di tengah hiruk pikuk kota Surabaya. Sangat tepat rasanya jika panitia FAM Surabaya memilih kampung Lawas, Maspati sebagai tempat acara. Sebuah upaya dan ide yang pantas diacungi jempol. Dengan itu lelahnya perjalanan kami yang jauh dari Lombok terbayar oleh keindahan, keramahan, dan keberterimaan warga kampung Lawas, Maspati kepada kami.

Lombok Tengah, 070319

#Literasi
#CatatanPerjalanan

Sumber: https://goresanpenachaniagmail.wordpress.com/2019/03/09/ekspedisi-literasi-kampung-lawas-maspatisurabaya/?fbclid=IwAR2ASe0dth3NHj9bRG0E5AEUnKa7ajvqb1a1iX4lgW-JUgXJgWhgGpNb-uA

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...