*MASPATI*
aku mendengar gelatik wingko
bersuara merdu di sangkar bambu
di beranda rumah batu bercat biru
suatu hari, di kampoeng maspati
suaranya ingatkan aku
pada teduhnya jalanan
berbalut kabut di kampungku
beribu kilometer jaraknya, di sana
tapi di sini, aku merasa berada
di halaman rumah sendiri
tak ada suara berisik knalpot
orang-orang mendorong sepeda motor
masuk dan keluar kampung itu, pelan-pelan
begitu takzim itu perbuatan
dan aku saksikan sungguh
teguh warisan leluhur itu dijaga
dan aku bangga ada di sana
aku masuki rumah-rumah lawas
bersapa salam dengan para patih
aku dijamu rujak cingur, nasi rawon
dan di luar lamat-lamat kudengar
ringkik kuda dan suara tapal kakinya
tiba-tiba di pintu sudah kulihat saja
ndoro mantri membawa panji
“untukmu, jadikan ini cinta,” bisiknya
di sekolah ongko loro
aku duduk takzim menjadi murid lagi
mengeja _alif, ba, ta_, belajar membaca
sebelum mortir-mortir belanda
menghujani kota surabaya
*Kampoeng Lawas Maspati, 2019*

Comments
Post a Comment