Skip to main content

Menjadi Sehat dengan Menulis


Oleh: Erwin Setia, Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Dalam suatu hikayat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ulama Islam kenamaan terkena penyakit yang lumayan parah. Karena tahu Ibnu Taimiyah rajin menulis, tabib menasihatkan, “Sebaiknya Tuan beristirahat dulu dari kerja menulis sampai penyakit Tuan pulih.” Tangkas, sang ulama yang terkenal multitalenta itu menjawab, “Bagaimana bisa saya berhenti menulis sedangkan saya merasa bahagia dengan menulis?”

Kira-kira begitulah secuplik kisah teladan seorang Ibnu Taimiyah dalam menulis. Saya menyalin ulang hikayat tersebut berdasar ingatan semata. Boleh jadi ada bagian kurang tepat, tapi paling tidak poin utamanya bisa didapat: sesungguhnya menulis itu bisa bikin sehat dan bahagia.

Niat tabib dalam cerita di atas, dengan ‘melarang’ sang ulama menulis boleh jadi baik, agar Ibnu Taimiyah tak kelewat letih sehingga memperparah penyakitnya. Tetapi, seribu tahun kemudian setelah peristiwa itu, sebuah penelitian menjabarkan bahwa pada kisah itu kebenaran berada di tangan Ibnu Taimiyah.

Sesungguhnya banyak penelitian tentang manfaat bisa diperoleh dari menulis yang berkaitan dengan kesehatan. Namun, saya pacak satu saja penelitian , yang saya kutip dari blog Dokter Sehat, yaitu penelitian dari Universitas Northwestern, sebuah universitas bergengsi di Amerika Serikat.

Penelitian tersebut sejatinya khusus meneliti bagaimana menulis dengan tangan (maksudnya dengan alat tulis dan kertas secara langsung tanpa perantara gawai) bagi wanita bisa berdampak baik buat kesehatannya. Tetapi, penelitian itu bisa pula dimaknai secara lebih luas, bahwa menulis bisa berguna meningkatkan taraf kesehatan bagi semua orang.

Setidaknya ada tiga dampak baik dari menulis bagi kesehatan menurut para peneliti dari Universitas Northwestern tersebut: mencegah insomnia (dengan cara menulis kejadian sepanjang hari yang kita alami sebelum berangkat tidur), meredakan stres (karena menulis dapat membuat kita berpikir lebih kritis dan jernih dalam menghadapi berbagai persoalan), dan mempercepat penyembuhan penyakit. Poin terakhir telah Ibnu Taimiyah lakukan bahkan sebelum penelitian itu ada.

Menjalani laku hidup sehat tentu ada beragam cara. Bisa dengan mengonsumsi makanan yang memenuhi standar gizi, berolahraga setiap hari, bangun pagi, menjaga hati dari kebencian dan iri, dan juga dengan menulis. Menulis barangkali adalah kiat hidup sehat yang tak banyak orang hiraukan. Mereka pikir hanya buah-buahan dan jalan pagi yang bisa menunjang kesehatan. Padahal, pena dan kertas atau sepuluh jari tangan dan tuts-tuts keyboard juga bisa menjadi media penjaga kesehatan.

Tapi tentu ada perkecualian dalam setiap hal. Kendati benar bahwa menulis mendukung kesehatan, ia juga mesti dilakukan seusai dengan porsinya. Berlebihan tidak pernah baik, termasuk berlebihan dalam menulis hingga lupa melupakan hal-hal lain yang tak kalah pentingnya. Terlalu banyak duduk ketika menulis, misalnya, bukan mendatangkan kesehatan, justru bisa menimbulkan penyakit. Imam Syafii pernah merasakannya. Karena terlalu sering duduk menulis, beliau terkena wasir. Untuk menyiasati itu, barangkali gaya Ernest Hemingway—sastrawan peraih Nobel asal Amerika Serikat—bisa ditiru, yaitu dengan berdiri ketika menulis!

Jika laku Hemingway terasa terlalu menyulitkan, mungkin kebiasaan Haruki Murakami—novelis kesohor kelahiran Jepang—bisa dijadikan teladan. Ia, Murakami, selain rutin menulis, juga rutin lari maraton untuk menjaga kebugaran tubuh dan menunjang kesehatannya. Cara Murakami, dengan memadukan menulis dan berolahraga sekaligus, sepertinya adalah opsi terbaik untuk menjaga kesehatan.

Bahwa benar menulis adalah salah satu cara menjadi sehat. Menjadi sehat dengan menulis bukanlah dongeng. Ia nyata dan benar adanya. Tetapi, menjadi sehat dengan menulis sekaligus berolahraga sekaligus mengonsumsi makanan bergizi sekaligus melakukan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya, rasanya juga bukan hal yang keliru. Akhirulkalam: menulislah agar tubuh dan pikiran sehat. (*)

 

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.



Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...