Monolog Puisi untuk kumpulan buku puisi “Solilokui” karya Laras Sekar Seruni: Rasa dan Kata yang Mencipta Irama
Oleh: Ayu Alfiah Jonas
kemisteriusan manusia dan kedalaman bahkan absurdnya dunia ini. Dunia memang
tak pernah baik-baik saja. Setiap hidup manusia semenjak lahir hingga matinya tak
berupa kertas putih semata. Ada beragam warna tergores di sana. Bukan hanya hitam
dan putih, warna burgundy, beige, khaki dan abu-abu pun turut ada. Puisi menjadi
wadah bagi tiap warna untuk menjadi kekal, tak pernah habis dibaca. Kita selalu bisa
membaca ulang sebuah puisi dan selalu dikejutkan dengan respons yang berbeda-beda
dalam setiap peristiwa pembacaannya.
Keberhasilan sebuah puisi bisa dilihat dari kesanggupan penyair untuk
mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam kata. Ada dua hal berperan penting
di dalamnya: pikiran dan perasaan. Keduanya bekerja sama membentuk kata,
menyatukan kata demi kata menjadi baris demi baris, lalu bait demi bait, menjadi
puisi yang memiliki irama tersendiri. Irama yang takkan pernah sama dalam satu puisi
dengan puisi lainnya, karya penyair satu dengan penyair lainnya meski menulisan
dengan tema spesifik yang sama.
Puisi terus bekerja. Kita diajak merasa dalam bahasa. Bahasa menjadi sangat nyata
ketika dituangkan dalam puisi sebab menyatu dengan pikiran dan perasaan penyair.
Penyair mengungkapkan, berkreasi, menulis larik-larik puisinya berdasarkan
pengalaman pribadi. Puisi bukan sekadar proses kreatif berdasarkan pengalaman.
Puisi jauh lebih kaya sebab telah membuktikan tampilan verbal dari proses berpikir
yang dialami penyair. Puisi, hasil pemikiran dan perasaan yang dikistralkan.
Begitulah perasaan saya saat membaca buku puisi Laras Sekar Seruni, Solilokui.
Membaca buku puisi bagi saya selalu tak mudah sebab kata-kata dalam puisi terasa
sungguh agung dan bermakna tinggi. Laras berhasil meramu diksi-diksi dalam
puisinya menjadi irama yang berbeda-beda, membawa makna yang berbeda pula.
Saya melihat cara berpikir, cara pandang dan kepekaan yang konsisten di sana: apapun yang terlihat dengan mata, tercium oleh hidung dan tersentuh dengan tangan
adalah puisi yang belum jadi.
Laras merespons apa pun yang pernah terjadi dan ia saksikan sehingga irama dalam
setiap puisinya punya keunikan tersendiri. Membaca satu per satu puisinya membuat
saya meloncat terus menerus. Laiknya sebuah kamera, puisi-puisi Laras menangkap
realitas yang ada. Bukan hanya yang terlihat mata, puisi-puisi Laras mencerminkan
ungkapan pemikiran dan perasaan yang lugas. Saya akan mengambil tiga diantara
90-an puisi yang bisa mewakili.
Pemikiran Dalam Puisi
Kematangan berpikir Laras ditunjukkan dalam: “semalam, kita/lupa membaca/kisah
wanita/yang ditanam sembilu/di samping sungai berantas/deras/memeras
jentik-jentik/pusakanya/ke mana dia pergi/setelah/diperkosa waktu/yang seolah/abadi,
sayang?/masihkah/ia/meminang/rembulan/di/rerumput/ger-sa-ng/di/padang/bayang-ba
yang/?” (Perempuan Berkalung Bayangan). Laras tak hanya menuliskan pemikiran
dan perasaannya saja, ia menarik keduanya ke tengah persoalan yang lebih luas:
kemanusiaan dan negara. Dalam puisi berjudul Perempuan Berkalung Bayangan,
Laras menulis catatan “;untuk Marsinah dan orang-orang yang haknya dibungkam
kekuasaan.” Pikiran dan perasaan kita pun melayang jauh, mengingat perempuan
yang dihantam ketidakadilan di negerinya sendiri, Marsinah, aktivis dan buruh yang
diculik dan dibunuh di masa Orde Baru. Sejarah kelam yang menikam kehidupan kita
sampai sekarang, terbayang terus, bayangan Marsinah mengepung hidup.
Perempuan Bekalung Bayangan membawa kita kembali menengok sejarah.
Mengingatkan bahwa kita lupa. Ada luka yang belum terobati dan kita diajak untuk
menengoknya sesering mungkin. Kegelisahan itu harus ada sebab kita adalah manusia,
sama-sama warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Dalam Perempuan Berkalung Bayangan, kasus Marsinah kini hanya sebuah bayang.
Bayangan masa lalu yang terus menghantui masa kini bahkan masa depan kita. Di sini
kita bisa melihat, puisi punya kekuatan yang cukup besar untuk menumbangkan apa
yang salah dan menguak kebenaran.
Perasaan Dalam Puisi
Mendedah puisi mesti berkaitan dengan isi, inti dan nilai ciptaannya, bukan hanya
berkutat dengan penciptanya terus-menerus. Ada kaitan antara dunia pemikiran,
perasaan dan pengalaman Laras dengan isi ciptaannya. Sebagai misal dalam puisi
Lebaran, terdapat makna yang dalam dan personal: ”malam kita membisikkan sayup
sayap malaikat yang enggan pulang dari sisa embun di wajah bumi./tapi kita lupa, ibu
memasak sepanci kenangan tentang/lebaran yang dikunci tubuh pagi./kau masih di
situ, kan?/membawa sajadah yang lesap dipagut waktu, menjadi/manusia pertama
yang memakan ketupat berisi rindu”.
Lebaran serupa koin yang mempunyai dua sisi: suka dan duka. Banyak orang
memaknainya sebagai suka, tapi banyak pula yang yang menghadapi lebaran dengan
duka. Melalui puisi, Laras mengambil jalan lain. Ia mengkristalkan peristiwa di pagi
hari saat lebaran tiba. Menggunakan kelima indera dalam tubunya, ia tulis kata demi
kata. Kita sah memisahkan Laras dengan puisinya, tulisan dengan penulisnya.
Lebaran dalam puisi ini menjadi bukan hanya milik Laras, tapi milik kita yang bisa
menghadapi situasi paradoks di hari lebaran. Puisi Lebaran menyatukan horizon kita,
menyusun kembali puzzle hari itu, hari yang penuh bahagia, juga luka.
Laras memulainya dengan malam lebaran. Membisikkan sayup sayap malaikat yang
enggan pulang dari sisa embun di wajah bumi, tulisnya. Ia merasakan kesucian saat
malam lebaran, kesucian yang kuat, membuat para malaikat enggan beranjak dari
bumi menuju langit. Lalu ia menyambung dengan pagi: lebaran yang dikunci tubuh
pagi. Malam dan pagi lebaran terasa begitu cepat berlalu, padahal kita sedang
menikmatinya. Hanya saja, waktu seolah bergegas meninggalkan lebaran dan kita,
tanpa alasan yang bisa dimengerti. Kita pun tak tahu mengapa.
Sebuah pertanyaan menutup puisi Lebaran. Kau masih di situ, kan? Dan kalimat
pamungkas: manusia pertama yang memakan ketupat berisi rindu. Lebaran yang
bergegas akan mengingatkan kita pada hari-hari Ramadan yang syahdu. Waktu
panjang Ramadan yang terasa begitu pendek diberhentikan oleh Lebaran, satu hari
singkat dengan waktu yang bergegas pergi meninggalkan kita.
Senandika Dalam Kata
Seorang filsuf Jerman abad ke-19 bernama Friedrich Nietzche pernah menyatakan,
setiap penyair (penulis) tidak pernah merasa puas dengan realitas. Ia berusaha
mengubah realitas, menjadikannya lebih tertahankan, lebih bisa diterima, dan lebih
memuaskan baginya. Memperlihatkan kepada para pembaca kita bahwa ada sesuatu
yang salah dalam realitas dan dengan menulis. Secara tidak langsung, penulis ikut
terlibat membuat dunia ini menjadi tempat lebih baik dan lebih layak. Laras mencoba
melakukan itu: “jakarta membaca pagi yang tergelincir di samping
makam/ibundanya./dia kehilangan satu-dua ribu kaki-kaki yang biasa/menjejaknya,
setiap fajar bertandang, setiap bulan/menggenang./dia menunggunya pulang sekarang.”
(Senandika Jakarta)
Senandika atau solilokui ialah dialog penulisnya sendiri, wacana seorang tokoh dalam
karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk
mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut,
atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. Laras
melakukan monolog puisi atau senandika dalam setiap puisinya. Dalam Senandika
Jakarta, ia berkisah soal Jakarta yang pagi dan nasib hidup manusia. Puisi
memberinya ruang untuk berekspresi. Laras melihat Jakarta bukan hanya sebagai
harapan, ada kekecewaan di dalamnya dna kesia-siaan yang mungkin terjadi kapan
saja.
Begitulah senandika Laras terbentuk dalam puisi. Monolog dirinya sendiri,
pemaknaan atas apa yang terjadi di dunia dengan pikiran dan perasaannya. Monolog
puisi yang dituliskan menjadi ekspresi murni yang bisa dipelajari siapa saja, bahkan
bisa memberi pelajaran dan menciptakan ruang bagi monolog puisi milik orang lain.
Monolog yang tak hanya berisi kegelisahan, tapi juga kepekaan perasaan dan
pemikiran yang matang. Monolog yang membentuk irama kehidupan. Irama yang
berbeda dalam setiap kata dan peristiwa.
Puisi ialah medium untuk memperjuangkan sesuatu. Setiap penulis bahkan bisa
melawan ketidakadilan dan kedzaliman dengan menuangkan pikiran dan perasaan
dalam tulisannya. Laras, dengan sangat produktif, telah berusaha melakukannya.[]
Comments
Post a Comment