Skip to main content

Jadi Penulis Hebat Berawal dari Nulis Buku Harian


"Hai kawan,  apa kabar kalian?" Kalimat ini yang sering kali menjadi kalimat pembuka umum dalam buku harian. Buku harian, umumnya merupakan karya tulis pertama. Hasil torehan pena yang mendampingi perjalanan seorang penulis. Yah, rata-rata seseorang mulai menulis dari sebuah diary (buku harian).  Bagaimana ya kira-kira, yang dirasakan seorang pemula, di awal menulisnya? Berikut gambaran seorang pemula menjalani metamorfosisnya menjadi penulis superior. Sekaligus bisa menjadi tips bagi penulis pemula.

Pertama. Mencoba-coba, dan aku bisa menulis. Buku harian, adalah milik kita. Kita akan mengisi apa pun, itu hak kita. Bahkan jika kita memiliki masalah di sekolah dari teman-teman yang kurang menyenangkan. Buku harian ini yang siap sedia menerima curahan hati kita. Tulisan demi tulisan akan terukir hingga tercipta lembaran yang sudah penuh dengan tinta, jejak tarian pena. Yah, memang inilah yang akan menjadi kenangan. Yaitu saat pertama kali kita memulai menulis. Sekalipun sederhana. Awal menulis memiliki makna dan ruh yang luar biasa bagi karya tulisan kita selanjutnya.

Kedua. Tulislah kejadian sederhana yang kita alami. Buku harian merupakan teman setia di kala suka dan duka. Juga di kala sendiri. Waktu akan terus berjalan. Terkadang kita melewati banyak hal bersama teman-teman. Namun saat kita sendiri, semua akan terasa hampa tanpa kehadiran teman. Namun, hal ini tidak terjadi pada kita yang memiliki buku harian. Kok bisa? Teman-teman yang memiliki buku harian, bisa mengisi kesendiriannya dengan menulis  Yaitu menuangkan dalam buku harian apa yang telah berlalu hari ini. Bersama siapa saja. Menemukan hal baru apa saja. Termasuk apa yang kita rasakan. Bisa dituang dalam tulisan. Mengapa memulai dari hal sederhana? Karena menulis bukan dari kondisi tidak nyaman. Kita butuh waktu yang cukup untuk menuangkannya ke dalam buku harian. Kelak saat kita membaca tulisan kita. Sekalipun isinya tidak terlalu penting. Namun akan sangat berarti untuk pendewasaan karakter menulis kita selanjutnya. Dengan sendirinya kita bisa memilih tulisan seperti apa yang akan kita abadikan.

Ketiga. Gunakan bahasa sendiri. Hal ini sangat mudah. Bahasa sehari-hari, bisa langsung kita tuangkan dalam Yatulisan di buku harian. Sekalipun terkadang kandungan tulisan kita sederhana. Menulis sajalah. Nikmatnya menulis akan membersamai kemajuan berbahasa Indonesia kamu.

Keempat. Buat prinsip menulis untuk kebaikan. Buku harian terkadang juga perlu pergantian topik. Kamu bisa menulis kata-kata mutiara, pesan nasehat, pantun nasehat, mutiara hikmah dan lain-lain. Hal ini akan menjadi motivasi tersendiri bagi diri sendiri. Jika bingung memilih topik menulis. Kita masih bisa memulai menulis dengan mencari kata bijak yang ada dalam Alquran dan hadits. Lalu kita beri tambahan perasaan kita setelah membaca pesan dari kata bijak tersebut. Termasuk ajakan bagi diri sendiri untuk semangat meraihnya.

Kelima. Komunikatiflah dalam menulis. Pernahkan kita membuat surat? Mungkin sejak kita SD sampai saat ini, kita pernah membuatnya. Dengan kata pembuka yang nyaris sama. Yaitu : "Hai teman, apa kabarmu di sana? Semoga baik-baik saja. Keadaan kami di sini juga baik". Hal ini ternyata bisa dijadikan awalan untuk setiap tulisan kita. Sekalipun penulisan di buku harian. Dan pembacanya diri kita sendiri. Perlu lho, penulisan yang menyapa pembaca seperti ini. Ketika kita mengulang bacaan ini kedua atau kesekian kalinya. Kita tidak akan terasa bosan. Bahkan membaca buku harian seperti ini, bisa menjadi pelipulara, jika dalam keadaan sedih. Cobain deh! Dengan tulisan yang komunikatif akan terasa lebih akrab dan nyaman untuk dinikmati.

Demikian tips menulis buku harian, untuk teman-teman. Jika tekun, kamu bisa jadi penulis hebat! 

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...