Kemarin, di antara penatnya kesibukan di kampus yang
kebetulan hari itu sedang berlangsung UAS, aku dikagetkan dengan datangnya
pesan yang masuk di handphone jadulku. Sesaat ketika aku keluar dari ruangan
aku mencoba membukanya. Rupanya pesan itu dari tetehku—panggilan untuk kakak
perempuan—di rumah.
“De, bukunya udah dateng nih. Baru aja sehabis zuhur
tadi...”
“Buku apa?” tanyaku bingung, maklum karena ada beberapa
pesanan buku yang sedang aku nantikan.
“Buku Kejora yang Setia Berpijar itu. Aku buka yah!”
pintanya. Aku kaget bukan main. Setelah penantian yang cukup lama akhirnya
datang juga. Aku bingung harus menjawab seperti apa karena memang aku ingin
menjadi orang pertama yang membacanya.
“Dih, nanti aja sih, Ade dulu. Tunggu pulang dari
kampus!” aku menolak.
“Udah sih, nanti juga bakalan dibuka kan. Penasaran nih
mau baca.” Dia memaksa. Sudahlah aku pikir, bukankah memang itu yang diharapkan
setiap penulis? Karyanya dibaca orang lain. Aku teringat dengan ucapan Bunda
Aliya yang aku simpulkan seperti ini, “bahwa akan merasa sangat menyedihkan
bila suatu hasil karya tulis tidak ada yang mau membaca bahkan menjamahnya. Tak
masalah jika kritikan yang masuk, kita harus berbesar hati, karena dengan
adanya itu kita tahu bagus atau tidaknya suatu karya.”
Akhirnya aku membolehkan tetehku untuk membukanya. Pukul
tiga sore aku selesai dengan segala aktivitas di kampus. Aku bergegas untuk
segera pulang dan membaca semua hasil karya penulis yang ada di dalam buku
‘Kejora yang Setia Berpijar’ itu. Setibanya aku di rumah, sambutan hangat
menyapa keletihanku. Emak—panggilanku kepada Ibu—tersenyum begitu indah
menatapku. Wah hati ini begitu sangat senang dibuatnya. Setelah aku mengucap
salam, saat aku cium tangannya, Ibu berkata:
“Emak bangga sama kamu, De. Benar-benar gak disangka.
Kamu selalu memberi kejutan,” senyum Emak yang terus melingkar. Aku memang
selalu mendapatkan sesuatu melalui pos dan tidak pernah menceritakannya sebelum
semua ada di tanganku. Entah itu paket buku, kaos, makanan ringan, topi, dll dan
semua itu selalu aau dapatkan dengan percuma. Maksudnya karena menang dalam
mengikuti kompetisi yang ada di fesbuk. Dan yang benar-benar istimewa ada pada kiriman
kali ini. Karena di dalamnya memuat hasil karya tulisku. Dan ini perdana. Emak
berkata terharu saat membaca biodataku. Karena di sana tertera namanya dan nama
bapak.
“De, belum sempat Emak baca sampai tuntas, Emak menangis.
Terharu karena ulahmu. Emak bangga punya anak sepertimu,” ucapnya pelan dengan
mata yang berkaca-kaca.
“Nanti kalau kamu sudah jadi penulis terkenal, berangkatkan
Emak haji yah!” Emak yang mulai berandai-andai. Aku hanya menjawab dengan
senyum dan mengaminkan doanya. “Memang itu yang ingin aku lakukan Mak...”
ucapku dalam hati, dan sungguh aku serasa terpukul saat mendengar ucapan Emak
itu. Aku berjanji permintaan Emak itu akan secepatnya aku wujudkan, Insya
Allah.
Namun, layaknya Ibu-ibu pada umumnya, Emak langsung
menceritakan kepada saudara dan bibiku yang memang sedang ada di rumah. Mereka
segera disuruhnya untuk membaca puisiku yang hanya sedikit itu.
“Kamunya dapet dari mana De puisi ini?” tanya Bibiku
dengan sangat polosnya.
“Dari mana? Atuh dapet nulis sendiri geh. Masa nulis
punya orang, bisa-bisa kena denda dan hukuman undang-undang yang ada di buku
itu.” Aku tertawa geli.
“Gak tahu, sejak kapan dia bisa menulis puisi seperti
itu. Memang gak pernah cerita Ade mah orangnya. Tahu-tahu ada saja hasilnya,” sahut
Ibuku. “Tidak seperti kakak-kakaknya, yang pada gak suka bikin kejutan,” sambung
Ibuku. Teteh yang ada di sampingku memasang paras yang cemberut.
“Weh Mak, jangan salah, justru teteh inilah jurinya, sebelum
semua karya aku ikut sertakan dalam setiap ajang lomba.” Aku mencoba
membangkitkan semangatnya.
“Iya dong, weh saya juga ikut andil berarti...” Dia mulai
membanggakan dirinya disertai senyum kecutnya. Aku memang pribadi yang dikenal
sangat tidak terlalu suka membaca bahkan menulis. Ibuku tahu aku suka
menggambar dan menyanyi tidak jelas, itu yang sering didendangkan dalam
bibirnya. Namun dengan karya tulis pertamaku yang dibukukan ini, setidaknya
tujuanku sedikit terwujud. Aku memang ingin melihat Ibu tersenyum bangga karena
tingkah lakuku. Bahkan hingga meneteskan bulir air mata harunya. Dan itu akan
aku jadikan sebagai semangat baru yang akan aku tanamkan dalam diri sebagai
sebuah motivasi. Aku tidak ingin ada air mata karena tingkah ‘nakal’ku. Sudah
saatnya aku membuat mereka bangga.
Alhamdulillah aku haturkan. Dan untukmu FAM terima kasih
atas ‘bantuan’mu sejauh ini. Mungkin tanpa aku menemukanmu takkan ada air mata
bahagia itu. Dan FAMili semua terima kasih aku sampaikan. Aku bangga dapat
disandingkan dengan karya-karya terhebat kalian. Semoga kita dapat segera
berjumpa. Buku ini aku persembahkan untuk Emak, Bapak, Kakak, dan semua
keluarga terkasihku.
Sudah dulu yah, aku ingin melanjutkan membaca buku ini
lagi. Karena belum semuanya aku hayati dan resapi he-he-he.
Salam santun, salam karya.
ADE UBAIDIL
FAM1198M,Cilegon-Banten

Comments
Post a Comment