Partikel adalah kata tugas yang dilekatkan pada kata yang mendahuluinya. Ada tiga partikel dalam pembahasan ini, yakni sebagai berikut:
1. PARTIKEL -KAH
Kadang-kadang bersifat manasuka dan kadang-kadang bersifat wajib, bergantung pada macam kalimatnya. Kaidah pemakaiannya:
Membentuk kalimat tanya.
Contoh:
- Diakah yang akan datang?
(Bandingkan: Dia yang akan datang.)
- Hari inikah pekerjaan itu harus selesai?
(Bandingkan: Hari ini pekerjaan itu harus selesai.)
Jika dalam kalimat tanya sudah ada kata tanya, seperti apa, di mana, bagaimana, maka -kah bersifat manasuka. Pemakaian -kah menjadikan kalimatnya lebih formal dan sedikit lebih halus.
Contoh:
- Apa(kah) ayahmu sudah datang?
- Bagaimana(kah) penyelesaian soal ini jadinya?
- Ke mana(kah) anak-anak pergi?
Jika dalam kalimat tidak ada kata tanya, maka -kah akan memperjelas bahwa kalimat itu adalah kalimat tanya. Kadang-kadang urutan katanya dibalik. Tanpa -kah, arti kalimatnya bergantung pada cara kita mengucapkannya—dapat berupa kalimat berita atau kalimat tanya.
Contoh:
- Dia akan datangkah nanti malam?
- Haruskah aku yang mulai dahulu?
- Tidak dapatkah dia mengurusi soal sekecil itu?
2. PARTIKEL -LAH
Dipakai dalam kalimat perintah atau kalimat berita. Kaidah pemakaiannya:
Dalam kalimat perintah, -lah dipakai untuk sedikit menghaluskan nada perintahnya.
Contoh:
- Pergilah sekarang, sebelum hujan turun.
- Bawalah mobil ini ke bengkel besok pagi.
- Kalau Anda mau, ambillah satu atau dua buah.
Dalam kalimat berita, -lah dipakai untuk memberikan tegasan yang sedikit keras.
Contoh:
- Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah.
- Ambil berapa sajalah yang Saudara perlukan.
- Cara seperti itu tidaklah pantas.
- Dialah yang menggugat soal itu.
3. PARTIKEL -TAH
Dipakai dalam kalimat tanya, tetapi si penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya bertanya-tanya pada diri sendiri tentang hal yang dikemukakannya. Partikel -tah itu banyak dipakai dalam sastra lama, tetapi tidak banyak dipakai lagi sekarang.
Contoh:
Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?
Siapatah gerangan orangnya yang mau menolongku?
Demikianlah untuk dapat kita pedomani bersama.
Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buku: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
Penulis: Anton M. Moeliono
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta, 1998
Halaman: 247-249
1. PARTIKEL -KAH
Kadang-kadang bersifat manasuka dan kadang-kadang bersifat wajib, bergantung pada macam kalimatnya. Kaidah pemakaiannya:
Membentuk kalimat tanya.
Contoh:
- Diakah yang akan datang?
(Bandingkan: Dia yang akan datang.)
- Hari inikah pekerjaan itu harus selesai?
(Bandingkan: Hari ini pekerjaan itu harus selesai.)
Jika dalam kalimat tanya sudah ada kata tanya, seperti apa, di mana, bagaimana, maka -kah bersifat manasuka. Pemakaian -kah menjadikan kalimatnya lebih formal dan sedikit lebih halus.
Contoh:
- Apa(kah) ayahmu sudah datang?
- Bagaimana(kah) penyelesaian soal ini jadinya?
- Ke mana(kah) anak-anak pergi?
Jika dalam kalimat tidak ada kata tanya, maka -kah akan memperjelas bahwa kalimat itu adalah kalimat tanya. Kadang-kadang urutan katanya dibalik. Tanpa -kah, arti kalimatnya bergantung pada cara kita mengucapkannya—dapat berupa kalimat berita atau kalimat tanya.
Contoh:
- Dia akan datangkah nanti malam?
- Haruskah aku yang mulai dahulu?
- Tidak dapatkah dia mengurusi soal sekecil itu?
2. PARTIKEL -LAH
Dipakai dalam kalimat perintah atau kalimat berita. Kaidah pemakaiannya:
Dalam kalimat perintah, -lah dipakai untuk sedikit menghaluskan nada perintahnya.
Contoh:
- Pergilah sekarang, sebelum hujan turun.
- Bawalah mobil ini ke bengkel besok pagi.
- Kalau Anda mau, ambillah satu atau dua buah.
Dalam kalimat berita, -lah dipakai untuk memberikan tegasan yang sedikit keras.
Contoh:
- Dari ceritamu, jelaslah kamu yang salah.
- Ambil berapa sajalah yang Saudara perlukan.
- Cara seperti itu tidaklah pantas.
- Dialah yang menggugat soal itu.
3. PARTIKEL -TAH
Dipakai dalam kalimat tanya, tetapi si penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya bertanya-tanya pada diri sendiri tentang hal yang dikemukakannya. Partikel -tah itu banyak dipakai dalam sastra lama, tetapi tidak banyak dipakai lagi sekarang.
Contoh:
Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?
Siapatah gerangan orangnya yang mau menolongku?
Demikianlah untuk dapat kita pedomani bersama.
Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buku: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
Penulis: Anton M. Moeliono
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta, 1998
Halaman: 247-249
Comments
Post a Comment