Ahmad Fuadi, pria kelahiran Nagari Bayur, sebuah kampung
kecil di pinggir Danau Maninjau 30 Desember 1972, adalah seorang novelis,
praktisi konservasi, dan wartawan. Ibunya guru SD dan ayahnya guru madrasah.
Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk
masuk sekolah agama. Ia masuk Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo tahun
1988 dan lulus tahun 1992. Di sana dia bertemu dengan kiyai dan ustad yang
diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat.
Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana
tapi kuat, “man jadda wajada”, siapa yang bersungguh sungguh akan sukses.
Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak
kunci jendela-jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu
untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan
Hubungan Internasional, Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung dan lulus 1997.
Semasa kuliah, Ahmad Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika
mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada (1995-1996). Di
ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di
National University of Singapore dalam program SIF Fellowship (1997).
Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya TEMPO kembali terbit setelah Soeharto
jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, TEMPO
menerimanya sebagai wartawan (1998). Kelas jurnalistik pertamanya dijalani
dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.
Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba
terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di
School of Media and Public Affairs, George Washington University (2001).
Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya—yang juga wartawan Tempo—adalah mimpi masa kecilnya yang
menjadi kenyataan.
Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan
mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia
mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of
London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi
Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy
(2007-sekarang).
Fuadi menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan Arab serta
pernah menerima penghargaan (award) antara lain: Indonesian Cultural Foundation
Inc. Award (2000-2001), Columbus School of Arts and Sciences Award, The Goerge
Washington University (2000-2001), dan The Ford Foundation Award (1999-2000).
“Negeri 5 Menara” adalah buku pertamanya dari rencana
trilogi. Buku-buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir
pendidikan yang sangat inspiratif. Diharapkan buku ini bisa membukakan mata,
hati serta menebarkan inspirasi ke segala arah. Buku ini dalam waktu 9 bulan
sudah terjual 100 ribu eksemplar. Ini adalah rekor baru untuk semua buku lokal
yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama sepanjang 36 tahun ini.
Sebagian royalti buku ini diniatkan untuk merintis Komunitas
Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan
dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.
Sumber: negeri5menara, Wikipedia
[www.famindonesia.blogspot.com]

Comments
Post a Comment