Skip to main content

Untukmu yang Membuatku Tak Henti-hentinya Mencintai Dunia Literasi

Getasan, 14 Desember 2012

Teruntuk FAM yang tak henti-hentinya membuatku senantiasa mencintai dunia literasi.

Assalamualaikum Wr. Wb.

FAM, senang sekali rasanya kali ini aku bisa kembali menulis surat untukmu. Memang baru untuk kedua kali surat dariku untukmu, namun kali ini aku benar-benar menulis karena ada banyak cerita yang memang tak pernah aku bagi pada siapapun yang ingin sekali aku ceritakan padamu. FAM, sungguh event ini membantuku untuk lebih giat menulis, dan yang terpenting adalah untuk belajar berbagi apa yang aku rasakan. Dan untuk itu, aku sangat berterima kasih padamu FAM...

FAM, pertama-tama, aku akan bercerita sedikit tentang diriku. Dilihat dari suratku padamu sebulan lalu, mungkin semuanya sudah jelas bahwa sebenarnya aku adalah seorang yang dingin, tak pernah mau berbagi dan tak bisa memercayai orang lain karena egoku yang besar. Tak perlu kau mencari suratku dulu untuk membuktikan, pengakuan ini tak hanya aku yang menyimpulkannya. Namun, waktu demi waktu berlalu. Aku yang sebelumnya tak pernah menghabiskan waktu begitu lama di facebook dan internet, kini semakin sering melakukannya demi membuka grup dan situsmu, FAM. Dan setiap kali aku membuka, aku selalu mendapatkan pelajaran baru yang sangat bermanfaat, baik darimu, FAM, maupun dari para penulis-penulis hebat yang lain. Setiap tulisan teman-teman di grup selau memberikanku pemikiran baru dan perlahan membuatku mengerti bahwa keegoisan dan gengsi itu tak terlalu baik jika terlalu banyak ternanam dalam hati.

FAM, menulis itu harus ikhlas, kan? Sekarang aku bisa tersenyum saat menulis, FAM... sekarang aku pun bisa menangis saat mengetik kata demi kata yang merangkai cerita haru. FAM, sekarang aku tak malu lagi menumpahkan perasaanku pada orang lain.

FAM sahabatku, mengenai tema menulis kali ini: Jika aku menjadi penulis terkenal, aku akan..., sebenarnya aku tak begitu mengerti. Mungkin terdengar naif jika aku mengatakan bahwa aku tak ingin menjadi ‘penulis terkenal’. Namun itulah yang benar aku rasakan, FAM. FAM, izinkanlah aku kembali membagi kisahku...

FAM, pernahkah kau mendengar atau membaca sebuah novel berjudul “The Perks Of Being A Wallflower” karya Stephen Chbosky? Itu buku lama yang beberapa tahun lalu aku baca di perpustakan umum, FAM. Dan kau tahu? Mungkin buku itu adalah salah satu dari sekian buku yang membuatku ingin menulis. Buku itu yang terbaik, menurutku. Buku itu bercerita tentang Charlie, sang tokoh utama yang menulis surat kepada ‘kita’ (baca: pembaca) dan bisa membuatku merasa seperti benar-benar mendapatkan surat dari Charlie. Buku yang hebat, bukan? Meskipun aku tahu, semua buku yang dibaca dari awal dan diresapi hingga halaman terakhir selalu bisa membuat orang menemukan hal yang bisa membuat mereka suka pada buku tersebut. Bukankah begitu?

FAM, bukankah aku ini sangat bodoh? Sudah bertahun-tahun aku membaca surat-surat yang berada di dalam buku itu dan baru kali ini aku merasa benar-benar menjadi seorang Charlie? Baru kali ini aku benar-benar berniat mengungkapkan apa yang aku rasakan. Namun kali ini, aku tak ingin banyak membahas tentang itu. Mungkin di surat lain aku akan menceritakan padamu. Aku berjanji. FAM, dari sekian kata-kata yang membuatku tersanjung dalam buku itu, satu yang bahkan aku hafal adalah ketika Charlie mengungkapkan perasaannya tentang makna sebuah lagu baginya. Dia mengatakan:

“.... And I thought about how many people have loved those songs.
And how many people got through a lot of bad times because of those songs.
And how many people enjoyed good times with those songs.
And how much those songs really mean.
I think it would be great to have written one of those songs.
I bet if I wrote one of them, I would be very proud.
I hope the people who wrote those songs are happy.
I hope that they feel it's enough.
I really do because they've made me happy.
And I'm only one person.”

Kira-kira artinya seperti ini:

“... Dan aku memikirkan betapa banyaknya orang yang menyukai lagu-lagu itu.
Dan betapa banyaknya orang yang telah melalui masa-masa sulit karena lagu itu.
Dan betapa banyak orang yang menikmati masa-masa bahagia bersama lagu itu.
Dan betapa lagu itu benar-benar berarti.
Kurasa akan menjadi sebuah kebahagiaan jika bisa menulis satu dari lagu-lagu itu. Aku rasa jika aku menulis satu dari lagu-lagu itu, aku akan menjadi sangat bangga. Aku berharap mereka yang menulis lagu-lagu itu merasa bahagia.
Kuharap mereka merasa cukup karena itu.
Aku benar-benar berharap karena lagu-lagu itu telah membuatku bahagia.
Dan aku hanyalah seorang diri.”

Jika Charlie mengungkapkan betapa berterima kasihnya dia kepada sorang penulis lagu, aku mengibaratkan itu kepada seorang penulis buku. Aku sangat berterima kasih kepada setiap penulis, yang karya-karyanya telah membuat banyak orang sedih menjadi bahagia, membuat banyak orang bosan menjadi bersemangat, dan membuat mereka yang ‘hilang’ kembali menemukan tekad untuk menemukan jalan mereka. Tapi bukan hanya karena itu, aku ingin menjadi bagian dari orang-orang itu. Bukankah hebat bisa menjadi penulis sebuah buku yang bisa membuat orang bahagia, sedih dan terhanyut dalam setiap halaman buku tersebut? Kutebak iya. Akan sangat bahagia jika aku bisa menulis buku yang demikian. Itu impianku, FAM.

FAM, namun jika kuasa Allah jatuh kepadaku dan mempertemukan naskah-naskahku dengan sebuah keberuntungan sehingga aku bisa menjadi terkenal, aku ingin membuat sebanyak mungkin naskah itu dan membuat orang-orang yang tak bisa menemukan bukuku dengan berbagai alasan—terutama masalah ekonomi—bisa membaca guratan pikiranku dalam tiap halaman yang terjilid rapi dalam sebuah buku atas namaku. Bukankah menyenangkan bisa membuat orang bahagia, FAM? Namun hanya kehendak Allah yang bisa membuat semua itu bisa terwujud. Sebagai manusia, aku hanya bisa berhusaha sebaik mungkin. Berusaha menulis lebih baik-dan lebih baik lagi, berusaha melapangkan dadaku perlahan, berusaha untuk ikhlas dan melunakkan keangkuhan yang selama ini hinggap di diriku. FAM, kau bersedia membantuku, kan?

FAM, aku rasa cukup sekian ceritaku padamu. Semoga apa yang aku ceritakan tidaklah membuatmu mengantuk ketika membacanya. Terimaksaih telah membaca surat ini hingga akhir dan tidak mencoba untuk berhenti membaca walaupun sesungguhnya kau bisa melakukan itu.

Wassalam,

Salam Santun...

NOER AST

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...