Ibu saya sempat berlinang air mata ketika saya memutuskan
tidak akan bekerja sebagai analis kimia dan malah memilih menjadi penulis. Saya
butuh waktu hampir 2 tahun setelah menyampaikan keputusan saya untuk bisa
meyakinkan ibu saya. Saat itu pilihannya memang agak sulit. Saya menginginkan
untuk fokus mencurahkan perhatian saya kepada jalan yang saya pilih. Mungkin
keseriusan saya memilih jalan itu pada akhirnya membuat ibu saya merasa yakin
dengan keputusan saya.
Saat itu, sebenarnya dalam hati saya pun belum yakin bahwa
ibu saya merasa yakin dengan apa yang saya putuskan. Ya, tepatnya mungkin
memaklumi. Tetapi saya berjalan terus. Kukuh dengan pendirian saya. Sebagian
keluarga menganggap saya egois. Mementingkan diri sendiri. Tidak mau memerhatikan
orang lain. Bahkan ada seorang sepupu dari keluarga besar berseloroh: “Sayang
sekali ya, otak encermu agar bisa sekolah di sekolah idaman banyak orang pada
akhirnya tak dipakai ilmunya. Karena kamu memilih jalur profesi yang tak sesuai
keahlian utamamu. Otaknya buat saya saja atuh… hehehe…” Menyikapi komentar ini
saya hanya tersenyum. Tak berkomentar apapun, karena sudah sering saya
sampaikan alasan tersebut. Apalagi saya sebenarnya sudah mempersiapkan dengan
cukup matang, baik dari segi waktu maupun mental. Tidak tergesa-gesa.
Ya, untuk mempersiapkannya, sejak bekerja sebagai analis
kimia di sebuah perusahaan mie instan di Karawang waktu itu, saya sudah membeli
mesin tik seharga Rp275 ribu di tahun 1993 dari paman saya. Paman sayalah yang
membelikan mesin tik itu dan saya mencicilnya sebulan Rp25 ribu. Meski paman
saya kurang setuju dengan pilihan hidup saya, tetapi ia tak bisa melarang
‘kekerasan’ pendirian saya. Mungkin juga sekaligus ia ingin mengetahui seberapa
kuat saya melangkahi jalan pilihan saya.
Waktu itu usia saya 21 tahun. Mungkin orang tua saya dan
siapapun dari keluarga besar saya menganggap pilihan saya terlalu gegabah. Usia
muda yang meledak-ledak atas pilihan yang mungkin dianggap meruntuhkan semua
keinginan besar orang tua menjadi kambing hitamnya. Itulah yang banyak dibahas
di keluarga besar. Entahlah, mungkin mereka ada benarnya. Tetapi saya merasa
yakin bahwa pilihan saya sudah tepat dan saya tidak akan menyesali keputusan
saya walaupun pada akhirnya mengalami kesulitan.
Kini, alhamdulillah saya bisa menunjukkan bahwa saya mampu
tegak di atas jalan yang saya pilih. Walaupun bukan tanpa penderitaan.
Penderitaan tetap ada, tetapi saya insya Allah tidak terus mengeluh dan tidak
menampakkan keluhan di hadapan mereka. Ya, meski tak semua keluarga menunjukkan
ekspresi bahagianya setelah saya mampu berdiri, tetapi saya merasakan ada getar
bangga di hati mereka. Insya Allah.
Lebih dari sekadar
profesi
Bagi saya, menulis atau menjadi penulis bukan sekadar
profesi atau malah hobi. Saya memilihnya sebagai idealisme. Benar bahwa
kebiasaan saya menulis sejak SMP, waktu itu saya menyebutnya sebagai hobi.
Tetapi di kemudian hari saya lebih suka dengan pilihan kata “idealisme”.
Terutama setelah saya merasa senang dibombardir dengan bacaan-bacaan yang mengubah
cara pandang saya tentang Islam. Jika dahulu saya menganggap agama sebagai
ritual belaka, tetapi setelah saya aktif di remaja masjid sekolah, rajin
melahap bacaan yang waktu itu sangat baru bagi saya, Islam ternyata adalah
ideologi. Sebabnya, Islam mengatur urusan dunia sekaligus akhirat. Islam
mengatur akidah, dan juga syariat. Inilah yang membuat saya harus ikut andil
dalam menyebarkan syiar Islam, setidaknya melalui kemampuan saya dalam menulis.
Saya ingin menyampaikan indahnya Islam melalui tulisan yang bisa dijangkau
banyak orang. Ketimbang saya harus duduk dan mengajak banyak orang untuk datang
ke masjid, lalu saya menyampaikan apa yang saya ketahui. Maklum, saya waktu
sekolah punya keterbatasan secara lisan. Saya tidak bisa menyampaikan pesan secara
lisan di hadapan banyak orang. Rasanya lidah ini kelu. Sulit merangkai kalimat.
Jika sekarang alhamdulillah bisa dan berani, itu ternyata ‘efek’ dari kebiasaan
saya menulis (selain tentunya yang utama adalah atas izin Allah Swt.).
Waktu itu saya merasa bahwa menulis, adalah bagian dari
media penyampai pesan yang menggunakan sarana lebih maju. Media penyampai pesan
paling sederhana pada waktu itu adalah mading (majalah dinding). Ketika sebuah
tulisan tampil, yang membaca bisa puluhan bahkan ratusan orang. Dan, mereka
tidak protes langsung ke penulisnya sebelum menyimak sampai habis isi tulisan
tersebut. Jika secara lisan, mungkin saja ada yang memotong pembicaraan kita,
apalagi saat diskusi. Di situlah saya semakin yakin, bahwa saya harus menulis,
menulis dan menulis. Apalagi waktu itu saya merasa sangat kurang dalam
komunikasi secara lisan. Jadinya seperti menemukan jalan keluar untuk bisa
berkontribusi dalam syiar Islam, yakni melalui tulisan.
Ketika idealisme
dilawan periuk nasi
Hidup memang pilihan. Tetapi pada kondisi tertentu kita tak
bisa memilih keadaan seperti apa yang diinginkan. Pilihan dalam hidup hanya
terjadi pada prinsip. Bukan kondisi. Prinsip hidup memang harus dipilih. Jika
sudah dipilih, pegang erat, sekuat mungkin. Sebagai muslim, saya merasa bahwa
Islam adalah jalan hidup yang tak bisa ditawar lagi. Harga mati. Ini memang
terdengar sangat heroik atau berlebihan. Tetapi saya merasa inilah cita-cita
yang ingin saya raih dan berusaha mewujudkannya. Sementara kondisi kehidupan,
itulah yang tak bisa dipilih. Jika bisa dipilih, tentu semua orang akan memilih
yang baik-baik, yang menyenangkan, membahagiakan, dan jauh dari kesengsaraan.
Inilah yang kemudian saya menemukan dalam Islam sebagai
konsep ujian. Ujian adalah kondisi di mana kita harus kuat pada prinsip yang
kita pilih. Misalnya ujian keimanan. Seseorang yang sudah menyatakan beriman
tetap akan diuji, apakah keimanannya sudah lurus, tulus, benar dan kokoh meski
harus menghadapi ujian yang akan menyakitkannya. Allah Swt.berfirman (yang artinya):
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami
telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-‘Ankabuut [29]: 2)
Dalam ayat lain Allah Swt. menyampaikan firmanNya (yang
artinya): “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman
bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya
pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)
Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Besarnya pahala
sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila
menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya
manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR
Tirmidzi)
Dengan kedua ayat dan satu hadits ini, cukup rasanya bagi
kita bahwa apa yang kita pilih pastinya akan ada ujiannya. Tak terkecuali dalam
hal ini adalah keimanan yang kita pilih. Ini masuk ke ranah prinsip hidup
sebagai muslim. Maka, ketika seorang mukmin diguncangkan dengan dengan
kekurangan secara finansial, itulah ujian. Bersabar dan tidak mudah goyah untuk
meninggalkan prinsip hidupnya. Ia tak akan menggerus idealisme dan keimanannya
demi mendapatkan harta dan kekayaan agar terlepas dari kesulitan hidup. Maka,
seorang penulis muslim yang mukmin, tak akan gentar meski aktivitas menulisnya
tak dihargai dengan lebih banyak materi. Dia tak akan melunakkan isi tulisannya
dan tak akan mengaburkan ide-ide Islam yang murni hanya demi mendapat simpati
manusia dan berharap harta.
Dalam sebuah pertemuan antara penulis, penerbit dan toko
buku, seorang penulis yang saya kagumi ide-idenya berkomentar bahwa, “Sebagai
penulis saya ingin tulisan saya dibaca banyak orang. Ide saya sampai ke mereka.
Meskipun bagi penerbit dan toko buku, karena mereka bisnis, akan memilih
buku-buku yang menurutnya laku dijual di pasaran.”
Ini sebagai wujud ungkapan perasaan yang terdalam dari
seorang penulis. Ia ingin agar buku-bukunya bisa diterbitkan meski mungkin
isinya tak populer di kalangan pembaca awam. Karena misinya adalah dakwah.
Sementara misi penerbitan dan toko buku berbeda. Mereka jualan. Meski pada
akhirnya bisa dicarikan solusinya, dengan tidak mengorbankan idealisme
sepenuhnya, misalnya dengan menulis tema-tema yang ringan tetapi masih ada
pesan ideologisnya, tetapi rasanya memang belum optimal mempertahankan
idealismenya. Tetapi itulah pilihan prinsip hidup. Idealisme harus dijaga
dengan kuat, meski pada akhirnya ada yang dikorbankan, yakni tak terisi
penuhnya periuk nasi.
Saya dan kawan-kawan saat mengelola majalah remaja (kini
sudah ‘wafat’ medianya) pernah juga diberikan pilihan oleh seoarang calon
investor: akan diberikan kucuran dana, tetapi syaratnya isi majalahnya harus
menyuarakan kampanye salah seorang kandidat bupati di salah satu daerah. Mereka
berkepentingan menjaring suara pemilih pemula yang membaca majalah remaja kami.
Dari kucuran dana yang ditawarkan—jika mau—cukup akan memberikan majalah
tersebut terbit sebulan sekali dan hidup setidaknya 5 tahun ke depan dengan
tanpa perlu susah payah mencari iklan. Apa yang dilakukan saat itu? Bukan
sombong, kami menolaknya. Secara kasarnya, lebih baik sengsara ketimbang
bergelimang harta tetapi mengorbankan idealisme dan keimanan kami.
Tetap mencari solusi
terbaik
Bagi seorang mukmin, harus siap dan tegar hadapi berbagai
kondisi. Meski demikian tentu saja tetap mencari solusi terbaik. Menulis
misalnya, jika masih ada ide yang bisa diproduksi tanpa harus mengorbankan
idealisme, teruslah menulis. Meskipun yang ditulisnya sebatas motivasi atau
tips-tips jalani hidup. Tetapi agar terasa hangatnya mabda Islam, pembaca bisa
digiring kepada pemahaman bahwa Islam harus diperjuangkan dan ditegakkan agar
motivasi dan tips-tips jalani hidup lebih ideologis. Bukan semata kebutuhan,
tetapi memang kewajiban.
Untuk satu alasan ini pula, saya dan kawan-kawan insya Allah
bersikukuh menerbitkan buletin remaja gaulislam,
dan digratiskan. Tentu saja bukan karena saya dan kawan-kawan di manajemen gaulislam sudah kelebihan dana, tetapi
kami ingin memberikan kontribusi nyata. Alhamdulillah,
ikhtiar saya dan kawan mendapat banyak dukungan dari kaum muslimin secara umum.
Inilah kontribusi nyata yang bisa kami berikan untuk mendukung tersebarnya
dakwah Islam, khususnya di kalangan remaja. Maka, mengalirlah para donatur yang
mau menafkahkan hartanya di jalan dakwah. Buletin gaulislam diberikan secara gratis. Bagi sekolah di luar daerah
Bogor, hanya dikenakan biaya ongkos kirim saja. Tetapi jika sekalian mau
memberikan infak juga tidak akan kami tolak.
Keputusan menerbitkan buletin gaulislam dan mendistribusikannya secara gratis insya Allah adalah
pilihan terbaik untuk saat ini. Kami tidak ingin membebani pihak sekolah dan
para siswa dengan segala pungutan. Semoga saja dengan digratiskannya buletin
gaulislam akan lebih banyak remaja yang mengenal Islam dengan benar dan baik.
Tidak itu saja, edisi onlinenya juga kami berikan cuma-cuma alias bisa diunduh
bebas di website resminya [www.gaulislam.com]. Untuk menambah daya jangkau kami
juga bekerjasama dengan 2 radio di kota Bogor untuk menyiarkan talkshow,
konsultasi dan bedah buletin setiap pekannya. Alhamdulillah, perkembangan
terbaru, kami di manajemen gaulislam
mengeluarkan fasilitas streaming
(siaran online) agar suara dakwah gaulislam
bisa didengar hingga ke mancanegara. Anda bisa mengunjungi di
[live.gaulislam.com]. Insya Allah ini salah satu contoh solusi terbaik dari
ikhtiar kami menjaga idealisme, dan mohon doa serta dukungan dari berbagai
pihak agar ‘proyek’ dakwah ini berjalan lancar. Kepada Allah Ta’ala jualah kita
menyerahkan semua urusan kita. Allah Swt. adalah sebaik-baik penolong.
Menutup tulisan ini, saya ingin mengingatkan kita (terutama
bagi saya) bahwa Islam adalah jalan hidup yang harus kita pilih. Dan, dakwah
adalah jalan cinta para pejuang Islam. Menulis, adalah bagian dari media
penyampaian pesan yang bisa dikemas dengan lebih baik dari waktu ke waktu dan
dipadukan dengan banyak media penyampai pesan lainnya, sehingga kekuatannya
dalam menggalang opini bisa dimaksimalkan. Selain itu, kita harus meyakinkan
diri dan memastikan bahwa idealisme (terutama keimanan) kita tak tergerus
apalagi digadaikan demi terpenuhinya periuk nasi kita. Itu sebabnya, kita mulai
luruskan niat, maksimalkan ikhtiar dan biarlah Allah Swt. menyempurnakan upaya
kita. Insya Allah keberhasilan akan kita raih tanpa harus mengorbankan
idealisme.
Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,
O. SOLIHIN
Sumber: MENULISKREATIF.com

Comments
Post a Comment