Skip to main content

Dan, Karena Si Jabang Bayi Inilah Aku Semakin Semangat Menulis

Anjir Muara, 21 Desember 2012
Untuk FAM Indonesia
di sebelah timur laut Kota Kediri

Assalamualaikum Wr. Wb...

Pertama-tama kupanjatkan puji syukur kepada Allah, hari ini jariku masih bisa berfungsi mengetik surat ini untukmu. FAM, aku senang sekali, aku masih diberikan kesempatan menulis surat di forum ini. Melalui surat ini, ada cerita suka cita yang ingin kubagi padamu dan teman-teman lainnya yang kujanjikan tempo hari. Bukan hanya itu, mimpiku jika aku menjadi penulis terkenal pun ingin kututurkan melalui surat ini. FAM, banyak harapan yang ingin kusemai bersamamu. Kuharap kau tak jemu membaca tulisanku hingga di akhir ceritaku.

FAM, surat ini kulayangkan untukmu tanpa mengurangi rasa hormatku padamu. Mungkin kau sedikit kaget dan bertanya-tanya, mengapa aku sempat menghilang hampir satu bulan lamanya dari dunia maya? Muncul sesaat saja lalu menghilang seketika, dan selama satu bulan ini aku juga jarang memposting tulisan di berandamu. Aku sangat yakin kau selalu memerhatikan keaktifan anak-anak didikmu di forum ini, termasuk tenggelamnya aku secara tiba-tiba. Tahukah kamu FAM, aku pun merasakan itu. Rasa kehilangan merajut hari bersamamu yang tak kukehendaki, tapi ini terjadi di batas kemampuanku sampai aku mengetahui penyebabnya. Penyebab rasa sakit yang tengah kuderita seakan ada batas di antara kita, padahal itu tak ada. Tak ada batas, apalagi pembatas. Aku tak jenuh bersamamu, tapi rasa sakit yang menimpaku mengharuskan aku lebih memperhatikan kondisiku.

Sudah lebih satu bulan tubuhku dirundung sakit, sakit di sekujur tubuhku yang membuat badan dan kepalaku ngilu. Setiap kali aku berada di depan komputer, peluh dingin selalu mengalir di sekujur tubuhku, membuat tubuh ini menjadi getir tak tertahan. Bahkan di minggu ketiga bulan November kemarin, Seandainya saat itu aku tak berjanji membawa anakku ke Taman Safari di Jawa Timur karena ia meraih prestasinya di sekolah, mungkin aku tak akan pergi. Tapi semua rasa sakit di tubuhku kukemas dengan baik di balik senyuman. Tak ada satu orang pun yang melihat sakit yang kuderita, kusimpan sendiri dalam rasa takut yang amat besar, penyakit gerangan apa kiranya yang kuderita? Kesibukanku bekerja tak membuatku berkesempatan untuk memeriksakan diri ke dokter. Sampai akhirnya aku benar-benar tak mampu lagi menyimpan semuanya sendiri, badanku benar-benar kehilangan energi, di tempat kerja aku pun jatuh pingsan dan dua rekan kerjaku segera melarikanku ke rumah sakit. Satu hal yang mengejutkanku, penyebab rasa sakitku. Sakit yang sempat kuabaikan, padahal membuat tubuhku getir siang malam. FAM, benar kau ingin tahu? Baiklah akan kuceritakan nantinya...

Tahukah kamu FAM, selama aku sakit, aku tak menyia-nyiakan kesempatan mengikuti event menulis di forummu. Bahkan dalam keadan sakit pun aku tetap mengikuti beberapa antalogi puisi, dalam antalogi itu karyaku lolos keduanya. Terlebih ketika aku membaca postingan Mbak Aliya yang judulnya "Berkaryalah Sebelum Kehilangan Semuanya" Aku merasa ditampar keras, seakan aku pun harus mengikuti naluri hatiku, mengikuti jejak Mbak Aliya yang memotivasiku.

Bahkan saat ini, jari-jari ini mulai getir lagi menulis surat ini. Aku diam sejenak, memejamkan mata, menghilangkan pening ini, dan ketika kubuka mata, kucoba merangkai kata demi kata lagi. Menghapus getir, dan menumbuhkan semangat di antara lemahnya tubuh yang mulai dibasuh oleh keringat dingin antara dada hingga menembus wajah dan kulit kepala.

FAM, aku tak ingin kau turut cemas karena kegetiran yang menggerayangi tubuhku ini. Baiknya kuceritakan saja di sini. Saat aku pingsan beberapa minggu yang lalu, berita suka cita tiba-tiba datang mengejutkanku. Bahwa aku bukanlah sakit biasa. Rasa sakit yang kuderita ini nikmat, nikmat tetapi sakit. Inilah penyakit tengah diderita ibu hamil. FAM, selama ini aku tidak menyadari kehamilanku. Yang kurasakan hanyalah aku kehilangan nafsu makan, ternyata itulah penyebab tubuhku menjadi lemah dan lesu. Aku dan keluarga merasa bahagia dengan calon anggota baru keluarga yang masih bertumbuh kembang di perutku. Dan jabang bayi ini jugalah, menjadi penyemangatku menulis saat ini.

Setiap orang punya mimpi, aku pun juga. Aku ingin menjadi penulis yang terkenal. Aku tak ingin tenggelam dalam dunia yang kusenangi meskipun aku tengah berbadan dua. Rasa mual yang setiap hari kuderita, bukan berarti aku harus pupus dalam pengharapan dan doa, bukan berarti keinginan menjadi penulis terkenal itu harus kuhapus begitu saja. Mungkin ini hanyalah masalah waktu yang membuatku sempat tertinggal dengan karya. Inilah penyakitku FAM, sama seperti kehamilanku yang pertama. Berbulan-bulan lamanya aku hanya mampu berbaring di tempat tidur, bahkan aku tak mampu melihat cahaya matahari karena itu akan membuat aku ingin pingsan. Aneh memang, tapi inilah diriku ketika mengalami masa kehamilan, FAM.

FAM, mungkin keinginanku sedikit berbeda dengan teman-teman lainnya. Jika aku menjadi penulis terkenal, aku sering bermimpi suatu hari nanti aku bisa membuka sanggar menulis bukan hanya untuk anak-anak yang punya kemampuan yang mahir dalam bercakap, berbahasa lugas, menulis aktif, tumbuh sempurna karena kodratnya, tapi aku juga ingin membuka sanggar menulis ini untuk anak-anak autis dan anak-anak yang berkemampuan terbatas. Aku ingin melihat karya mereka turut serta mengisi dunia. Di mataku, orang yang terlahir sempurna karyanya sudah biasa menghias dinding media baca tulis di Indonesia. Bagaimana jika itu bisa dilakukan anak-anak yang hidupnya dalam keterbatasan? Aku yakin mereka pun punya kemampuan untuk berkembang menjadi generasi gemilang yang tak kalah dengan anak-anak lainya jika dididik dalam wadah menulis yang menyenangkan.

FAM, aku berdoa semoga suatu hari nanti mimpi ini akan terwujud, dan kita bersama-sama mengibarkan bendera FAM di seluruh penjuru kota. Jika aku menjadi penulis terkenal, orang yang kuperkenalkan pada dunia terlebih dahulu adalah kamu, FAM. Kamulah sosok pengharum nama-nama tempat nantinya kami berjaya. Harapanku dan harapanmu mungkin satu, aku ingin menulis bersama FAM, lalu berperan mendongkrak dunia dengan berdirinya sanggar-sanggar yang mudah-mudahan bisa kubuka nantinya di bawah bimbingan FAM Indonesia. Aamiin ya rabbal alamain.

Terima kasih sudah mengijinkan aku menulis surat untukmu ya, FAM. Semoga dilain waktu aku bisa menulis surat untukmu lagi, bukan hanya dariku tapi juga dari tangan mungil anak-anakku.

Salam santun,

LINA SAPUTRA
IDFAM1034U, Banjarmasin

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...