Skip to main content

Menjadi Penulis Terkenal Bagi Saya Bukanlah Tujuan



Kepada Ydh.
FAM Indonesia

FAM yang baik, sudah lama saya ingin menulis surat kecil seperti ini, tapi tak pernah tahu, akan ditujukan pada siapa? Senang sekali rasanya dapat berbagi di sini. Menjadi penulis terkenal? Tentu saja itulah cita-cita saya. Siapa yang tak ingin meraih impian itu? Tentu, terkenal bagi saya bukanlah tujuan, tetapi bagian dari proses perjalanan kepenulisan saya. Dan nanti, ketika semuanya telah terwujud, saya ingin abi dan umi tersenyum bahwa mereka dapat melihat ka’bah dari dekat, menikmati masa tua mereka dengan beristirahat, tidak perlu banting tulang lagi, seperti yang sudah-sudah. 

Sebelum itu, tentu saja saya ingin memberikan pengobatan yang baik dan menyembuhkan untuk ibu saya yang sedang sakit parah. Sembilan bulan sudah beliau menanggung penyakit ini. Tapi entah kekuatan dari mana saya selalu menanamkan pikiran baik pada ibu, seperti: sabar mak, mungkin Tuhan sedang menegur kita, atas kesalahan yang pernah kita buat, tapi kita belum menyadarinya. Atau seperti: ikhlas saja mak, sakit, yang diberikan Tuhan seringkali sebagai ujian, yang mana, jika ikhlas dan tidak berpaling, insya Allah Tuhan akan berikan jalan kemudahan (sebagai mana yang ditulis oleh seorang sahabat di inbox saya, ketika saya berkeluh kesah padanya).

Ternyata berpikir baik itu memang penting, Sob. Ketika kita sendiri merasa tak ada harapan, dan kita baca pikiran orang pun demikian sama, hal yang harus kita lakukan adalah ikhtiar dan berdoa (sesungguhnya Tuhan malu menolak doa hambaNya yang benar-benar berharap padanya). Anggap saja penyakit ini sebagai jalan Allah untuk membakar dosa-dosa kita yang menggunung, bukan begitu?

Ya, tapi masih ada lagi, Sob. Selain itu, saya juga ingin buka toko, toko besar insya Allah, (sukses, berawal dari mimpi, kan?). Saya juga ingin punya toko yang suatu saat nanti akan kuhadiahkan untuk kesembuhan ibu, dikelola abak, demi kelanjutan sekolah adik-adik saya. Saya tidak ingin orangtua tiap hari bolak-balik pasar lagi. Bukan karena tidak adanya rezeki, tentu saja bukan itu. Pekerjaan orangtua saya dari dulu adalah mencari nafkah di pasar, bahkan ketika saya belum ada. Saya hanya tak ingin, kejadian lama terulang lagi. Ketika setiap kali pulang pasar, selalu saja bertengkar, masalahnya, biasalah, orang iseng, syirik, dan selalu bikin ‘panas’ amak.  Mereka sangat terobsesi dengan kandasnya rumah tangga orangtua saya. Ya, saya pernah berpikir untuk menyerang mereka, ketika emosi di puncak ubun-ubun. Tapi saya kembali berpikir, saya tak punya bukti apa-apa. Nanti ketika saya menyerang mereka, atas dasar apa? Perasaan? Atau saya pikir? Huh! Tentu saja itu gila. Saya tidak ingin suatu yang sia-sia, Sob. Dengan saya “malameh” mereka, tentu saja saya yang akan berurusan dengan polisi.

Kembali pada cerita awal, saya hanya ingin abak dan amak tenang di rumah, tanpa ada yang usil dengan tingkah polah iblis yang berkedok manusia. Saya hanya ingin memberi sedikit ketenangan bagi mereka dihari tua, sudah cukup rasanya mereka banting tulang, sekarang giliran saya. Anaknya yang merasa ingin berguna. Ingin berbakti pada mereka. Selama ini aku hanya bisa mengeluh, meminta, merengek. Dan sekarang, cukup sudah semuanya, saya ingin berguna bagi mereka.

Dan yach sob, terakhir, saya ada satu keinginan lagi, jangan mengeluh, hehe.. saya ingin bikin panti di daerah saya, entah itu panti asuhan, panti jompo, atau apalah. Yang pasti, saya hanya ingin ada panti, itu saja. Dari surat kecil saya ini, saya tidak pernah bercerita tentang diri saya sendiri ya? Saya rasa tak terlalu pentinglah, karena bahagia saya tergantung bahagianya orang-orang yang saya sayangi. Saya rasa mungkin banyak orang-orang seperti saya ini, kan, ya sudahlah FAM, sekian dulu surat dari saya, lain kali, jika keadaan lain dan lebih baik, mungkin surat saya akan lebih baik juga. Insya Allah.

Wassalam,

Yosi Gusnilawati (Yosiguwa)
FAM700U, anggota FAM Indonesia yang berdomisili di SOLOK, Sumatera Barat.

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...