Kepada
Ydh FAM Indonesia
di tempat.
Dengan hormat,
FAM Indonesia yang baik, terima kasih telah mengizinkan saya
menulis surat di sini. Kutulis surat ini untuk FAM, sekalian untuk almarhumah
ibuku, juga untuk dibagikan ke pembaca agar mereka tahu isi suratku adalah
nyata isi hatiku. Seiring bunga flamboyan berjatuhan di halaman belakang
rumahku, seketika itu juga kutulis kisah "Suka Duka Menjadi Penulis"
yang pernah membungkus airmataku di perjalanan panjang kisahku, dan puncaknya
ingin kubagi melalui surat ini.
FAM yang baik, aku pernah berpikir dalam hatiku sampai kapan
pun aku tak akan pernah menjadi penulis. Dulu sekali, ketika ibuku masih ada di
dunia, beliau pernah mengatakan padaku untuk selalu mendoakanku. Dan beliau
pernah bertanya di usia umurku yang berjanjak sepuluh tahun, apa cita-citaku di
masa depan? Aku hanya menjawab, aku adalah anak yang tak punya cita-cita dan
aku hanya ingin melihat orangtuaku bahagia. Ibuku lalu berkata, miskin harta
bukan berarti tidak punya cita-cita. Seketika itu juga airmataku mengalir,
kuutarakan perasaanku sebenarnya kepadanya bahwa aku ingin menjadi penulis.
Tapi mungkikah itu kesampaian? Betapa mustahilnya cita-citaku dengan kodratku
yang terlahir dari keluarga yang pas-pasan.
Setahun berlalu, setelah itu ibuku meninggal dunia. Masih
teringat jelas pesan terakhirnya di telingaku bahwa aku tak boleh berkecil hati
dengan mimpiku karena keterbatasanku. Di mana pun nantinya orangtuaku berada,
ayah dan ibu akan senantiasa mendoakanku. Sepahit apapun hidup ini, aku akan
meneguk madu yang manis setelahnya. Takdir berjalan di tangan Tuhan, yang
bercita-cita mulia dan tak berputus asa akan meraih mimpinya suatu saat.
Benarkah itu? Aku berpikir itu hanya lelocun seorang ibu untuk menyemangati
anaknya yang akhirnya ibu tinggalkan aku dalam nyata. Pengap hati, kelam pikiran
dan suramnya harapan terus menghujaniku. Cita-citaku semakin tenggelam karena
aku menyadari keterbatasanku, keinginan menjadi seorang penulis mungkin
hanyalah mimpi yang hanya akan membelengguku. Beberapa kali aku pernah
terhempas dan terjatuh, beberapa kali juga aku berdiri dan berlari mengejar
mimpiku. Tapi apa yang kudapat, semua hanyalah semu bak harapan yang tak
bertuan. Deburan kepiluan, kepahitan dan kehampaan di antara kisah perjalanan
mimpi yang ditentang oleh orang-orang terkasih pernah membuatku terpuruk.
Bayangkan saja, saat menjadi anak yang bukan dari kalangan berada, mahalnya
ekonomi untuk bersekolah sastra adalah kendala yang pertama. Setelah menikah,
modal ada tetapi restu tiada. Tak juga kudapatkan izin dari suami untuk
meneruskan cita-cita yang pernah tertunda.
Namun, akhirnya semua gundah gulanaku sirna. Terima kasih
FAM Indonesia, akhirnya kau hadir dalam hidupku dan menghapus semua egoku. Lalu
kau kuatkan aku layaknya batu karang yang harus kuat diterpa sang ombak.
Belajar menulis online ala FAM adalah pilihan yang tepat untuk orang-orang yang
kesusahan mencari wadah menyalurkan hobi yang bercita-cita menjadi penulis.
Dengan senyum bangga suami pun turut mendukung langkahku. Katanya, "Apalagi
yang harus kau tunggu, biaya murah dan sangat terjangkau. Tempat seperti inilah
yang kuharapkan untukmu, agar aku bisa selalu bersamamu. Tanpa khawatir kau
berada di luar sana, cukup di rumah pun kau pasti bisa menjadi penulis."
Akhirnya kuputuskan bergabung bersama FAM Indonesia adalah keputusan yang kami
pilih bersama. Dengan restu suami dan kepercayaanku yang kuat di antara
tangan-tangan yang mendorong langkahku, Mas Muhammad Subhan dan Mbak Aliya Nurlela
beserta teman-teman anggota FAM Indonesia turut berperan menyemangatiku.
Ternyata benar, orang yang ingin bertemu dengan pelanginya
ia pun harus bersabar lebih dulu menanti hujan reda. Karena di balik mentari
setelah hujan, pasti ada pelangi indah yang dijanjikan Tuhan. Bahkan aku
percaya, doa ibu serta restu dari orang-orang terkasih adalah pembungkus
senjata keindahan yang akan menemui jalan terang di akhir cerita.
FAM... kini berkatmu aku bisa menjadi penulis, bahkan
karyaku telah dibukukan dalam bentuk novel "Sabda Cinta di Atas Nama
Tuhan" yang diterbitkan FAM Publishing. Ibuku, novel pertama ini
kupersembahkan untukmu. Semoga kau di alam sana tersenyum bangga melihatku dan
terus mendoakanku meski kita kini ada di dunia yang berbeda. Doamu nyata, dan
kasihmu selalu hidup dalam keajaiban mimpiku.
Salam santun,
Lina Saputri
FAM Banjarmasin,
Kalimantan Selatan.
[Sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment