Oleh: Dedi Saeful Anwar
Salam santun!
Dedi Saeful Anwar (IDFAM-1196U)
Dalam hidup setiap manusia pasti pernah mengalami
hal yang membuat menangis dan tersenyum. Sedih juga bahagia, sehat serta sakit
adalah bagian dari rasa dan keadaan yang selalu menyapa keseharian kita. Namun
persoalannya, sejauh mana kita mampu memaknai perasaan itu. Kita diajarkan
untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, begitu pula sebaliknya, tidak
seharusnya kita terjebak dalam euphoria
kesenangan atau kebahagian. Akan lebih bijak seandainya kita mampu menakar rasa
senang dan sedih itu dalam porsi yang sewajarnya.
Atas dasar itu semua, saya berusaha menafsirkan
sebuah senyuman. Apakah senyuman itu memang ekspresi dari rasa senang atau
sebuah senyum hanya untuk menutupi perasaan duka mendalam yang sudah terlalu
sering menyapa? Berawal dari interaksi dengan kepolosan seorang gadis kecil
yang mampu mengiris hati manakala ia mendapatkan sebuah ketidakadilan dalam
hidupnya hanya karena keterbatasan yang ia miliki. Sementara tiada satu pun
manusia di bumi ini yang meminta terlahir dalam ketidaksempurnaan. Malah
sebaliknya, kita yang memiliki kesempurnaan fisik, terkadang sering melakukan
hal yang tanpa disadari bersikap jauh dari rasa beryukur.
Ada rasa pedih manakala menyaksikan ketidakadilan yang
nyata dan menohok mata. Lantas mengetuk
hati untuk berbuat sesuatu, berharap bisa mengobati hati yang terlanjur lirih. Menuangkan
perasaan ini dengan menulis, inilah yang mampu saya lakukan. Banyak orang yang melakukan
aksi protes akan ketidakadilan, dengan cara melakukan demontrasi turun ke jalan
sambil mengusung spanduk yang bertuliskan kata-kata umpatan juga hujatan. Tidak
sedikit pula yang berkoar menyuarakan perasaannya melalui corong pengeras suara
dengan segala sumpah serapahnya. Semua sah-sah saja, asalkan menuhi aturan yang
berlaku.
Sementara bagi saya media untuk menyuarakan hati
atas apa yang dilihat, didengar dan dirasakan adalah melalui tulisan. Sebuah tulisan
atau rangkaian kata diharapkan mampu mengekspresikan atau mengungkapkan pikiran
dan perasaan. Sehingga tulisan itu akan sampai
di hadapan para pembaca. Bahkan, berharap pula mampu menembus sekaligus
merubuhkan tembok ketidakadilan yang angkuh. Hingga melintasi ruang dan waktu.
Berbicara ketidakadilan, hampir setiap orang pula
pernah mendengarnya, melihat bahkan mengalami dan merasakannya. Reaksi atas
fenomena ini tentu saja berbeda bagi setiap orang dalam menyikapinya. Setiap
hari kita pun sering mendengar dan melihat berbagai pemberitaan tentang ketidakadilan. Baik melalui media
cetak maupun elektronik. Semua berjejal memenuhi ruang otak kita yang hanya
sekepalan tangan ini. Jika tak mampu meredam semua itu, kiranya meledaklah otak
ini yang tidak mustahil akan berwujud menjadi sebuah schizophrenia.
Bersyukurkah kita, bahwa Allah SWT memberikan kita qolbu (hati). Dengan hati kita mampu
menyaring dan menahan luapan emosi yang menjejali otak kita setiap hari. Dengan
hati kita mampu berempati, dan dengan hati pula kita mampu mengobati luka hati.
Untuk itulah, saya berusaha memotret semua bentuk ketidakadilan dalam denyut
nadi kehidupan di negeri ini, menjadi rangkaian kata dan kalimat sederhana
namum berharap mampu diterima semua lapisan.
Awalnya, saya menulis dalam bentuk puisi atau opini
mini. Kemudian menuangkan beberapa tulisan tersebut ke dalam buku harian/diary. Ada pula yang berbentuk sebuah file yang diketik lalu disimpan dalam sebuah
flash disk. Bahkan sekali waktu
pernah flash disk tersebut terbakar dalam
sebuah CPU saat menggunakan jasa
rentalan komputer. Hilanglah semua arsip itu. Mereka raib tak terselamatkan. Mengenaskan!
Setelah kejadian itu, saya berusaha menyimpan data-data
tulisan lainnya dalam akun e-mail.
Hingga kini surat elektronik yang sudah
berumur belasan tahun itu masih menyimpan tulisan-tulisan yang sudah cukup lama.
Entah dari mana ide itu, saya hanya terdorong sebuah keinginan, bagaimana
caranya agar file/ data hasil tulisan
itu bisa aman dalam jangka waktu yang lama. Saat itu di dalam benak pernah
terlintas untuk membuat blog. Hingga saya belajar membuat blog melalui buku
panduan yang dibeli pada awal tahun 2000-an. Namun hal tersebut tidak terwujud
karena ketika itu belum memiliki PC sendiri.
Dulu saya sering mengetik di rentalan komputer,
komputer milik saudara atau menggunakan fasilitas komputer di sekolah tempat
saya bertugas. Namun dengan berkurangnya intensitas ke warnet, akhirnya saya mengarsipkan tulisan-tulisan
itu dalam beberapa keping compact disc.
Hingga dari beberapa tulisan itu ada yang berumur hampir sepuluh tahun.
Pertengah 2001 saya mencoba menulis beberapa cerpen
dan carpon (carita pondok) cerita pendek yang berbahasa Daerah (Sunda) dalam
buku harian. Kemudian sempat berhenti menulis dalam kurun waktu cukup lama.
Barulah pada 2007 mencoba menulis cerpen lagi untuk diikutsertakan dalam sebuah
lomba yang diadakan oleh sebuah Majalah sekolah di Kota
Cianjur. Saat itulah cerpen saya menjadi salah satu nominasi yang kemudian
tergabung dalam buku ini bersama sebelas cerpen lainnya.
Setelah memiliki
sebuah komputer keluaran lama (baca:bekas) barulah saya bisa memindahkan dan
menyimpan tulisan-tulisan tersebut. Saat itu terbersit dalam benak, yang
penting saya bisa menyimpan tulisan-tulisan itu dengan aman. Tidak pernah
terlintas sedikit pun dalam benak saya untuk mengarsipkannya dalam sebuah buku.
Mustahil rasanya.
Namun, sejak mengenal media sosial (facebook) pada awal 2010, hobi menulis
sepertinya mulai mendapat tempat lain. Selain sebagai media untuk berkomunikasi
dengan sahabat lama maupun baru, media sosial ini digunakan pula untuk menulis
beberapa catatan sederhana dan pendek. Sekarang, media sosial ini justru
menjadi sarana paling mudah untuk menyalurkan hobi menulis. Mulai dari hanya
membuat status yang pendek hingga menuliskan catatan lainnya, baik berupa
opini, kata-kata mutiara, puisi maupun cerita pendek.
Secercah harapan pun datang tanpa diduga. Ketika
asyik berkencan dengan “mbah” Google saya membaca sebuah kesempatan berupa ajang
menulis. Sebuah event menulis puisi yang
diselenggarakan oleh FAM Indonesia pada penghujung tahun 2012. Sejak itulah babak
baru karir menulis saya dimulai. Petualangan
menulis pun terus berlayar. Hingga saya bergabung dengan beberapa grup
kepenulisan lainnya yang cocok untuk dijadikan sumber pembelajaran. Ghirah menulis semakin tumbuh subur
menggiring dan membimbing jemari ini menyapa tuts-tuts keyboard. Berpuluh even menulis saya ikuti sepanjang tahun 2013.
Hingga melahirkan 26 buku antologi. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Buku Antologi puisi “Kejora yang Setia
Berpijar” yang terbit pada Januari 2013 adalah adalah setitik api yang
menyala dan merupakan benih semangat yang melahirkan “Senyum Nolina”.
Dalam hidup ini, saya menjalaninya ibarat air
mengalir. Semua yang terjadi di bumi ini adalah kehendak-Nya. Begitu pula saat
berjumpa dengan FAM. Saya menyikapi hal ini merupakan sebuah anugrah, bukan
kebetulan semata. Saya meyakini bahwa Allah SWT sudah merencanakan banyak hal indah
dalam hidup ini termasuk perjumpaan dengan FAM. Namun semua itu rahasia-NYA.
Saya semakin menikmati kegiatan menulis ini. Apa yang dirasakan lalu dituangkan
dalam berbagai bentuk, baik opini, puisi atau cerpen.
Sepanjang 2013, selain di FAM, saya berpetualang mengikuti
beberapa even antologi di beberapa grup kepenulisan seperti: Penulis dan Sastra (PEDAS), Antologi Es
Campur (ECA), Warung Antologi, Harfeey, Pena Meta Kata, Jaringan Pena Ilma
Nafia (JPIN), Panggung Aksara Tarian Pena (PATP) maupun grup yang lainnya. Semua grup kepenulisan itu tentu sangat
memberikan kontribusi dalam perkembangan menulis saya. Hal itu juga memberikan
ruang kreatif yang lebih luas lagi, jadi tidak ada salahnya jika berterima
kasih dan angkat topi kepada grup atau wadah kepenulisan yang telah turut serta
memberikan ilmunya kepada saya. Baik kepada para Admin (pengurus grup tersebut
maupun kepada para anggotanya yang sekaligus menjadikan saya lebih banyak teman
bahkan saudara baru).
Kemudian, di penghujung 2013 muncul keinginan untuk mendokumentasikan
karya–karya yang tercecer itu menjadi sebuah buku tunggal sekaligus menerbitkannya.
Walau ada rasa ragu yang sangat kuat, namun berkat dorongan semangat dari
beberapa teman dan kesempatan yang diberikan oleh FAM Publishing yang terbuka sangat lebar, saya terus berusaha
mewujudkan impian tersebut.
Dalam mewujudkan sebuah keinginan atau cita-cita tentu
bukan perkara mudah dan tidak mulus begitu saja. Semua perlu kesungguhan dan
niat yang kuat dibarengi dengan kesabaran dan keikhlasan. Apalagi waktu yang
dimiliki harus terbagi untuk beberapa kegiatan dan kepentingan lainnya, seperti
rutinitas pekerjaan, keluarga dan hal mendadak lainnya yang tidak bisa
ditangguhkan. Karena itulah, sejak bulan Juli 2013 saya mulai mengumpulkan
naskah-naskah yang tercecer. Untuk kemudian dibaca ulang. Ada yang kalimatnya ditambah
maupun dikurangi, ada yang berganti judul bahkan ada pula yang berkali-kali
nama tokohnya saya ganti untuk disesuaikan dengan tema dan alur cerita.
Saya memasang target, bahwa buku ini terbit tepat di
hari kelahiran, yaitu November 2013. Lalu, menyisihkan waktu di malam hari
untuk sekadar membaca ulang dan
mengoreksi tulisan yang dirasa kurang pas, itu pun jika lelah tidak terkuras karena
siang hari disibukkan dengan pekerjaan rutin juga kegiatan lainnya hingga
menjelang sore. Beberapa naskah lama dan baru saya siapkan. Hingga terkumpullah
dua puluh dua cerpen yang disiapkan untuk buku kumpulan cerpen pertama ini.
Menginjak bulan Agustus 2013 di tengah semangat
menggebu untuk menyelesaikan beberapa naskah, saya lupa dengan kondisi badan
hingga sebuah rasa sakit muncul dan mengganggu aktivitas. Walau tidak begitu
parah namun penyakit yang dirasa cukup mengurangi intensitas duduk di depan
komputer. Saya tidak bisa terlalu lama duduk. Sehingga target ingin
menyelesikan naskah bulan September 2013 pun akhirnya gagal.
Selama menyusun karya tunggal pertama ini, saya
masih tetap mengikuti beberapa even menulis lainnya jika ada tema yang cocok.
Hal itu dilakukan demi menghindari kejenuhan dan kebuntuan ide. Menginjak
September 2013, saya menghentikan pengejaran target ini dikarenakan harus
menyelesaikan berbagai tugas mengajar dan pekerjaan lain yang tidak bisa
ditinggalkan.
Menginjak awal Oktober 2013 awan mendung kembali
menggayut dalam proses mewujudkan cita-cita ini. Tepat pada 5 Oktober 2013,
saat megedit naskah, sebuah berita mengejutkan dari jarak puluhan kilometer
datang melalu telepon seluler, sekitar jam sepuluh malam. Ibu tercinta pergi menghadap-Nya
di tengah semangat mewujudkan impian ini. Manusia hanya berencana, Allah SWT memiliki
rencana lain. Ingin hati mempersembahkan sebuah buku tunggal ini ke hadapan beliau, namun Yang Maha Kuasa berkehendak
lain. Pagi hari, 6 Oktober 2013 saya mengantarkan jenazah beliau hingga ke
peristirahatan terakhirnya tepat di hari kelahiran putri bungsu. Padahal hari
itu saya berniat akan menjenguk Ibu sambil bersyukur memanjatkan doa-doa dan
berkumpul menikmati nasi kuning sebagai bentuk rasa syukur.
Semenjak kepergian ibunda, berhari-hari saya
kehilangan semangat menulis (writer's
block). Saya tak mampu menuliskan sebuah kalimat pun. Rasa duka mendalam
terus menggelayuti benak dan perasaan. Kehilangan orang tercinta serta yang begitu
dekat sekaligus paling dihormati benar-benar memukul semangat hidup. Barulah, pada
minggu kedua sejak kepergian beliau, sedikit demi sedikit semangat untuk
mencurahkan ide mulai berdatangan kembali.
Bulan November lewat begitu saja. Hari kelahiran
tidak mewujudkan buku tunggal seperti apa yang diimpikan. Saya kembali berkutat dengan naskah-naskah yang
belum tuntas. Tetapi, Allah SWT masih menguji kesabaran. Tepat di bulan
November 2013 rasa sakit yang kurasa sejak beberapa bulan sebelumnya kian
mengganggu. Kaki kanan saya tidak bisa bergerak normal. Setiap digerakan terasa
sakit yang luar biasa. Duduk, jongkok dan berjalan pun tidak bisa dilakukan.
Bahkan saat berbaring atau tidur pun
harus bergerak sangat hati-hati. Bila tidak, saraf kaki kanan seperti ditarik
dan terasa sakit yang luar biasa. Saya berusaha menyelesaikan naskah-naskah
sambil menahan sakit yang teramat sangat di sekitar pinggul, paha, betis hingga
telapak kaki bagian kanan.
Namun, demi mengejar target bahwa naskah-naskah
tersebut harus selesai bulan Desember, maka saya berusaha menyelesaikan dan
mengedit beberapa naskah sambil berbaring atau tengkurap di atas tempat tidur.
Akhirnya saya pun memutuskan untuk mengurangi jumlah naskah yang akan
diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen ini. Dengan pertimbangan ingin
menerbitkan bertepatan dengan Milad FAM yang ke II pada 2 Maret 2013.
Dari dua puluh dua cerpen, akhirnya yang dipilih
hanya 12 saja. Delapan cerpen tidak sempat terselesaikan karena kondisi badan
yang tidak mampu berlama-lama duduk di depan komputer. Sambil terus menjalani
pengobatan, saya putuskan untuk segera menerbitkan kedua belas cerpen ini
sebagai perwujudan rasa syukur. Perasaan khawatir dan tidak percaya diri terus
menyelimuti perasaan ini. Sudah layakkah tulisan-tulisan itu diterbitkan? Berkat
dorongan kuat dari keluarga, teman sesama penulis dan sahabat di sekeliling
saya, akhirnya kekuatan itu muncul.
Muluskah? Ternyata tidak. Sebuah ujian datang kembali. Walau kali ini tidak
berdampak langsung kepada saya, namun harus menangguhkan lahirnya “Senyum Nolina”. Kali ini sebuah ujian
yang tidak bisa dihindari manusia di mana pun, yaitu Erupsi Gunung Kelud. Musibah
yang melanda negeri ini pada 14 Februari 2013. Kantor FAM berada di Kediri, tak
jauh dari lokasi kejadian. Akhirnya penerbitan buku ini, kembali tertunda. Saya
kembali diingatkan, bahwa manusia memang hanya mampu merancang rencana, tetapi Allah
SWT yang Maha Kuasa. Saya sungguh menikmati dan mendapatkan banyak hikmah
selama proses kelahiran “Senyum Nolina”
ini.
Saat buku ini sudah siap terbit, saya sempat pula dihadapkan
dengan kebingungan untuk memilih 3 (tiga) judul yang dianggap mewakili isi buku
ini. Selain itu saya musti mencari gambar yang cocok untuk dijadikan kovernya. Ini
menjadi tantangan lain demi maskimalnya sebuah karya.
Dalam menentukan judul pilihan, saya berusaha mengajak
istri untuk berdiskusi tentang tiga judul yang diajukan penerbit. Setelah
beberapa hari melalui perdebatan kecil dan berbagai pertimbangan, akhirnya
terpilihlah “Senyum Nolina”. Tokoh
Nolina seakan ingin mengatakan bahwa kita musti menghadapi berbagai rintangan
dan cobaan dalam hidup ini dengan tawadhu. Langit tak selamanya mendung,
begitu pun hujan. Dia akan segera pergi dan meninggalkan berjuta titik air lalu
memunculkan warn-warni nan elok membentuk garis pelangi saat dipinang cahaya
matahari.
Kemudian dalam mencari ide menentukan gambar kover,
awalnya saya mencoba searching di
google. Beberapa gambar kemudian dikoleksi, namun tidak satu pun yang dirasa
cocok atau pas. Lantas, saya menangkap ide untuk meminta bantuan seorang
keponakan dan adik. Kebetulan mereka berdua memiliki kemampuan dalam hal
ilustrasi maupun menggambar. Beberapa gambar pun saya peroleh dari mereka.
Sungguh, Allah SWT memberikan kemudahan dalam hal ini. Seperti yang tertuang
dalam QS: Al-Insyirah, ayat 5-6 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan.”
Adik dan keponakan saya itu benar-benar ikhlas
membantu. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka. Akhirnya terpilihlah sebuah
gambar yang kini menghiasi sampul depan buku Kumpulan Cerpen “Senyum
Nolina” ini adalah karya adik saya, M.
Ali Nurjamil, S.Pd.
***
Alhamdulillah, rasa
syukur sudah sepatutnya tercurah pada-Nya. Melalui berbagai rintangan dan
tantangan naskah-naskah yang tercecer kini berubah wujud menjadi buku. Sebuah
buku yang berusaha mengangkat beragam kisah yang tergurat
pada keriput wajah negeri ini, dalam bentuk fiksi (kumpulan cerpen).
Perjuangan hidup, kemiskinan, carut-marut sosial-ekonomi, menumbuhkan jiwa entreupreneurship, potret buram dunia
pendidikan, nilai-nilai budaya yang kian luntur, permasalahan dunia anak dan
remaja, hingga menumbuhkan rasa empati pada sesama, semua terangkum menjadi
napas dalam rangkaian kisah pada buku ini. Melalui rangkaian kata yang
sederhana namun mudah untuk disimak juga tanpa banyak bertele-tele, buku ini disajikan
demi memaknai hidup.
“Senyum Nolina”
lahir dari proses penyelaman kehidupan yang selama ini dialami, didengar dan dirasakan.
Betapa hidup ini masih memerlukan uluran tangan para pemilik hati yang ikhlas
dan tulus. “Senyum Nolina”
menyiratkan guratan hidup yang teramat penuh liku perjuangan. Tidak mudah
menghadapi hidup, namun bukan pula berarti hidup ini harus sia-sia. Di luar
sana masih ada, bahkan tidak sedikit yang perlu dibenahi. Meraih cita-cita
ternyata tidak semudah memetik bunga melati. Masih banyak kaum marjinal yang
semakin tersisihkan, sementara para pemilik negeri yang memiliki janji-janji
masih lelap dalam mimpi-mimpi.
“Senyum Nolina”,
ingin membuka lembaran baru yang penuh rasa optimis setelah melalui rintangan
dan ujian. Ia tak ingin hidupnya terus berada di bawah payung awan gelap, tidak
ingin beralama-lama dalam deras rinai. Ia ingin memandang pelangi, berharap kilau
matahari mencandai embun-embun segar di pagi hari. Dan ia selalu merajut mimpi.
“Senyum Nolina” ingin mengisi
hidupnya dengan guratan prestasi demi mewujudkan lukisan mimpi-mimpi yang
pernah digores pada garis pelangi.
Seperti yang saya kisahkan di atas, bahwa dalam
proses lahirnya buku ini, sempat menghadapi masa berkabung yang dalam atas
kepergian ibu. Untuk itulah saya persembahkan buku ini secara khusus kepada
beliau, sosok wanita lembut yang berselimut kasih dan sayang. Wanita yang
selalu siap mengusapkan halus tangannya manakala anak-anaknya menghadapi
kegetiran hidup. Seorang inspirator yang selalu mengisi tempat khusus dalam
hati ini. Tentunya tak lupa pula kepada almarhum ayah, yang telah jauh lebih
dahulu menghadap Illahi. Inilah persembahan ananda yang berusaha mengikuti
tauladan dengan menebarkan senyuman. Love
you Dad, love you Mom. You’ve given me millions inspirations. I do!
Akhir kata, kepada semua saudara, rekan dan teman,
sahabat, murid-murid, serta pembaca pada umumnya, selamat membaca “Senyum Nolina”!
Cianjur, 19 Maret 2014
Salam santun!
Dedi Saeful Anwar (IDFAM-1196U)
Keterangan:
- Foto:
sampul buku kumpulan cerpen “Senyum Nolina” terbitan FAM Publishing.
- Untuk
pembelian buku, silakan menghubungi nomor 0812 5982 1511 (Tim FAM
Indonesia) via telepon atau SMS.
- Tulis
jumlah eksemplar buku yang ingin Anda beli beserta nama dan alamat lengkap
Anda. Harga per buku Rp38.000,- belum termasuk ongkos kirim.
- Tebal
buku 131 halaman, dimensi 13 x 20 cm.


Comments
Post a Comment