WAHYU GANDI G. Mahasiswa Jurusan Sastra UNM Makassar yang belajar mencintainya. Menulis puisi dan prosa serta pembaca buku non fiksi yang malas. Karya-karyanya (Telapak Tangan & Jatuh Cinta, 2015) dapat dibaca di beberapa tempat—dan aktif diajak nyusu dan ngopi. Dapat disapa melalui surel wahyugandi8@gmail.com. Berdomisili di Jalan Syech Yusuf Bundar Nomor 05 Kelurahan Katangka, Kecamatan Sungguminasa Kabupaten Gowa (Perbatasan Kota Makassar).
DI ALTAR TUA
angin tak pernah berkata ia setia,
pada kesedihan ranting-ranting tua
dan daun pintu tanpa kunci terbuka,
membuka mata manusia-manusia
dengan kebahagiaan yang terluka.
angin tak pernah menyadarinya.
burung-burung terbang karenanya,
cinta yang pernah dingin—hangat baginya
dalam dada, kita matahari dan cakrawala
yang kita tahu benar artinya.
angin membuatku kian terpencil,
pohon duka mulai menyusun akar-akar waktu.
saat pertemuan tak kunjung bisa kucicil,
adakah kau dan waktu yang betul-betul menentu.
2016
PUISI TUA
Awan mengancingkan matahari,
Di salah satu bait puisi—koran bekas
Penjual sate Madura yang mencintai sastra.
“Menjadi manusia, membawa cukup kemungkinan-kemungkinan”
Dari dalam toko buku, aku menemukan kau hendak
Berlari dengan stanza-stanza baru—menuju
Bait-bait puisi haru, sebagai peredam rindu
Di malam yang setidaknya pernah ada kita.
Bukankah itu aku? Yang bersyair di matamu.
Membawa lari hari-harimu menuju matahari,
Dengan kenangan-kenangan pekat,
Buku-buku terikat dan aku tak lagi
Menemukanmu di tumpukan masa laluku.
2016
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
DI ALTAR TUA
angin tak pernah berkata ia setia,
pada kesedihan ranting-ranting tua
dan daun pintu tanpa kunci terbuka,
membuka mata manusia-manusia
dengan kebahagiaan yang terluka.
angin tak pernah menyadarinya.
burung-burung terbang karenanya,
cinta yang pernah dingin—hangat baginya
dalam dada, kita matahari dan cakrawala
yang kita tahu benar artinya.
angin membuatku kian terpencil,
pohon duka mulai menyusun akar-akar waktu.
saat pertemuan tak kunjung bisa kucicil,
adakah kau dan waktu yang betul-betul menentu.
2016
PUISI TUA
Awan mengancingkan matahari,
Di salah satu bait puisi—koran bekas
Penjual sate Madura yang mencintai sastra.
“Menjadi manusia, membawa cukup kemungkinan-kemungkinan”
Dari dalam toko buku, aku menemukan kau hendak
Berlari dengan stanza-stanza baru—menuju
Bait-bait puisi haru, sebagai peredam rindu
Di malam yang setidaknya pernah ada kita.
Bukankah itu aku? Yang bersyair di matamu.
Membawa lari hari-harimu menuju matahari,
Dengan kenangan-kenangan pekat,
Buku-buku terikat dan aku tak lagi
Menemukanmu di tumpukan masa laluku.
2016
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments
Post a Comment