DENNI MEILIZON. Lahir tanggal 6 Mei tahun 1983. Pernah kuliah di Jurusan Komunikasi Fisipol USU Medan. Bekerja sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sejak tahun 2004, lalu pada 2010 diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipi (PNS) dan ditempatkan pada Bidang Anggaran Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Sumatera Barat. Saat ini dia sedang menyelesaikan studinya di STIE “KBP” Padang. Aktif di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan menjadi Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat. Puisi-puisinya tersebar di sejumlah media massa. Sekarang berdomisi di Padang.
JALAN ILAHI
Kembara yang kau lewati
Tak mungkin dilalui kedua kalinya
Di tiap persimpangan jalan itu
Akan selalu memberimu ngilu
Hingga kehilangan apa yang bisa kauberi
Kulihat kau tersudut hilang kendali
Lalu sekarang apa hendaknya raga
Tidakkah kau pahami segala tanda
Bahwa waktu untuk dikumpulkan sudah semakin dekat saja
Jangan, jangan kembali ke titik mula
Bukankah kau kesepian di sana?
Marilah kita ikuti saja jalan ini
Jalan Ilahi penuh cahaya surga
Hanya di jalan ini segala hidayah dan rahmat
Bisa kita rengkuh sepuas-puasnya
Mengubah kebimbangan menjadi keteguhan.
MARI MENGEJA HUJAN
Mari kita menggenggam hujan saat hati bergelayut gundah
Basahi jiwa, basahi raga, sampai kuyup keakuan dalam diri
Mari kita wiridkan membaca hujan, saat dingin dan sepi menyapa
Dalam tiap tetesnya dapat memuaskan dahaga jiwa pada sungai-sungai Firdaus
Marilah kita eja hujan menurut susunan Alif, Ba, Ta, Tsa...
Membacanya dengan tartil, berserah diri kepada Allah
Sambil mengagumi keagungan-Nya.
Catatan:
Dua puisi di atas termaktub dalam buku kumpulan puisi “Kidung Pengelana Hujan” (FAM Publishing, 2012)
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
JALAN ILAHI
Kembara yang kau lewati
Tak mungkin dilalui kedua kalinya
Di tiap persimpangan jalan itu
Akan selalu memberimu ngilu
Hingga kehilangan apa yang bisa kauberi
Kulihat kau tersudut hilang kendali
Lalu sekarang apa hendaknya raga
Tidakkah kau pahami segala tanda
Bahwa waktu untuk dikumpulkan sudah semakin dekat saja
Jangan, jangan kembali ke titik mula
Bukankah kau kesepian di sana?
Marilah kita ikuti saja jalan ini
Jalan Ilahi penuh cahaya surga
Hanya di jalan ini segala hidayah dan rahmat
Bisa kita rengkuh sepuas-puasnya
Mengubah kebimbangan menjadi keteguhan.
MARI MENGEJA HUJAN
Mari kita menggenggam hujan saat hati bergelayut gundah
Basahi jiwa, basahi raga, sampai kuyup keakuan dalam diri
Mari kita wiridkan membaca hujan, saat dingin dan sepi menyapa
Dalam tiap tetesnya dapat memuaskan dahaga jiwa pada sungai-sungai Firdaus
Marilah kita eja hujan menurut susunan Alif, Ba, Ta, Tsa...
Membacanya dengan tartil, berserah diri kepada Allah
Sambil mengagumi keagungan-Nya.
Catatan:
Dua puisi di atas termaktub dalam buku kumpulan puisi “Kidung Pengelana Hujan” (FAM Publishing, 2012)
Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Hubungi call centre 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments
Post a Comment