Oleh: D.A.Akhyar
LikaLikuLakiLuka -- Proses Kreatif
terbentuknya sebuah karya (dalam hal ini puisi) tak bisa dilepaskan dari
proses belajar yang berasal dari dua hal, yakni : Inside Learning/ Learning
by doing (belajar dari pengalaman) dan outside learning/learning by
experience (belajar dari sumber lain).
Dalam Inside Learning/
Learning by doing (belajar dari pengalaman) pengalaman memegang peran
dominan dalam proses kreatif. Tiap apa yang dikecap atau dirasa, bisa menjadi
sumber inspirasi. Lembar demi lembar peristiwa apabila mampu dituliskan akan
menjelma menjadi ratusan bahkan ribuan buku. Namun begitu, setiap orang
memiliki ketertarikan yang beragam. Tidak semua peristiwa atau tempat mampu
menggerakkan pena untuk merangkai kata. Dan yang pastinya hanya membidik apa yang
tampak berkesan dan memiliki arti.
Oleh karena itu dalam penulisan
Sehimpun Puisi Lika-Liku-Laki-Luka terus belajar dari dua hal dalam
proses kreatif tersebut. Dalam menciptakan puisi, itulah merupakan proses
kreatif seseorang. Puisi tidak lahir begitu saja. Ada tahapan-tahapan yang
harus dilalui. Tahapan-tahapan tersebut adalah kehidupan sehari-hari yang
dijalani, dilihat, dirasakan, diamati, dan lain sebagainya.
Ide atau inspirasi datang ketika
kita memiliki kepekaan sosial. Saya terus mengasah kepekaan sosial tersebut
dengan sering-sering membaca lingkungan. Hal ini saya rasakan dan lakukan, dikarenakan itulah, saya selalu berusaha memaknai apa saja yang tampak di
depan mata, yang kudengar, dan yang kurasakan.
Sehimpun puisi Lika-Liku-Laki-Luka
yang pernah saya tuliskan ini merupakan sebuah karya yang terinspirasi dari
puisi-puisi Joko Pinurbo dan Remy Sylado. Siapa yang tak tahu seorang Joko
Pinurbo dengan puisi ‘Celananya’ itu. Joko Pinurbo dikenal sebagai penyair yang
di dalam karya-karyanya sering mengangkat tema kehidupan manusia dengan bahasa
yang ringan, sederhana, humoris dan terkadang nakal. Puisi-puisi Joko Pinurbo
memang terkesan ‘asal-asalan’ karena bahasa yang dipilihnya merupakan bahasa sehari-hari
yang biasa diucapkan dalam percakapan. Bahasanya terkesan biasa-biasa saja dan
tidak mengandung nilai estetik, tetapi jika dilihat secara keseluruhan maka
kata-kata yang terkesan biasa itu akan mendukung keseluruhan sajak menjadi
begitu mengalir dan sarat makna. Meskipun terkesan ringan dan lucu, tidak semua
puisi Joko Pinurbo bisa dianalisis menggunakan teori-teori struktural maupun
pragmatik.
![]() |
| D. A.Akhyar |
Sastra memang memiliki kemampuan
untuk merekam ciri-ciri zamannya. Namun, yang perlu diingat adalah sastra juga
sebuah kegiatan seni. Pengarang atau sastrawan harus senantiasa memperhatikan
nilai-nilai estetis dalam gaya bahasa, komposisi, dan kekuatan penyampaian. Menunggu
Matahari Melbourne sebuah karya Remy Sylado yang telah berhasil menjadi
dokumen sosial (dan kebudayaan) yang komprehensif, tetapi novel ini akan
menjadi jauh lebih bagus jika kritik-kritik sosial yang ada di dalamnya
disampaikan dengan cara-cara yang lebih tersirat. Pesan-pesan dalam kritik
sosial Remy sudah barang tentu sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia untuk
dapat menyembuhkan berbagai penyakitnya.
Begitu besarnya pengaruh gerakan
puisi mbeling pada saat itu, seharusnya puisi mbeling pantas
untuk selalu dikenang hingga saat ini. Sebab puisi mbeling telah
menghadirkan pembaharuan dan warna baru dalam catatan sejarah kesusastraan di
Indonesia, khususnya puisi kontemporer di Indonesia. Namun nyatanya, eksistensi
puisi mbeling pada saat ini telah tenggelam. Hal itu disebabkan oleh
pandangan yang menganggap puisi mbeling sebagai puisi lugu atau awam,
main-main, dan hanya berkelakar tanpa melibatkan unsur-unsur murni puisi pada
umumnya. Dengan kalimat lain, puisi mbeling distereotipkan
sebagai puisi main-main yang tidak memiliki nilai estetik, tidak berbobot, dan
tidak berpesan.
Itulah saya tergerak untuk
menuliskan sehimpun puisi bertajuk Lika-Liku-Laki-Luka. Dalam penulisan buku
sehimpun puisi Lika-Liku-Laki-Luka ini, saya berusaha menelaah dan
memahami hal yang kedua yaitu outside learning/learning by experience
(belajar dari sumber lain) selain menggali inspirasi dari pengalaman diri, juga
memanfaatkan pengetahuan dari luar untuk memicu sel-sel otak agar berkarya.
Dari mana itu? Membaca buku-buku sastra (sejarah dan perkembangannya). Dan meluangkan
waktu untuk belajar dari karya-karya para penyair terdahulu akan membuat diri
semakin paham bagaimana sebuah proses kreatif itu dapat tercipta.
Kepuitisan dapat dicapai dengan
bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait;
dengan bunyi; persajakan, aliterasi, asonansi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan
orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa, kiasan, sarana retorika, dan
unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Antara unsur
pernyataan (ekspresi), sarana kepuitisan, yang satu dengan yang lainnya saling
membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya,
semuanya itu untuk mendapatkan kepuitisan seefektif mungkin, seintensif
mungkin.
Itulah proses kreatif dalam
penulisan buku yang saya beri judul Lika-Liku-Laki-Luka, sebuah proses
yang berusaha mengungkap sebuah rasa luka-luka yang menganga, mungkin kebenaran-kebenaran yang saya temukan dari hasil penyelidikan sendiri.
Dengan kata lain, kebenaran yang telah sesuai dengan realitas; pertemuan antara
ide dan fenomena. Melihat sebuah fenomena yang terjadi, dan merasakan apa yang
telah terjadi saat itu. Itulah rekam jejak yang pernah saya tulis dalam
sehimpun puisi bertajuk Lika-Liku-Laki-Luka. [da]
Teluk Betung Barat
-Bandar Lampung
Juli 2016M/Syawwal 1437H
D.A.Akhyar
*Buku ini diterbitkan oleh FAM Publishing_Divisi
Penerbitan FAM Indonesia.


Comments
Post a Comment