D.A. AKHYAR (AL). Merupakan lelaki kelahiran Tanah Lado-Gayabaru, merangkum jejak dalam sehimpun Puisi Nasional bersama penulis Nusantara bertajuk “Luka-Luka Bangsa” (2015) dan menghimpun puisi satire-nya ke dalam buku tunggal bertajuk “LikaLiku LakiLuka.” (2016), juga dipublikasikan PosMetro Prabu (2016). Buku tunggal keduanya telah terbit dengan judul, “Sembunyikan Air Matamu, Bersabarlah” (2016) merupakan sebuah tulisan Nonfiksi Motivasi-Islami. Ia telah menyelesaikan study The Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought at State Islamic University of Raden Fatah Palembang, South Sumatera.
BERLAYAR DI LAUT LEPAS
Melepas kerinduan di atas cadas,
lautku lepas. Aku berlayar enggan berbalik
biarpun layarlayar kecil ini terkoyak oleh angin
aku tetap mengarungi, untuk sebuah luka yang sepi
dalamnya laut; tak menggambarkan kuatnya berlayar
mengarungi laut, menghimpun angin dari penjuru
kanan-kiri—seperti, gelombang hantam
lautku lepas, aku berlayar
dengan layarlayar sederhana
dengan ombak yang menerpa
apa dirasa. Ada sebuah nawacita
di sana. Perlu dijaga untuk bersama
aku berlayar di laut lepas
menjaga dasar laut bersama lumut
yang hampir terabaikan. lautku lepas,
aku mengejar-ngejar;
apa yang harus aku selamatkan
apa yang harus aku jaga, aku inginkan biru
aku berlayar di laut lepas
dengan layar-layar yang mulai koyak
dengan layar-layar yang mulai enggan:
untuk menemaniku berlayar
mungkin terlalu rumit perjalanan
atau mungkin. Kekoyakan di bahunya
yang terus aku paksakan berlayar
Oh, negeriku. Aku akan tetap berlayar
di laut lepas dan terlepas
Palembang, 2015
TITIP RINDU BUAT AYAH
Di pulau yang berbeda, kaujatuhkan rindu
entah berapa juta menit yang kautinggalkan
untukku. Terlampau pahit jika kukenang
kerinduan demi kerinduan hanya sebuah rindu
rindu yang enggan untuk merindu. Bagai bayang
masa lalu yang ingin kubenamkan
Sejak usiaku yang bau amis dengan darah
dan keringat Emak, tangisku hampir tak kaudengar
di mana engkau ayah. Sebegitunya engkau
jauhi aku, dan kausisihkan kehidupanku ini
Sedikitpun takkah kautanya tentang anakmu
masih hidupkah? Atau sudah mati bersama perut bumi
Ayah...
Sejak rindu itu hadir dengan sejuta masa lalu
sajak-sajak kubuat untuk mengubur rindu
namun, apakah itu yang akan menjadikanku lupa?
Tidak! Sungguh tidak, ayah...
demi kerinduan, rengek tangis dan derai air mata
Emak pun menyeka, duka, lara dan jiwa
Ayah... Kutitipkan rinduku untukmu
meski kau tak pernah tanyakan kabar
tentangku; tentang anakmu
Relung, 2016
Ingin menerbitkan buku & cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
BERLAYAR DI LAUT LEPAS
Melepas kerinduan di atas cadas,
lautku lepas. Aku berlayar enggan berbalik
biarpun layarlayar kecil ini terkoyak oleh angin
aku tetap mengarungi, untuk sebuah luka yang sepi
dalamnya laut; tak menggambarkan kuatnya berlayar
mengarungi laut, menghimpun angin dari penjuru
kanan-kiri—seperti, gelombang hantam
lautku lepas, aku berlayar
dengan layarlayar sederhana
dengan ombak yang menerpa
apa dirasa. Ada sebuah nawacita
di sana. Perlu dijaga untuk bersama
aku berlayar di laut lepas
menjaga dasar laut bersama lumut
yang hampir terabaikan. lautku lepas,
aku mengejar-ngejar;
apa yang harus aku selamatkan
apa yang harus aku jaga, aku inginkan biru
aku berlayar di laut lepas
dengan layar-layar yang mulai koyak
dengan layar-layar yang mulai enggan:
untuk menemaniku berlayar
mungkin terlalu rumit perjalanan
atau mungkin. Kekoyakan di bahunya
yang terus aku paksakan berlayar
Oh, negeriku. Aku akan tetap berlayar
di laut lepas dan terlepas
Palembang, 2015
TITIP RINDU BUAT AYAH
Di pulau yang berbeda, kaujatuhkan rindu
entah berapa juta menit yang kautinggalkan
untukku. Terlampau pahit jika kukenang
kerinduan demi kerinduan hanya sebuah rindu
rindu yang enggan untuk merindu. Bagai bayang
masa lalu yang ingin kubenamkan
Sejak usiaku yang bau amis dengan darah
dan keringat Emak, tangisku hampir tak kaudengar
di mana engkau ayah. Sebegitunya engkau
jauhi aku, dan kausisihkan kehidupanku ini
Sedikitpun takkah kautanya tentang anakmu
masih hidupkah? Atau sudah mati bersama perut bumi
Ayah...
Sejak rindu itu hadir dengan sejuta masa lalu
sajak-sajak kubuat untuk mengubur rindu
namun, apakah itu yang akan menjadikanku lupa?
Tidak! Sungguh tidak, ayah...
demi kerinduan, rengek tangis dan derai air mata
Emak pun menyeka, duka, lara dan jiwa
Ayah... Kutitipkan rinduku untukmu
meski kau tak pernah tanyakan kabar
tentangku; tentang anakmu
Relung, 2016
Ingin menerbitkan buku & cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments
Post a Comment