Cerpen ini berkisah tentang poligami yang dilakukan Haikal,
suami tokoh utama, Azlia. Haikal menikah lagi dengan Salma tanpa sepengetahuan
istirnya. Azlia marah dan kecewa, tapi ia tak memiliki kemampuan apa-apa untuk
mengusik pernikahan itu. Hingga di akhir cerita, Azlia meninggal akibat
kecelakaan mobil yang dikendarainya. Haikal menceraikan Salma yang berkhianat
dan kembali pada anak-anak yang dilahirkan dari perut Azlia.
Tim FAM Indonesia memberikan
beberapa catatan untuk cerpen ini:
Pertama, dari sisi tema. Tema cerpen seperti ini sudah banyak
digarap; tentang kisah poligami yang diawali perselingkuhan dan berakhir
tragis. Namun, bukan berarti tema tersebut sudah basi. Penulis bisa saja
mengambil tema ini dengan sudut pandang berbeda dan
cara penyajian yang berbeda. Misalnya, tokoh utama Azlia tidak digambarkan
sebagai sosok yang kecewa dan marah dengan pernikahan tersebut. Justru menjadi
sosok yang tegar, punya harga diri, dan setengah “bersyukur” dengan poligami
yang dilakukan suaminya, karena ternyata proses pernikahan itu tidak sesuai
syariat. Hingga Azlia tahu seberapa bernilai sosok suaminya. Justru Azlia
dengan sukarela “menyerahkan” suaminya pada Salma, setelah tahu borok suaminya.
Konflik bisa dibuat lebih tajam saat Haikal
menyesal telah menikah dengan Salma. Pada akhirnya Haikal tidak diterima oleh
Azlia maupun Salma.
Kedua, dari teknik
penulisan. Penulis perlu banyak mengembangkan
konflik hingga mencapai titik rumit. Seolah-olah masalah yang dihadapi si tokoh
sulit terpecahkan. Mainkan emosi pembaca, aduk-aduk perasaannya dengan suguhan
konflik cerita yang menegangkan. Banyak tema konflik dari sebuah cerita yang spektakuler, namun gara-gara
pengolahan konflik yang kurang maksimal, hasilnya biasa saja. Tidak menimbulkan
efek tegang.
Jangan ragu bermain gaya bahasa atau tanda
seru, agar efek seru-nya bisa terasa. Apalagi cerpen ini bertema masalah rumah
tangga, yang itu sangat membutuhkan efek tegang bagi pembaca.
Ketiga, dari sisi EBI (Ejaan Bahasa
Indonesia), banyak ditemukan kata yang tidak baku. Misal; Nafas (seharusnya ditulis, napas).
Telephone (seharusnya ditulis, telepon). Bathin (seharusnya ditulis, batin).
Silahkan (seharusnya ditulis, silakan). Atau penulisan; disana (seharusnya, di
sana). Ku tekan (seharusnya, kutekan) dan lainnya yang sejenis. Atau di akhir
dialog yang tidak menyertakan tanda baca. Seharusnya di akhir dialog, ada tanda
baca. Termasuk beberapa kekeliruan huruf kapital setelah dialog. Contoh: “E… e… maaf
ibu, silahkan duduk dulu” Tuturnya, berusaha
menenangkanku. (Seharusnya: “E… e… maaf,
Ibu, silakan duduk dulu,” tuturnya berusaha menenangkanku).
Namun, terlepas dari koreksi Tim FAM di atas, upaya penulis untuk
menghasilkan karya yang baik patut
mendapat apresiasi. Secara keseluruhan, cerpen ini menarik. Penulis menyematkan
pesan bermakna dalam cerpennya untuk bisa diambil manfaat dan hikmah bagi pembaca. Tim FAM berharap
penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin baik.
Salam aktif!
TIM FAM INDONESIA
[BERIKUT NASKAH ASLI
TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Senyum dari Surga
Oleh: Pipit
Sukirno IDFAM4062U
Sembari mengatur nafas, ku tekan nomor telephone
kantor suamiku. Amarah yang memuncak di dada seakan tak terkendali lagi, namun
sapa lembut wanita di ujung ganggang telephone
itu bak air yang menyiram dahaganya kerongkongan.
“Assalamu’alaikum, Majalah Sakinah. Maaf dengan siapa saya
bicara?” tutur lembut itu menetramkanku.
“Wa’alaikumussalam, bapak ada di kantor?” Cercaku
kemudian.
“Pak Haikal? Iya, ada ibu. Maaf dengan siapa saya bicara?”
“Sama siapa dia disana? Ada Dika
nggak? Apa sama Endah aja?”
Setengah bingung, wanita itu membalas apa adanya.
“Iya sendiri, ibu.”
“Benar ya, nggak ada siapa-siapa? Sedang menulis atau diam saja bapak?”
Wanita itu agaknya
mengenali nada interogasi yang keluar dari ujung lidahku, yang menegaskan
padanya bahwa aku menaruh curiga. Bayang sosok wanita berparas
anggun yang dibalut jilbab lebar melintas di matanya.
Salma, wanita dengan tubuh tinggi semampai itu yang belakangan ini
merenggut ketenangan hatiku. Betapa tidak, dia menikahi suamiku tanpa
sepengetahuanku. Kesaksian karyawan di perusahaan tempat suamiku bekerja
tentang Salma berbanding terbalik di mataku, pun halnya dengan kesanku terhadap
wanita dengan jilbab lebar yang anggun dan tidak macam-macam. Sebab aku
dibesarkan juga di lingkungan yang serupa, tapi mengapa dia berbeda? Manusia,
tempat salah dan khilaf. Lingkungan dan latar belakangnya, yang membuat ia
berada di garis pembeda itu.
“Maaf pak sebelumnya, saya ke sini mau
tanya, apa benar ada staff bapak yang bernama Salmawati bekerja di perusahaan
ini?” Tanyaku pada direktur umum di perusahaan
tersebut, yang kebetulan adalah mertua sahabatku, Desma.
“Oh, benar Azlia. Memang kenapa, kamu kenal?”
“Em… kalau boleh tau, sebagai apa dia di sini,
pak?” Lanjutku, tak menghiraukan tanya lelaki 50 tahun itu.
“Dia disini sebagai kepala bidang
pelatihan dan pengembangan karyawan, Lia.”
Lelaki itu kemudian menunjukkan photo perempuan yang ku curigai
sebagai wanita idaman lain suamiku. Aku hanya bisa mengelus dada sembari
berucap istighfar, jilbabnya yang lebar dengan wajah kalemnya membuatku tak
kuasa menahan kecewa.
Harusnya ia
tahu bagaimana harus bertindak, jika sadar Mas
Haikal adalah suami wanita lain. Bathinku saat itu,
meringis – teriris.
Ingin, ku tumpahkan kesal dan kecewa saat itu jua, tapi aku harus
tetap kuat dan tegar. Terlebih, di hadapan mertua Desma, aku harus terlihat
seperti tak ada apa-apa. Sebab, aku tahu dia juga beristri dua. Dan aku yakin,
jika ia tahu maksudku bertanya demikian, barang tentu ia akan menasehatiku
dengan nasihat-nasihat super seperti yang kebanyakan motivator utarakan di
tayangan-tayangan layar kaca. Aku tak butuh hal itu. Aku hanya ingin suamiku
kembali kepadaku, juga kembali pada dua buah hatiku yang sejak tiga bulan lalu
tak lagi tersentuh kasih sayang ayahnya.
Begitu keluar dari ruangan sang direktur, aku bergegas menuju
ruang kerja suamiku. Suasana kantor saat itu sedang istirahat, usai sholat dan makan mereka bercakap-cakap ringan seputar
aktivitas hariannya. Kakiku ‘sekonyong-konyong’ melangkah ke dalam ruangan dan
membekukan keceriaan mereka.
“Assalamualaikum!” Ucapku sesaat,
setelah mereka menoleh ke arahku dan Desma yang mendampingiku setelah dari
ruang kerja mertuanya.
Salah seorang lelaki bertubuh tinggi menghampiriku.
“Wa’alaikumussalam, maaf ibu ada yang bisa saya bantu?” Ujarnya dengan bibir gemetar dan pucat melihat
keangkeran mimik mukaku.
“Mana suamiku?!” Setengah membentak, ku
dekati lelaki itu perlahan.
“Mana!” Sekali lagi, ku tatap
wajahnya yang bingung atas sikapku.
“E… e… maaf ibu, silahkan duduk dulu” Tuturnya,
berusaha menenangkanku.
“Saya tidak butuh tempat duduk. Saya tanya, di mana
suamiku?!”
Karena bingung, menyusul pula sahabat suamiku yang sedari tadi
tampak acuh melihat sikapku.
“Ada apa ini, Azlia?” Tanyanya
penuh lembut, tak seperti suamiku belakangan ini yang sering mengumbar amarah tanpa
ku tahu sebabnya, tiap pulang ke rumah.
“Asraf! Kamu kenal siapa Mas Haikal?
Aku mau kamu jawab dengan jujur, Asraf!”
“Iya, ini sebenarnya ada apa? Kamu tenang dulu, Azlia.”
“Harus tenang bagaimana? Jika kamu tahu bahwa istrimu menikah
dengan lelaki lain tanpa sepengetahuanmu!” Pekikku
memecah suasana sunyi siang itu.
Semua karyawan yang sedari tadi hanya bengong dan terdiam, kali
ini menggelengkan kepala. Apalagi karyawan wanita di sana,
ramai-ramai beristighfar. Aku terduduk lesu di kursi yang ada di sisi kiriku
saat itu.
“Itulah yang aku rasakan saat ini, Asraf. Suami ku selingkuh,
kemudian menikahi wanita itu tanpa izin dariku, istri sah-nya. Lalu aku harus
tenang bagaimana? Sementara anak-anakku di rumah kehausan kasih sayang ayahnya.
Tiga bulan, Asraf! Tiga bulan ia tak mempedulikan anak-anaknya”.
Asraf tak mampu berkata-kata. Ia lelaki, ia juga punya istri dan
anak-anak. Tak mungkin rela memperlakukan keluarganya seperti itu. Namun ia
juga sahabat Haikal, yang memang sudah sejak lama ia sadar perilakunya tak lagi
sama seperti saat sebelum mengenal Salma, wanita yang memang diidamkan banyak
pria termasuk ia.
“Tak baik marah-marah seperti ini, Lia. Sekarang orang satu kantor
sudah tahu semua aib rumah tanggamu, sebaiknya kita selesaikan masalah ini
dengan baik-baik”.
“Aku ingin cerai, Asraf” kataku, tersedu-sedu.
“Tak baik memutuskan sesuatu saat emosi seperti ini, Lia” ujarnya
sembari duduk dengan menahan dengkulnya di lantai.
“Ibu Desma, sebaiknya kita bawa Azlia ke ruangan ibu sekarang”.
“Iya, pak Asraf. Saya rasa Azlia butuh ketenangan. Ayo, Azlia” Ajaknya sembari memapah pundakku.
Sial memang. Siang itu Mas Haikal
sedang tidak ada di kantor. Pun halnya dengan Salma, padahal ingin sekali aku
berbicara pada wanita ketiga dalam rumah tanggaku bersama Mas
Haikal itu. Ingin ku katakan bahwa anak-anakku
merindukan ayahnya, yang tak lain suaminya juga. Bagaimana jika hal itu terjadi
pada ia, akankah ia rela memberi ruang pada Mas
Haikal agar menemui dan mencurahkan sayangnya pada anak-anak dari madunya itu?
Ah, kurasa tak mungkin ia melakukan itu. Aku saja masih tak ikhlas.
Namun bagaimanapun juga, semua ini sudah terjadi. Suamiku memilih
jalan poligami yang jelas tak di larang dalam
Islam. Namun caranya yang seharusnya tak begini, aku harus berkata apa jika ia
sudah mengutarakan niatnya? Melarang? Ah, justru akan membuat Mas
Haikal kebakaran jenggot dan bermain di belakangku dan anak-anak. Namun jika
aku meng-iya-kannya, itu berarti aku harus berbagi suami dengan wanita lain.
Sementara aku sadar betul, Allah menjanjikan surga bagi wanita yang ikhlas dan
rela dipoligami.
Oh, iya!
Pintu surga ada banyak, kita tak hanya bisa masuk dari pintu tersebut. Bathinku.
“Tidak!!!” pekikku di depan televisi, saat menemani dua jagoan Mas
Haikal yang tengah bermain puzzle.
Anak-anak terkejut. Hazbi, putra bungsuku spontan berlari dan
memelukku erat. Seolah ia tahu apa yang sedang ibunya rasakan. Sementara Hamas
perlahan mendekatiku, sama sifatnya dengan sang ayah yang memang lemah lembut
terhadapku sebelum mengenal Salma.
“Kenapa, ma?” Tanya Hamas sembari
mengusap jilbab yang tak sempat ku lepas sekembalinya dari kantor suamiku tadi.
Aku hanya tersenyum, memastikan bahwa aku baik-baik saja. Agaknya
ia tak yakin, menunduk-pucat wajahnya.
“Hamas, nak. Kamu kenapa? Sakit?
Sudah makan belum?” Aku mulai khawatir.
Air matanya berlinang. Beranjak dari sofa yang ku duduki, lantas mendekat pada sulungku. Tak mau
ketinggalan, Hazbi mengikutiku mendekati abangnya. Ku pastikan keningnya tak panas
sebab demam, ternyata benar. Badan sulung kebanggaan Mas
Haikal itu panas, entah mengapa ia merasa sok
kuat, tak mau mengakui apa yang ia rasakan. Terbata-bata ia mengatakan,
“Abang kangen papa, ma.”
Aku memeluknya erat. Di ruang perawatan, ku
suapi dengan penuh cinta buah hatiku itu, sesekali aku memastikan
panggilan atau sms dari Mas Haikal.
Berharap ia membalas pesan singkatku, bisa hadir menemui jagoannya, Hamas di
rumah sakit. Sampai aku selesai menyuapi Hamas, tak juga harapanku itu
terwujud. Sementara Hazbi, bocah 4 tahun yang tak berdosa itu tertidur pulas
kelelahan setelah semalaman menjaga abangnya. Satu yang membuatku semakin
merasa bersalah pada anak-anak ku serta kecewa pada ayah mereka, saat si kecil
Hazbi berkata: “Jika papa tak bersama kita, izinkan Hazbi menggantikan posisi
papa di tengah-tengah kita, ma”. Mengenang kalimat itu, semakin membuatku perih.
Salahku, tak mampu membawa ayah kedua buah hatiku itu kembali ke pelukan
mereka. Namun disatu sisi, kecewaku berkecamuk. Tak menyangka, Mas
Haikal se-khianat itu padaku dan buah hatinya.
Lambat laun, kondisi Hamas semakin membaik. Aku berniat membawanya
pulang ke rumah. Genap bulan kelima Mas Haikal
tak pulang. Sebenarnya aku ingin ia menceraikanku dan memilih wanita itu, tapi
anak-anakku? Aku tak se-tega itu. Biarlah aku yang mengalah, menerimanya
kembali ketika ia sadar nanti. Karena aku yakin, tiang yang bengkok masih bisa
di luruskan kembali dengan niat dan usaha. Entah mempolesnya dengan semen atau
menyangganya kembali dengan Merbau.
Anak-anakku kini kembali ceria, setelah ku yakinkan mereka bahwa
sang ayah sedang menimba ilmu di perantauan. Siang itu, aku menghubungi nomor ponsel
Mas Haikal yang tak pernah aktif
dua bulan lamanya, sejak Hamas terbaring di rumah sakit hingga dua hari yang
lalu. Iseng, ku hubungi kembali nomornya, nyatanya upayaku tak sia-sia. Suara
lantang lelaki yang menjabat tangan ayahku dalam ijab qabul 11 tahun yang
lalu itu masih sama.
“Apa kabar, Mas?” Sapa ku pada lelaki di seberang telephone itu.
“E… Alhamdulillah, baik” Balasnya.
“Kamu apa kabar? Anak-anakku bagaimana? Lanjut Mas
Haikal seperti tak bersalah.
“Hamas baru sebulan yang lalu kembali ke rumah, Mas.
Ia terinfeksi virus salmonella typhi, Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik. Katanya, mau
ketemu papanya”
“Itu
bukan akal-akalan kamu saja kan, untuk mengajakku pulang dan memintaku
menceraikanmu!” Bentaknya padaku.
Hampir
terpancing amarah, aku mencoba bersabar menanggapi dugaan Mas Haikal yang mungkin akan dilakukan
wanita lain jika bernasip serupa denganku.
“Tidak, Mas. Aku sungguh-sungguh menyampaikan hal ini,
dan tidak ada sedikitpun rasa untuk bercerai darimu saat ini” kataku
meyakinkan.
Namun
ia tak percaya, terlanjur terprovokasi kawan-kawannya yang meyakini aku akan
meminta cerai darinya. Meski maduku menjadi orang terdepan jika suamiku
mengambil keputusan itu, namun ia tak mau melakukannya. Keherananku, apa
alasannya tak mau berpisah dengan aku? Bukankah ia telah menemukan pendamping
hidup yang sesuai harapannya, seperti Salma? Sementara untuk mempertahankanku,
ia tak melakukan lobi-lobi apapun denganku maupun orang tuaku. Acuh, bahkan
pada putra-putra yang katanya kebanggaannya. Bagi wanita di luar sana, mungkin
aku bodoh, aku berhak mendapatkan yang jelas lebih baik dari Mas Haikal. Aku yakin, apa yang menurut
kita baik belum tentu sama baiknya di sisi Allah.
Meski
ujungnya aku dan suamiku ribut, namun aku tetap teguh untuk menerimanya
kembali, demi anak-anakku. Aku tak mau mereka justru semakin hancur, jika aku
mempertahankan egoku. Berkali-kali ku hubungi nomor telephone kantor suamiku,
Endah, staffnya yang menjawab dan mengatakan Mas Haikal ada di kantor seorang diri. Belum percaya begitu
saja, sebab aku pernah mendapati Salma masuk ke ruangan Mas Haikal beberapa waktu lalu. Saat aku
berusaha meminta kejelasan nasipku dan anak-anak.
Aku
terus men-interogasi reporter majalah keluarga itu. Membuatnya menyakinkanku
bahwa Mas
Haikal ada di sana
bersama maduku. Namun nihil, jawaban Endah tak sedikit pun mengarah kesana. Aku
percaya, ia orang yang apa adanya. Niatku untuk menyambangi suamiku di
kantornya saat itu tak berhasil, sebab aku ingin menemuinya dan berbicara pada
maduku secara baik-baik. Mulanya aku tak berniat mengajak Mas Haikal menemui Salma di kediamannya,
ia jelas tak akan mengikuti pintaku. Bahkan aku yakin, ia akan paling keras
melarangku berjumpa dengan Salma. Sebab ia sadar, Salma bukan tipe wanita yang
ikhlas menerima posisiku sebagai istri pertama Mas Haikal.
Ku
tarik gas mobilku lebih kencang kala itu, sengaja. Jalanan lengang memacu
adrenalinku untuk mencoba hal baru, ku putar kencang murratal Muhammad Thaha dari
tape di mobilku, seraya mengikuti alunan merdu kalimat cinta-Nya. Entah, aku
tak tahu pasti bagaimana Sedan warna biru itu seketika menyambar mobil yang ku
kendalikan, dari belakang.
Duaaaar!!!
Suara
menggelegar itu mengejutkan warga sekitar. Beramai-ramai mereka menolong dan
membawa ku ke rumah sakit. Aku melihat tubuhku terbujur kaku di rumah sakit,
tersenyum saat dokter mengucapkan kalimat istirja'
di depan jasadku.
Sore
itu, telephone kantor berdering kembali. Namun tak ada jawaban, suster yang
berjaga di rumah sakit segera menghubungi ponsel Mas Haikal. Setelah hampir tiga jam menunggu suamiku
menjemput di rumah sakit, aku dibawa ke rumah keluargaku. Mama,
menangis-meraung. Mencaci Mas Haikal di depan jasadku dan kedua buah hatiku yang
tersedu-sedu di tubuhku.
Mendengar
kabar dari syurga, anak-anak ku mengirim doa untukku. Mengabarkan bahwa mereka
hidup bersama ayah dan neneknya. Salma, ibu sambung anak-anakku telah di
ceraikan Mas
Haikal sebab berkhianat pula. Sama kejadiannya dengan ketika suamiku
mengkhianatiku. Anak-anakku berjanji, tak akan menyakiti hati wanita yang kelak
akan mendampingi perjalanan hidup mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Hamas dan Hazbi menjelma menjadi pria dewasa yang siap mengayomi keluarga
kecilnya dengan cinta. Senyumku mengembang dari surga, yang mengiringi senyum
kedua jagoanku, investasiku di akhirat. (*)

Comments
Post a Comment