ADE IRMA SURYANI. Akrab disapa Ais. Lahir tanggal 16 November 1992. Baru selesai menamatkan S1 di STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Menulis adalah hobi dan teman cerita baginya. Sejak SD sudah suka menulis khususnya puisi. Saat ini berdomisili di Koto Alam Pangkalan Koto Baru Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat.
MIMPI PEREMPUAN
Kali ini kembali menyuarakan hajat yang pernah kuselipkan
Di tumpukan dedaunan yang berserakan
Di mana mimpi itu pernah kubuang
Mimpi yang pernah kuhapuskan
Bahkan kukubur dalam-dalam
Pada merah senja ini
Magrib pun jadi saksi
dengan suaranya yang berkumandang
Seolah memberitahuku untuk menjemput mimpi itu kembali
Bahkan angin pun mulai berlahan membuka tumpukan itu
Terlihat di sana masih tertulis inginmu yang dulu, “Ais”
Tidak banyak Tuhan, satu kalimat saja
“Menjadi makmum di setiap Isyamu, Subuhmu, Zuhur, Asarmu
dan Magribmu
Imamku
PUSARAMU
Manari di ufuk senja
Berirama buih-buih halus bertangga
Meniti satu per satu langkah
Menepi pilihan di satu pusara
Ayah...
Terpandangi rumahnya
Merona bak kelip-kelip mata
Menitik tumpukan air suci yang merana
Ucapan kilat suara seperti lintasan
Ingin berteriak agar kaudengarkan
Andai kujadi angin lambaian
Ku ‘kan masuk ke Istana Kuburan
Menyapa kau dengan doa-doa
Terlepas Alquran di tangan
Terpandang ke sudut kertas tumpukan
Telah terbakar bersama semak belukar
Seolah mewakili diri ini hangus terbakar
Matinya jiwaku karena kaubiarkan
Aku di sini dengan tangisan desakan
Meraung menahan rindu di enam belas tahun kautinggalkan
Ayah...
Tolong ambilkan pewarna baru lagi
Setidaknya sebagai pengganti sementara
Agar kisah yang kautinggalkan ini
Tak menjadi beban di hati kunanti
Ingin menerbitkan buku & cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.
MIMPI PEREMPUAN
Kali ini kembali menyuarakan hajat yang pernah kuselipkan
Di tumpukan dedaunan yang berserakan
Di mana mimpi itu pernah kubuang
Mimpi yang pernah kuhapuskan
Bahkan kukubur dalam-dalam
Pada merah senja ini
Magrib pun jadi saksi
dengan suaranya yang berkumandang
Seolah memberitahuku untuk menjemput mimpi itu kembali
Bahkan angin pun mulai berlahan membuka tumpukan itu
Terlihat di sana masih tertulis inginmu yang dulu, “Ais”
Tidak banyak Tuhan, satu kalimat saja
“Menjadi makmum di setiap Isyamu, Subuhmu, Zuhur, Asarmu
dan Magribmu
Imamku
PUSARAMU
Manari di ufuk senja
Berirama buih-buih halus bertangga
Meniti satu per satu langkah
Menepi pilihan di satu pusara
Ayah...
Terpandangi rumahnya
Merona bak kelip-kelip mata
Menitik tumpukan air suci yang merana
Ucapan kilat suara seperti lintasan
Ingin berteriak agar kaudengarkan
Andai kujadi angin lambaian
Ku ‘kan masuk ke Istana Kuburan
Menyapa kau dengan doa-doa
Terlepas Alquran di tangan
Terpandang ke sudut kertas tumpukan
Telah terbakar bersama semak belukar
Seolah mewakili diri ini hangus terbakar
Matinya jiwaku karena kaubiarkan
Aku di sini dengan tangisan desakan
Meraung menahan rindu di enam belas tahun kautinggalkan
Ayah...
Tolong ambilkan pewarna baru lagi
Setidaknya sebagai pengganti sementara
Agar kisah yang kautinggalkan ini
Tak menjadi beban di hati kunanti
Ingin menerbitkan buku & cetak majalah sekolah? Hubungi FAM Publishing di 0812-5982-1511 atau email: aktifmenulis@gmail.com.

Comments
Post a Comment