Dulu, bertahun-tahun si Aku hidup dan berjalan dengan hati yang hancur ketika kepada seorang gadis hatinya dia jatuhkan. Kini dia mau menjatuhkan hatinya lagi, tapi kepada siapa? Kepada seorang gadis jelita? Apakah peristiwa yang dulu akan terulang kembali? Bagaimana perihnya hati si Aku ketika ditembak orang?
Beberapa hari kemudian, seorang pemuda tampan sekitar usia 29 tahun kedapatan berlari kian ke mari sambil menjambak-jambak rambutnya dan berteriak histeris, “Pak Direktur maafkan saya! Pak Direktur maafkan saya!” Begitulah nasib tragis seorang mantan karyawan di akhir kariernya dalam cerpen Haus.
Bagaimana nasib si Aku dan saudaranya ketika berada di pinggir jurang dalam cerpen Jurang? Samakah nasibnya dengan si Aku dan saudaranya dalam cerpen Tembok Berlin? Bagaimana akhir perjuangan seorang pemuda gila bersama Bapak Kepala Desa gila dan ketua karang taruna gila?
Dalam buku ini, ada sepuluh cerpen yang ditulis dengan sungguh-sungguh, mengundang penasaran, dan tentu saja mengaduk-aduk perasaan pembaca.
***
Raflis, menulis cerpen adalah pilihan yang tepat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa cerpen berhasil sebagai pemenang. Gaya penulisan yang menampilkan persoalan hidup masyarakat seperti tukang sapu, yang tersirat dalam cerpen-cerpen di dalam buku ini, adalah sindiran pada diri kita sendiri. Gaya penulisan Raflis, mengingatkan kita pada gaya satire sastrawan AA Navis.
~Lili Asnita, Penulis Buku Cerpen Merajut Asap
Banyak cerpenis hebat lahir di Ranah Minang, salah seorangnya Raflis Chaniago. Gaya penulisannya khas, sarat pesan moral, dan mencerahkan.
~Muhammad Subhan, Penulis Novel Rinai Kabut Singgalang
Cerita pendek di dalam buku ini penuh simbol, multikonflik, dan estetika bahasanya mengagumkan.
~Aliya Nurlela, Penulis Buku Cerpen Flamboyan Senja
[Info pemesanan dan penerbitan buku di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email: forumaktifmenulis@yahoo.com]
Beberapa hari kemudian, seorang pemuda tampan sekitar usia 29 tahun kedapatan berlari kian ke mari sambil menjambak-jambak rambutnya dan berteriak histeris, “Pak Direktur maafkan saya! Pak Direktur maafkan saya!” Begitulah nasib tragis seorang mantan karyawan di akhir kariernya dalam cerpen Haus.
Bagaimana nasib si Aku dan saudaranya ketika berada di pinggir jurang dalam cerpen Jurang? Samakah nasibnya dengan si Aku dan saudaranya dalam cerpen Tembok Berlin? Bagaimana akhir perjuangan seorang pemuda gila bersama Bapak Kepala Desa gila dan ketua karang taruna gila?
Dalam buku ini, ada sepuluh cerpen yang ditulis dengan sungguh-sungguh, mengundang penasaran, dan tentu saja mengaduk-aduk perasaan pembaca.
***
Raflis, menulis cerpen adalah pilihan yang tepat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa cerpen berhasil sebagai pemenang. Gaya penulisan yang menampilkan persoalan hidup masyarakat seperti tukang sapu, yang tersirat dalam cerpen-cerpen di dalam buku ini, adalah sindiran pada diri kita sendiri. Gaya penulisan Raflis, mengingatkan kita pada gaya satire sastrawan AA Navis.
~Lili Asnita, Penulis Buku Cerpen Merajut Asap
Banyak cerpenis hebat lahir di Ranah Minang, salah seorangnya Raflis Chaniago. Gaya penulisannya khas, sarat pesan moral, dan mencerahkan.
~Muhammad Subhan, Penulis Novel Rinai Kabut Singgalang
Cerita pendek di dalam buku ini penuh simbol, multikonflik, dan estetika bahasanya mengagumkan.
~Aliya Nurlela, Penulis Buku Cerpen Flamboyan Senja
[Info pemesanan dan penerbitan buku di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email: forumaktifmenulis@yahoo.com]

Comments
Post a Comment