Skip to main content

Dulu “Melamar” Sekarang “Dilamar”

Oleh: Aliya Nurlela

“Kapan sih saya mendapatkan hasil dari menulis? Katanya kalau kita fokus, maka hasil berupa materi akan kita dapatkan. Tapi, sudah lama saya menulis, tak menghasilkan apa pun. Mengirim tulisan ke media tidak pernah dimuat, ke penerbit apalagi. Kalaupun dimuat di media, honornya tidaklah seberapa. Berjejal mengantri di penerbit konvensional, juga tidak mudah. Kabar naskah dimuat atau tidaknya hingga berbulan-bulan. Kalau menerbitkan secara indie, harus keluar biaya. Setelah buku terbit, tanpa kemampuan menjual, ujung-ujungnya buku hanya dibagi-bagikan. Maunya mendapat penghasilan dari menulis, tapi yang terjadi sebaliknya, malah tekor. Kalau sudah seperti ini, tidak bersemangat lagi menulis dan lebih baik tidak menulis lagi.”

Itu keluhan yang sering saya dengar dari teman-teman yang suka menulis, bahkan telah menuliskan cita-cita utamanya menjadi seorang penulis. Ada pula yang “curhat” secara langsung, “saya sudah bertekad menjadi penulis dan mendapat penghasilan dari menulis. Maka saya pun berani membeli laptop secara kredit. Tiap hari saya menulis dan mengirimkannya ke media, namun tak ada satu pun tulisan yang menghasilkan uang. Yang ada tagihan utang semakin numpuk. Saya tak mampu membayar cicilan laptop dan kehilangan semangat menulis. Tampaknya, kegiatan menulis belum memiliki prospek cerah.”

Jawaban saya sebagai orang yang suka menulis juga, hanya satu. Yaitu, luruskan niat sebelum menulis. Apa sih niat kita menulis? Jika menulis diniatkan untuk dakwah bil qalam (menyebar kebaikan lewat pena) maka kondisi apa pun yang dihadapi dalam kegiatan tulis menulis itu harus siap dan tegar untuk dihadapi. Tak ada kata “lelah” dalam menyebar kebaikan. Meskipun hasil secara materi, lambat didapat.

Saya teringat waktu masih sekolah di bangku MTs. Usia saya masih sangat belia, 13 tahun. Herannya, pada saat sekolah itu orangtua jarang sekali memberi uang saku harian. Padahal jarak rumah ke sekolah sekitar 3 km yang harus ditempuh dengan jalan kaki. Jarang juga diberi jatah uang untuk naik ojek, yang merupakan kendaraan satu-satunya ke daerah itu. Teman-teman satu sekolah, rata-rata mereka membawa uang saku setiap hari. Uang saku anak MTs saat itu, rata-rata Rp100,- (seratus rupiah). Maklum makanan ringan yang sekarang harganya lima ratus rupiah, waktu itu masih seharga dua puluh lima perak. Dari uang saku seratus rupiah itu, bisa didapat empat bungkus makanan ringan.Teman-teman yang rumahnya jauh dari sekolah, banyak juga yang naik kendaraan umum. Meskipun yang berjalan kaki juga banyak. Saya sebagai anak salah seorang guru di sekolah tersebut, justru tidak mendapatkan itu. Entah apa alasannya. Mungkin orangtua bertujuan mendidik dengan cara demikian, agar anaknya tidak tercetak menjadi anak yang manja. Tidak semua hal harus dituruti dan disamakan.

Saya selalu berpikir, “kerja apa yang bisa menghasilkan uang perhari, lima puluh perak saja?” Saat sendiri saya selalu memikirkan hal tersebut. Namun sulit mendapat jawaban. Saya bahkan balik bertanya pada diri sendiri, “Siapa juga yang mau mempekerjakan anak MTs yang tidak punya keahlian?”

Akhirnya, suatu hari muncullah ide untuk mengirimkan tulisan-tulisan pendek ke koran lokal di daerah itu. Meskipun hasil ketikannya amburadul, saya percaya diri mengirimkannya dan berharap redakturnya baik hati serta memaklumi kalau itu hasil karya anak remaja usia 13 tahun. Alhamdulilah, empat tulisan pertama dimuat. Senangnya minta ampun. Apalagi mendapat honor dari tulisan tersebut. Honor satu tulisan ketika itu Rp1.000,- (seribu rupiah). Untuk empat tulisan, Rp4.000 (empat ribu rupiah). Wow, saya terpekik senang. Itu artinya honor tersebut telah melampui target yang saya buat. Kalau sehari teman-teman mendapat uang saku seratus rupiah, maka honor saya bisa cukup untuk uang saku selama 1 bulan lebih. Fantastis. Rasanya, mendadak menjadi siswa terkaya di sekolah, he-he.

Lebih senang lagi, ketika honornya diantar ke sekolah oleh petugas dari media tersebut dengan menggunakan mobil yang bertuliskan nama koran itu. Wah, rasanya sangat dihargai. Pihak sekolah pun ikut bangga, terlebih orangtua yang ikut menyaksikan. Ternyata dari menulis sederhana itu saja, saya merasa mendapatkan kebahagiaan berupa rasa senang, popularitas, dan honor yang lumayan. Meskipun sebagai remaja yang baru memiliki uang sendiri, belum pandai mengelolanya. Honor pertama itu, sebagiannya langsung saya pakai mentraktir enam orang teman untuk membeli bakso. Harga semangkuk bakso waktu itu Rp250. Bahkan ada teman yang minta dibelikan prangko, langsung saya belikan. Ah, senangnya bisa membuat tersenyum banyak orang dari hasil keringat sendiri. Ternyata cara mendidik yang diterapkan orangtua, telah mendorong seorang anak bertindak kreatif. Sungguh, sangat berterima kasih pada keduanya.

Saya terus menulis meskipun belum menghasilkan apa pun dari menulis yang bisa mencukupi kebutuhan hidup. Bahkan, tak pernah menuliskan cita-cita menjadi seorang penulis. Tapi karena menulis sudah menjadi hobi, sepertinya kegiatan menulis tak bisa dilepaskan lagi. Bahkan, dalam kondisi tertentu saya selalu menulis sambil memasak.

Meskipun saya sudah berumah tangga, tak pernah terpikir minta dibelikan komputer atau laptop pada suami. Dua buku saya yang telah diterbitkan penerbit konvensional, saya tulis di buku tulis. Lalu menggunakan komputer milik saudara yang sudah tidak terpakai untuk mengetiknya. Saya selalu bertekad, hanya ingin membeli laptop dari hasil menulis sendiri.

Suatu hari, saya tiba-tiba diajak suami ke sebuah toko elektronik. Tiba di sana, ia menyuruh saya memilih netbook yang banyak dipajang di etalase. Terus terang saya protes. Saya tidak ingin memiliki netbook, laptop atau komputer kalau uangnya bukan dari hasil menulis. Saya ngotot untuk tetap menulis di buku tulis atau komputer pinjaman saudara itu. Rasanya tekad untuk memiliki fasilitas menulis dari hasil menulis kuat sekali. Namun karena harus menghargai juga sebuah pemberian, saya tetap menerimanya dan menggunakan fasilitas yang diberikan itu dengan baik. Alhamdulilah, ternyata cukup membantu dalam kegiatan tulis menulis.

Rasanya senang sekali, ketika kemudian telah mendapat materi yang cukup dari hasil menulis serta bisa mewujudkan tekad tersebut. Mampu membeli laptop sendiri tanpa perlu kredit.

Saya rasa tak ada yang mustahil ketika kita tak patah semangat untuk meraihnya. Berawal dari hobi, meluruskan niat, lalu menghasilkan materi dan akhirnya bisa berbagi dengan banyak orang. Sungguh, kebahagiaan itu sangat terasa ketika bisa membahagiakan orang lain. Tak mustahil, yang di awal menulis tak memiliki fasilitas apa-apa dan tak menghasilkan apa pun bahkan “melamar” ke media sana-sini selalu ditolak. Naskah numpuk di rumah, tak pernah dimuat. Suatu saat justru banyak orang “melamar” yang mengirimkan naskahnya pada kita. Kitalah yang akan menyeleksi naskah-naskah para “pelamar” itu. Honor yang awalnya hanya empat ribu rupiah, jumlahnya akan menjadi berlipat-lipat. Empat ribu menjadi 40 juta sebulan bahkan lebih. Tak mustahil. Bagi saya pada angka 40 juta saja, sudah membuat “terpekik” dan penuh syukur. Yang awalnya kita bukan “siapa-siapa” akan menjadi “siapa-siapa.” Semua berkat kesungguhan kita dalam menulis. Benar, tak ada yang mustahil. Jika kita sungguh-sungguh, tekun, disiplin, akan terbuka banyak jalan. Berawal dari hobi menulis, potensi kita lainnya akan tergali. Ternyata, lahan menulis itu sangat luas dan memiliki prospek yang cerah.

Sekali lagi, tak ada kata “lelah” dalam menyebar kebaikan. Kalaupun belum mendapatkan balasan secara materi, insya Allah ada balasan lain yang tersimpan. Sebab, niat di awal bukan menjadikan materi sebagai tujuan utama. Itu akan menjadi motivasi kita untuk tetap semangat menulis. Kalau toh materi telah banyak diraih, jika niat baik itu telah ditata, maka dari materi yang dihasilkan itu akan menjadi sarana untuk semakin menyebarkan manfaat bagi banyak orang. Jadi, tak perlu bersedih jika saat ini berulangkali “melamar” dan “melamar,” insya Allah suatu hari nanti, Andalah yang “dilamar.” Insya Allah semua yang Anda impikan di awal menulis, akan berada dalam genggaman. Teruslah berkarya sebelum kehilangan semuanya.

Salam santun, salam karya.

*) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...