Judul Buku: Jembatan Merah
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penulis: 36 Penulis Cerpen
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: I, April 2013
Tebal: 325 halaman
ISBN: 978-602-7956-10-0
“Jembatan Merah” merupakan lambang perjuangan rakyat Surabaya dan saksi bisu betapa gigih dan beraninya Arek-Arek Suroboyo dalam pertempuran hebat pada 10 November di Surabaya melawan tentara sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya. Di sinilah Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan Arek-Arek Suroboyo.”
“Jembatan Merah” merupakan sumber inspirasi lahirnya cerita-cerita bertema perjuangan hidup, baik perjuangan mempertahankan hak, mencari keadilan, menjaga harga diri, menegakkan nilai-nilai kebenaran, melawan pesimistis dan ketidakmunkinan, atau juga perjuangan meraih impian.
Dalam Antologi “Jembatan Merah” ini para penulis melukiskan tulisan mereka ke dalam kumpulan cerpen dengan berbagai macam perjuangan hidup para insan yang ditulis dengan sangat mengebu oleh 36 cerpenis tanah air ini, sehingga memancarkan inspirasi-inspirasi, motivasi-motivasi, nilai-nilai kebenaran yang ditemui atau akan kita hadapi dalam hidup ini.
Di antaranya terdapat gambaran perjuangan seorang ibu, yang mengandung anaknya selama 9 bulan lebih, perjuangan sekaligus pengorbanan seorang ibu saat melahirkan, Perjuangan ibu yang selalu sabar terhadap perlakuan suami dan menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya, Perjuangan seorang ayah dalam menafkahi keluarga, menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya dan rela berkorban untuk anak-anak serta istrinya, Perjuangan anak manusia menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi saudara-saudara dan merawat kedua orang tuanya, Perjuangan dalam meraih prestasi, beasiswa, sekolah, kuliah hingga menjadi orang yang sukses, Perjuangan menjaga harga diri dan kehormatan, serta masih bayak perjuangan-perjuangan hidup lainnya yang semua itu akan sangat memotivasi dan menginspirasi hidup kita.
Membaca antologi ini bagai sedang menghadapi lika-liku kehidupan dan bersiap dengan kehidupan selanjutnya. Semua manusia pasti pernah memiliki masalah dalam hidupnya dan mempunyai solusi untuk mengatasinya, dengan caranya sendiri bangkit dari keterpurukan kembali menuju kehidupan yang jauh lebih baik.
Pembaca dimanjakan dengan tata bahasa yang sangat sederhana, pemaknaan yang dalam serta penuh arti. Dengan pendeskripsian para cerpenis tentang tempat dan kejadian yang jelas sehingga pembaca serasa turut melihat, merasakan serta ikut dalam memerankan tokoh dalam cerita. Walau ada cerita yang menggunakan istilah atau nama tersendiri yang tidak semua orang dapat mengetahui maknanya seperti nama daerah dan sebagainya, namun hal itu tidak menjadi masalah.
Konfucius seorang Filsuf Cina mengatakan, “Manusia yang bermartabat adalah orang yang dalam rangka menjaga dirinya, memberikan pijakan yang kuat bagi orang lain dan dalam rangka meraih prestasinya sendiri, membantu orang lain untuk berprestasi.” Hal ini telah dibuktikan oleh cerpenis-cerpenis yang telah menggoreskan tulisannya dalam antologi ini. Maka sangat disayangkan jika kita tidak membacanya.
Peresensi:
OKTAVIA
IDFAM 1486M , Tanah Datar
Email: oktavialint@yahoo.co.id
Kategori: Kumpulan Cerpen
Penulis: 36 Penulis Cerpen
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: I, April 2013
Tebal: 325 halaman
ISBN: 978-602-7956-10-0
“Jembatan Merah” merupakan lambang perjuangan rakyat Surabaya dan saksi bisu betapa gigih dan beraninya Arek-Arek Suroboyo dalam pertempuran hebat pada 10 November di Surabaya melawan tentara sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya. Di sinilah Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan Arek-Arek Suroboyo.”
“Jembatan Merah” merupakan sumber inspirasi lahirnya cerita-cerita bertema perjuangan hidup, baik perjuangan mempertahankan hak, mencari keadilan, menjaga harga diri, menegakkan nilai-nilai kebenaran, melawan pesimistis dan ketidakmunkinan, atau juga perjuangan meraih impian.
Dalam Antologi “Jembatan Merah” ini para penulis melukiskan tulisan mereka ke dalam kumpulan cerpen dengan berbagai macam perjuangan hidup para insan yang ditulis dengan sangat mengebu oleh 36 cerpenis tanah air ini, sehingga memancarkan inspirasi-inspirasi, motivasi-motivasi, nilai-nilai kebenaran yang ditemui atau akan kita hadapi dalam hidup ini.
Di antaranya terdapat gambaran perjuangan seorang ibu, yang mengandung anaknya selama 9 bulan lebih, perjuangan sekaligus pengorbanan seorang ibu saat melahirkan, Perjuangan ibu yang selalu sabar terhadap perlakuan suami dan menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya, Perjuangan seorang ayah dalam menafkahi keluarga, menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya dan rela berkorban untuk anak-anak serta istrinya, Perjuangan anak manusia menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi saudara-saudara dan merawat kedua orang tuanya, Perjuangan dalam meraih prestasi, beasiswa, sekolah, kuliah hingga menjadi orang yang sukses, Perjuangan menjaga harga diri dan kehormatan, serta masih bayak perjuangan-perjuangan hidup lainnya yang semua itu akan sangat memotivasi dan menginspirasi hidup kita.
Membaca antologi ini bagai sedang menghadapi lika-liku kehidupan dan bersiap dengan kehidupan selanjutnya. Semua manusia pasti pernah memiliki masalah dalam hidupnya dan mempunyai solusi untuk mengatasinya, dengan caranya sendiri bangkit dari keterpurukan kembali menuju kehidupan yang jauh lebih baik.
Pembaca dimanjakan dengan tata bahasa yang sangat sederhana, pemaknaan yang dalam serta penuh arti. Dengan pendeskripsian para cerpenis tentang tempat dan kejadian yang jelas sehingga pembaca serasa turut melihat, merasakan serta ikut dalam memerankan tokoh dalam cerita. Walau ada cerita yang menggunakan istilah atau nama tersendiri yang tidak semua orang dapat mengetahui maknanya seperti nama daerah dan sebagainya, namun hal itu tidak menjadi masalah.
Konfucius seorang Filsuf Cina mengatakan, “Manusia yang bermartabat adalah orang yang dalam rangka menjaga dirinya, memberikan pijakan yang kuat bagi orang lain dan dalam rangka meraih prestasinya sendiri, membantu orang lain untuk berprestasi.” Hal ini telah dibuktikan oleh cerpenis-cerpenis yang telah menggoreskan tulisannya dalam antologi ini. Maka sangat disayangkan jika kita tidak membacanya.
Peresensi:
OKTAVIA
IDFAM 1486M , Tanah Datar
Email: oktavialint@yahoo.co.id

Comments
Post a Comment