Skip to main content

Ulasan Artikel “Jatuhnya Ruh Pendidikan” Karya Suandri Ansah (FAMili Jakarta)

Tema yang diangkat dalam artikel ini cukup menarik karena terkait dengan isu pendidikan dan agama. Penulis bisa memilih banyak alternatif judul artikel ini antara lain: “Hilangnya Ruh Pendidikan Kita”, “Ruh Pendidikan Kita”? dan lainnya.

Sepembacaan Tim FAM, uraian dari penulis artikel ini masih bersifat umum. FAM merekomendasikan agar artikel ini diperkuat dengan berbagai referensi atau pendapat dari para pakar atau perangkat regulasi seperti: Undang-Undang, Peraturan Pemerintah atau lainnya.

Sedangkan, secara bahasa ada beberapa kata yang ditulis kurang lengkap antara lain: pada paragraf pertama tertulis kata “menamampakkan” seharusnya “menampakkan”, kata “bebrapa” seharusnya “beberapa”. Dalam hal ini penulis perlu melakukan editing terhadap tulisan. Editing dapat dilakukan secara berulang, minimal dua kali. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam pengetikan. Proses editing yang secara berulang juga penting untuk menyempurnakan gagasan yang dituangkan penulis melalui artikel ini.

Penulis juga perlu memerhatikan pola kalimat yang secara umum diawali dari subyek, kata kerja dan selanjutnya obyek. Seperti dalam kalimat berikut ini: “Berbeda dengan aktifitas sholat pada lazimnya, mereka tidak menutup aurat dengan benar dan menambahi gerakan dengan berjoget-joget ria sambil di iringi musik barat.” Penulis dapat membuat kalimat yang sederhana seperti: Hal ini berbeda dengan ..... Kata “Hal”, menggambarkan bahwa kalimat ini merupakan penjabaran dari kalimat sebelumnya. Dengan demikian di dalam satu paragraf terdapat hubungan atau saling keterkaitan satu sama lain. Biasanya kalimat pertama adalah inti kalimat. Sedangkan kalimat berikutnya merupakan penjelasan dari kalimat pertama.

Tulisan ini cukup menarik kalau penulisnya merumuskan permasalahan secara sistematis dengan didukung referensi. Sedangkan pada bagian tengah artikel penulis memberikan solusi alternatif atas permasalahan tersebut. Namun demikian, FAM tetap memberikan apresiasi karena penulis telah berusaha menyelesaikan tulisannya, dan tentu saja ke depan dapat ditulis lebih baik.

Teruslah berkarya, salam santun.

TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

[BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

“Jatuhnya Ruh Pendidikan”

Karya: Suandri Ansah (FAMili Jakarta)

Menyikapi soal video yang saat ini membuat gempar jagad online khususnya dalam ranah agama. Video yang berdurasi sekitar lima menit itu menamampakkan aktifitas bebrapa pelajar SMAN 2 Tolitoli yang sedang memeragakan aktifitas shalat. Berbeda dengan aktifitas sholat pada lazimnya, mereka tidak menutup aurat dengan benar dan menambahi gerakan dengan berjoget-joget ria sambil di iringi musik barat.

Inilah hasil output pendidikan di negeri kita, negeri dengan faham pancasila yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa ternyata melahirkan generasi-generasi yang menganggap remeh sebuah agama. Agama yang seharusnya merupakan “daerah” suci dan mensucikan kini tak luput menjadi bahan tertawaan, ironisnya ini dilakukan di tangan pelajar yang merupakan tonggak intelektualitas dan mercusuar kepribadian luhur.

Sistem kurikulum Indonesia, khususnya tingkat SMA/SMK mereka semua rata-rata menyediakan alokasi waktu 2 jam tiap minggunya untuk pelajaran normative (Agama dan Kwarganegaraan), belum lagi ditambah kebijakan sekolah dalam peningkatan kerohanian siswa. Namun ini semua seperti tidak berbekas apa-apa, bahkan dalam diri seorang pelajar yang notabennya masih menjalani itu semua. Pelajar yang seharusnya menjadi duta kebaikan dan intelektualitas bagi sekolahnya kini memilih menjadi duta yang menjatuhkan harga diri pendidikan, khususnya dalam ranah agama.

Memang tidak mudah membangun kepribadian seseorang untuk menjadi baik, apalagi menangani seorang pelajar yang sedang mengalami masa perkembangan, penyesuaian dan pencarian jati diri. Berangkat dari sini maka kita harus memastikan mereka-mereka yang berperan dalam membentuk dan mengarahkan pelajar dalam pencarian jati diri mereka. Ibarat seorang penggembala, mereka yang tidak mahir menggembala akan membuat gembalanya terpencar, masuk ke jurang atau di terkam binatang buas.

Untuk itu maka peran orang tua sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak menjadi sangat penting.Orang tua sebagai fondasi spiritual dan intelektual dituntut untuk lebih peka dan lebih mengerti akan kondisi rohani dan jasmani anak-anaknya. Orang tua yang bersikap acuh akan hal itu maka insyaallah hanya akan menelurkan generasi-generasi lemah dan amoral. Terlebih jika orang tuanya lemah dalam rohani dan intelektual, sudah tak tau-tak peduli pula, sudah jatuh-tertiban tangga pula. Kasihan negeri ini.

Peran guru sebagai pemegang amanah dari para orang tua yang mempercayakan pengembangan rohani dan kecerdasan anak-anak mereka menjadi aktor utama setelah orang tua dalam membuat skenario kehidupan yang lebih baik. Dari sini peran guru dituntut untuk lebih massif dalam menanamkan nilai nilai kebaikan kepada peserta didik.

Tugas guru tidak hanya berdiri mengajar, menyampaikan materi dan member tugas namun lebih penting dari itu semua adalah mengayomi dan mendidik peserta didik. Namanya juga pendidik, ya mendidik. Saya kira bapak-ibu guru lebih faham tentang itu.

Inilah yang dibutuhkan negeri ini. Ketika kita semua sadar akan hal ini, dimana nilai nilai agama, kebaikan dan keluhuran menjadi unsur yang sangat essensial bagi karakteristik pendidikan negeri ini. Make lambat laun akan tercapai cita-cita pendidikan, menciptakan generasi-generasi intelektual dan agamis. Generasi-generasi yang taat kepada Tuhannya, juga menghormati sesamanya. Wallahu’alam

*) Tulisan ini juga dipublikasikan dalam kompasiana

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...