Puisi ini menarik. Berangkat dari pengalaman yang langsung dialami penulisnya. Sebuah gambar bunga rumah yang menempel anggun di sisi lemari kamar mama si penulis. Dari gambar itu, lahirlah puisi ini.
Pilihan diksinya cukup baik. Hanya saja penulis masih perlu memerhatikan EYD, karena ditemukan beberapa kesalahan penulisan, di antaranya pada kata “masalalu” yang ditulis serangkai. Seharusnya ditulis terpisah: “masa lalu”. Begitu pun pada kata “dimana”, seharusnya ditulis “di mana”. Kata “di” harus dipisah karena “mana” menunjukkan tempat.
Pada bait ke empat puisi ini, penulis menggunakan elipsis (tanda titik-titik) pada baris “Suara itu..”. Elipsis yang dipakai hanya dua titik (..), seharusnya tiga titik (...). Tetapi dianjurkan tidak menggunakan elipsis, karena tanpa titik-titik itu puisi ini sudah cukup indah.
Demikianlah catatan FAM. Terus kembangkan imajinasinya dengan membuat puisi bertema sosial lainnya. Arinny Fharahma cukup punya bakat menulis puisi.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Bunga Rumah di Masalalu
Karya: Arinny Fharahma
Sempat kusimak gemuruh suara itu
Berteriak, berseru di lorong kegelapan
Berguncang, bertempur di telingaku
Suara anak dan ibu yang tersirat dalam masalalu
Dimana dulu, aku terikat pula di lembah itu
Suara yang mengucapkan selamat tinggal kenangan
Masih hidup lambaian-lambaian tangan itu
Ia bersemayam dan senantiasa ada
Dalam lembah benakku
Di bawah mekar mentari
Terik menerka wajah itu
Suara itu..
Suara masalalu tercatat dalam ruhku
Suara anak yang menerka lembaran-lembaran angin
Menanyakan apa yang ibunya gambarkan untuknya
Ibunya menjawab “Bunga rumah untuk papa kita, yang kelak akan pulang dan akan bersama-sama menanti tetesan hujan terakhir lagi, layaknya bahagia yang lalu.”
28 Agustus 2012
[Gambar bunga rumah yang masih menempel anggun di sisi lemari yang ada di kamar mama, sebuah kisah nyata yang tak kan kulupa. Dimana tragedi yang menghancurkan keluarga kecilku. Menginspirasiku untuk menulis puisi ini]
Pilihan diksinya cukup baik. Hanya saja penulis masih perlu memerhatikan EYD, karena ditemukan beberapa kesalahan penulisan, di antaranya pada kata “masalalu” yang ditulis serangkai. Seharusnya ditulis terpisah: “masa lalu”. Begitu pun pada kata “dimana”, seharusnya ditulis “di mana”. Kata “di” harus dipisah karena “mana” menunjukkan tempat.
Pada bait ke empat puisi ini, penulis menggunakan elipsis (tanda titik-titik) pada baris “Suara itu..”. Elipsis yang dipakai hanya dua titik (..), seharusnya tiga titik (...). Tetapi dianjurkan tidak menggunakan elipsis, karena tanpa titik-titik itu puisi ini sudah cukup indah.
Demikianlah catatan FAM. Terus kembangkan imajinasinya dengan membuat puisi bertema sosial lainnya. Arinny Fharahma cukup punya bakat menulis puisi.
Salam santun, salam karya.
TIM FAM INDONESIA
www.famindonesia.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Bunga Rumah di Masalalu
Karya: Arinny Fharahma
Sempat kusimak gemuruh suara itu
Berteriak, berseru di lorong kegelapan
Berguncang, bertempur di telingaku
Suara anak dan ibu yang tersirat dalam masalalu
Dimana dulu, aku terikat pula di lembah itu
Suara yang mengucapkan selamat tinggal kenangan
Masih hidup lambaian-lambaian tangan itu
Ia bersemayam dan senantiasa ada
Dalam lembah benakku
Di bawah mekar mentari
Terik menerka wajah itu
Suara itu..
Suara masalalu tercatat dalam ruhku
Suara anak yang menerka lembaran-lembaran angin
Menanyakan apa yang ibunya gambarkan untuknya
Ibunya menjawab “Bunga rumah untuk papa kita, yang kelak akan pulang dan akan bersama-sama menanti tetesan hujan terakhir lagi, layaknya bahagia yang lalu.”
28 Agustus 2012
[Gambar bunga rumah yang masih menempel anggun di sisi lemari yang ada di kamar mama, sebuah kisah nyata yang tak kan kulupa. Dimana tragedi yang menghancurkan keluarga kecilku. Menginspirasiku untuk menulis puisi ini]

Comments
Post a Comment