Skip to main content

[Resensi Buku] Jembatan Merah Menggugah Bumi Pertiwi

Judul: Jembatan Merah
Penulis: 36 Penulis Cerpen
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: Pertama April 2013
Tebal: 325 halaman
ISBN: 978-602-7956-10-0


Setengah abad lebih petualangan anak-anak negeri bergelora mengumandangkan kemerdekaannya, tetapi mengapa bekas perjuangan mereka tidak mengukir di dada para pewaris negeri? Mengapa upaya arek-arek Suraboyo masa lampau dapat mengibarkan sang merah putih di bumi pahlawan itu, sementara manusia masa kini masih duduk-duduk manis menunggu hidayah yang mendatanginya?

Dua pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab. Faktanya revolusi bukanlah perkara yang mudah. Setiap warga negara memiliki konteks pemikiran perjuangan sendiri yang menyebabkan revolusi harus melalui tikungan yang terjal dan menakutkan. Tidak terelakkan, faktor struktur perhatian terhadap nilai perjuangan itu harus digoreskan dalam simbol-simbol perjuangan pewaris negeri ini.

Buku Jembatan merah merupakan buku yang tepat untuk menjawab pertanyaan dan kemuskilan di atas. Buku ini merupakan salah satu buku fiksi yang menjadi gambaran perjuangan anak-anak negeri dalam mewujudkan harapannya meniti liku-liku kehidupan yang ditulis oleh 36 penulis cerita pendek yang melambangkan diri mereka. Tidak hanya potret satu sisi saja, melainkan penulis buku juga berusaha mengetengahkan latar historis yang menggambarkan dinamika pertarungan nasib dan petualangan yang mengesankan dari masa kecil hingga dewasa ini.

Secara historis, Jembatan merah ini dikenal sebagai saksi pertempuran arek-arek Suraboyo. Siapa yang bersungguh-sungguh melawan penjajah, maka ia akan menemui buah kemanisan hidup. Sejak penulis yang berhuni dari Sumatera hingga arah timur Indonesia, mereka menjadi perwakilan setiap daerah dengan gaya bercerita yang khas. Buku ini juga menjadi miniaturnya Surabaya era masa kini yang telah mempersatukan semangat dan hubungan harmonis antara etnis dan ras yang tersebar di Indonesia. Karena itu, buku ini dikenal sebagai simbolis dari salah satu tempat kelahiran peradaban Indonesia di Surabaya.

Sekilas Jembatan Merah

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia cabang Surabaya dan sekitarnya mengadakan program penerbitan buku antologi cerpen bertajuk “Jembatan Merah”. Hal tersebut menjadi proyek penerbitan terbuka untuk anggota FAM Indonesia maupun nonanggota di mana saja berada. Perihal mengapa buku antologi cerpen ini berjudul “Jembatan Merah”?

jelas saja, sejarah mengatakan bahwa Jembatan Merah merupakan lambang perjuangan. Sebagaimana sudah kita kenal, ia menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya Arek-Arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya. Di sinilah Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan Arek-Arek Suroboyo.

Berangkat dari fakta sejarah yang sangat membanggakan itu, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia cabang Surabaya dan sekitarnya berharap dapat menjadikan “Jembatan Merah” sebagai sumber inspirasi lahirnya cerita-cerita bertema perjuangan hidup, baik itu perjuangan mempertahankan hak, mencari keadilan, menjaga harga diri, menegakkan nilai-nilai kebenaran, melawan pesimistis dan ketidakmungkinan, juga perjuangan meraih impian.

Pada masa modern, kisah hidup setiap pemuda Indonesia beraneka ragam. Bermula dari perjalanan pendidikan masa kampung halaman tercinta hingga memijakkan kaki ke tanah rantau, penulis mengajak pembaca merasakan kehidupan yang berwarna itu. Kisah di dalamnya menjunjung arti sosok generasi muda dengan keluh kesah dan jalan kehidupan menerpa di kanan dan kirinya dengan memainkan peranan penting dalam menekuni cita-cita dan keluarganya. Melalui cerita itu, pera penulis mengukuhkan usaha untuk keluar dari keterpurukan nasib diri dan keluarga untuk menyuarakan kebebasan mengekspresikan diri, bertualang di bumi pertiwi mengukir mimpi.

Sejak membaca satu per satu cerpen tersebut, pembaca dibuat mampu membangun hubungan yang kuat antara kisah penulis, sehingga dapat dirasakan oleh pembaca, khususnya bagi khasanah perjalanan hidup yang penuh hikmah. Alasan inilah yang menyebabkan ketertarikan untuk menyelesaikan pembacaan cerita hingga selesai. Jika cerita mula saja sudah menarik, pembaca tentu berhasrat meneruskan bacaan untuk menjawab rasa penasarannya. Di Jembatan Merah ini, FAM Indonesia berhasil memainkan peran dengan sangat baik dalam menghipnotis khalayak ramai agar kembali merenungkan jejak-jejak penulis yang terangkum dalam antologi lomba cipta cerpen se-Indonesia karena menjadi salah satu kekuatan menghargai karya-karya penulis yang berpartisipasi dalam lomba tersebut. Antologi ini disajikan secara apik tanpa mengurangi esensi dari isi buku yang mengangkat kisah fiksi. Hingga saat ini, jembatan merah telah menjadi wadah meluangkan perjalanan-perjalanan itu yang juga merupakan representasi dari kondisi generasi muda bangsa ini yang sedang mencari jati diri.

Hal demikian menjelaskan mengapa karya-karya tersebut mampu mengakselerasi semangat berbagi pengalaman hidup. Kemampuan mengapresiasi minat dan bakat dalam mencurahkannya dalam bentuk cerita itu menjadi sebuah keharusan karena memiliki nilai historis tersendiri bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Pada mulanya, penerbitan buku ini diharapkan mampu membawa angin perubahan bagi modernisasi dunia literasi di Indonesia. Namun, tidak cukup hanya dengan bukti ini saja.

Harus diakui, hadirnya 36 penulis buku jembatan merah patut diapresiasi. Sebab, bukan hanya sekedar ikut-ikutan dalam dokumentasi karya, tetapi itu menjadi wujud nyata dalam menapaki petualangan menjadi penulis besar yang merangkul penulis di nusantara. Sebab, jika tidak diantologikan sebaik ini, niscaya perubahan itu mengalami hambatan dalam memacu adrenalin generasi muda masa kini mengukir prestasi di bidang yang ditekuni.

Proyeksi Jembatan Merah

Pertanyaannya, mengapa ruang lingkup penulis buku ini masih saja memayung dirinya dalam tempurung kaidah penulisan yang terseok-seok, sedangkan penulisan cerita pendek harus sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku? Bukan berarti tidak menguasai atau tidak tahu, melainkan harus mendalami lagi tata letak, ejaan, diksi dan editorial yang mendukung demi lahirnya tulisan yang santun dan taat kaidah penulisan.

Meskipun demikian, antologi ini dibuat di atas beberapa indikator. Pertama, pertalian semangat juang. Dalam hal ini, sikap kritis baik sesama penulis, pembaca dengan penulis juga harus terbangun secara natural dalam rangka memberikan sajian-sajian yang lebih baik tentunya. Kedua, membangun soliditas penulis Indonesia. Dengan karya ini, puluhan tahun kemudian, para penulis akan terus mengenang nama-nama dan karya yang termaktub di dalamnya. Meski jumlah mereka hanya 36 orang, mereka relatif solid. Di sini tersirat betapa dekatnya hubungan antara penulis-penulis Indonesia yang dinaungi FAM indonesia. Ketiga, mengontrol seluruh perkembangan karya generasi muda dalam bidang literasi. Sejak penerbitan buku perdana hingga jembatan merah ini, lalu bersambung ke buku-buku berikutnya, buku ini telah menerapkan unsur kepaduan yang memberikan stimulus kepada penikmat kenangan masa kini dan masa yang akan datang dalam hal perjuangan hidup. Keempat, mengendalikan tingkat kepedulian anak-anak negeri dalam meningkatkan rasa penasaran dalam mengatasi setiap persoalan hidup. Cerita-cerita jembatan merah ini juga tidak terlepas dari hal demikian. Kemauan belajar, menuntut ilmu sampai puncak kejayaan, bahkan tidak sedikit yang berguguran dalam mengibarkan bendera perjuangan. Satu hal yang perlu juga diketahui, tidak sedikit pula manusia-manusia yang berhasil mengukir jejak-jejak makna dalam hidupnya.

Sejak peluncuran buku ini, kekuatan membaca dan menulis semakin dilatih oleh konsumen buku. Apalagi penggemar karya fiksi, mereka semakin tertantang untuk membuat tandingan-tandingan serupa karya 36 penulis itu. Pasalnya, setiap orang berkeinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik dari orang lain, termasuk tulisan-tulisannya. Namun, sebagaimana ditulis oleh penggagas buku ini, “Harapannya dari cerpen-cerpen bertema perjuangan yang tersusun dalam Buku Antologi Cerpen “Jembatan Merah” itu dapat memotivasi hidupnya kembali ruh perjuangan yang semakin lama semakin layu oleh materialisme dan instanisme serta sikap mudah putus asa.” Memang tidak mudah membangkitkan motivasi bahkan realitas kehidupan masa kini yang erat dengan hiruk pikuk hedonisme dan jiwa pemalas terus mendekap setiap jiwa-jiwa anak negeri. Namun, hadirnya buku ini telah berusaha membuktikan bahwa masih ada pejuang-pejuang pena, muda, mau bangkit dan mampu berkarya bagi nusa dan bangsa. Sementara keputusan terakhir terletak pada seluruh pemuda Indonesia yang mencari semangat juang yang telah lama hilang, melainkan hanya dapat dirubah dengan tangannya sendiri. Apalagi Allah telah berfirman dalam Q.S. Ar-ra'd ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.”

Peresensi:
DODI SAPUTRA
Padang-Sumatera Barat
Email: dodimujahid@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...