Skip to main content

Jelang Pengumuman Lomba Menulis Surat Terbuka, Cipta Cerpen dan Puisi untuk Milad Sekjen FAM Indonesia

Bulan Juni tahun ini, sungguh memiliki kesan yang tidak akan terlupa. Akan terekam dalam catatan sejarah hidupku bahwa pernah ada bulan Juni di tahun ini dengan bertabur kebahagiaan. Satu hal yang membuat kebahagiaan itu meluap bak air bah, adalah kehadiran sahabat FAM semua. Terutama kado spesial untuk miladnya, berupa kumpulan karya yang menarik hati.

Kado berupa tulisan, baik itu cerpen, puisi atau surat terbuka akan awet untuk dikenang. Kapanpun bisa dibaca ulang, diresapi, dan dijadikan teman dikala sepi. Sekaligus menjadi obat. Obat penyakit rindu pada semua sahabat FAM yang tersebar di seluruh daerah. Obat pelipur lara yang mampu menciptakan senyum di bibir, mata berbinar dan hati bahagia tak terkira.

Bagaimana saya tidak selalu tersenyum? Semua tulisan untuk lomba milad itu sangat mengena di hati. Menggelitik, menimbulkan haru dan kagum. Ada kelucuan juga, hingga membuat saya harus terbahak sendiri saat membacanya. Ada pula satu pengirim tulisan bersambung. Episode satu sudah di posting dan menyisakan ending yang menggantung. Katanya masih bersambung. Oh, itu artinya akan ada lanjutan dari cerita itu di kemudian hari. Baiklah, saya menunggu lanjutannya. Hari terus berputar, hingga sampailah pada penghujung bulan ini. Mana lanjutan cerita bersambung itu? Saya aduk-aduk semua tulisan untuk milad. Tapi cerbung itu tak ada lagi. Itulah yang membuat saya tersenyum. Tak apa, mungkin penulisnya lupa dan sedang sibuk. Bagaimanapun saya menghargai cerita di episode awal. Itu sudah luar biasa mendapat kado milad dari seseorang yang belum tahu saya dengan jelas. Karena membuat tersenyum itulah, saya merasa lebih sehat dari sebelumnya.

Sejenak, saya merasa ‘berumah di atas awan’. Tulisan sahabat FAM semua, telah mampu melesatkan diri saya hingga seolah terbang di angkasa. Hampir saja lupa menjejakkan kaki ke bumi. Jika tak segera mengusap muka ini dan bersandar kembali di tempat semula.

Di bulan Juni ini, tiba-tiba saya menjelma menjadi permaisuri, rembulan, pelangi, bintang, malam, kunang-kunang, peri bunga, biduan dan lain-lain. Semua yang indah-indah, semua yang bersinar seolah ada dalam genggaman. Dahsyat! Satu sosok manusia dalam sekejap bisa menjelma menjadi siapa saja dan menjadi apasaja. Semua itu adalah hasil kreatifitas tulisan sahabat FAM semua. Saya berada di singgasana, disulap menjadi sedemikian indah. Terharu atas perhatian yang demikian besar. Saya tidak menyangka, di usia FAM yang masih sangat muda ini telah banyak mendapat respon positif dari para anggotanya.

Sekaligus saya malu, tersipu dan menilik diri lebih detail. Benarkah semua predikat itu layak disandang? Saya yakin, sesungguhnya yang menjadikan indah itu bukan diri saya tetapi pesona keindahan itu ada pada penilaian tulus yang keluar dari hati jiwa-jiwa yang ikhlas. Karena penilaian yang tulus ikhlas itulah yang akhirnya membuat saya terbawa indah. Disini saya patut bersyukur, semua penilaian yang diberikan sahabat FAM itu positif. Jikapun ada penilaian yang saya anggap berlebih, saya pandang itu sebagai doa dari sang penulis untuk kebaikan diri saya. Bagaimanapun tak ada yang sempurna. Kelebihan yang dimiliki pasti bersanding dengan kekurangan yang dimiliki. Keduanya akan selalu bersanding manis dalam diri seseorang. Termasuk pada diri saya. Namun, karena kekurangan itu pula yang kemudian menumbuhkan semangat belajar dan terus belajar. Saya yakin kekurangan itu bukan aib, tetapi sebuah pesona yang mendorong untuk terus belajar.

Lomba milad ini juga seolah menjadi stimulant untuk menciptakan berbagai kreatifitas tulisan. Minimnya serba-serbi sekjen FAM yang bukan orang terkenal, membuat sahabat FAM harus kesulitan mencari tulisan yang berkaitan dengan serba-serbi itu. Blog pribadipun tak ada. Hingga ada yang bertanya, “Mbak, saya harus mencari kemana tentang serba-serbinya?” Saya jadi tertawa membacanya. “Kemana ya?” Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Namun dengan minimnya informasi serba-serbi sekjen FAM, tidak menyurutkan semangat sahabat FAM semua untuk berpartisipasi dalam lomba ini. Dan berlomba-lomba memberikan yang terbaik. Akhirnya, data diri, foto, dan status di facebook sayalah yang rame-rame dibongkar. Seru! Jadilah beraneka macam tulisan dengan berbagai macam sudut pandang. Ada yang kreatif merangkum status harian saya dari beberapa bulan lalu hingga yang diposting bulan Juni ini. Ada yang berkutat membahas foto. Ada yang mendudukkan saya sebagai pembakar semangat. Ada yang menyoroti secuil kisah di foto dinding. Ada yang ‘membongkar ‘bio saya. Ada yang menaruh kerinduan dan lain sebagainya. Semua menarik, tak ada yang jelek.

Dari membaca tulisan sahabat FAM semua itulah, saya berani berujar – mohon maaf jika ada yang tidak sepakat—bahwa hasil karya setiap orang itu tidak ada yang jelek. Yang ada adalah sedikit kekurangan dan itu wajar. Lagi-lagi tak ada yang sempurna. Jangankan tulisan para penulis pemula, hasil tulisan seorang pakar saja tidak lantas membuat semua orang memberikan acungan jempol. Selalu ada saja yang menilai dari segi kekurangannya. Itu artinya, tak ada patokan yang jelas soal baik buruknya sebuah karya tulis. Oleh karena itu FAM lebih menekankan kepada berdakwah bil qolam, maksudnya tidak melulu belajar menulis tanpa cacat, cela dari rambu-rambu teori namun kosong makna. Justru, cara pandang dalam menulis itu penting. Harus ada tekad untuk menyebar kebaikan dalam setiap tulisan yang kita torehkan. Sekecil apapun kebaikan itu, pasti bermakna.

Hasil tulisan setiap orang itu unik, tidak ada yang sama persis. Semua orang menulis berdasarkan cara pandangnya masing-masing. Menuangkan ide sesuai cara pandangnya. Hati dan pikiran tiap orangpun tidak ada yang sama persis, meski terlahir kembar sekalipun. Itulah sebabnya selalu ada keunikan dalam tulisan setiap orang. Saya menikmati keunikan itu, dan keunikan itu melekat pada diri masing-masing yang sulit ditiru oleh yang lainnya. Kalaupun toh ada yang meniru, namun hasilnya tidak akan sama persis. Pasti ada yang berbeda.

Bulan Juni ini pula, ada seorang laki-laki memberi kado milad berupa tiket perjalanan ke Dubai. Dubai? Saya baru mendengar namanya saja. Katanya, untuk sekedar dinner disana. Wah, jauh sekali. Untuk dinner satu piring saja harus mendadak pergi ke Dubai. Biaya perjalanan itu, pasti lebih mahal dari biaya dinner bersama. Saya tidak mau bertanya lebih jauh, ada apa di balik dinner? Yang pasti kado itu saya tolak baik-baik. Saya lebih senang ‘dinner’ dengan tulisan sahabat FAM semua. Tiket pesawat itu ada batas berlakunya. Tidak pada jadwalnya, tidak akan bisa dipakai. Itu artinya, setelah habis masa berlaku tiket yang harganya mahal itu tak ubahnya selembar kertas yang siap dimasukkan ke tong sampah. Lalu dinnerpun demikian, setelah makanan itu habis. Sudah selesai, tak ada yang dikenang. Tapi tulisan tanpa masa berlaku( kecuali yang sifatnya temporal), gaungnya bisa menembus hingga ratusan tahun kemudian. Inilah salahsatu kado terindah buat saya.

Saya yakin sahabat FAM yang ikut berpartisipasi dalam lomba ini, yang utama bukan karena tertarik hadiahnya. Itu terbukti ketika ada beberapa yang mengusulkan, agar hadiahnya bukan buku atau buku tapi dalam jumlah yang banyak. Namun, usulan itupun bukan dari sahabat FAM yang ikut berpartisipasi dalam lomba milad ini. Yang mengikuti lomba milad ini, rata-rata mengatakan bukan berambisi untuk menang (kalaupun menang, Alhamdulilah katanya), tapi lebih kepada ingin berbuat yang terbaik pada momen yang baik. Caranya dengan mempersembahkan karya terbaik masing-masing. Merekalah orang-orang yang cepat menangkap peluang.

Oleh karena itu, saya merasa bangga dan terharu atas waktu yang mereka luangkan untuk menulis karya khusus dalam lomba milad ini. Jika mereka bisa berbuat baik dan menyematkan sejumput kebahagiaan di hati saya. Maka sayapun bertekad untuk membalas yang lebih baik. Meskipun tak ada benda dan penghargaan yang sepadan untuk membalasnya. Saya ingat sebuah ayat dalam surat An-Naml ayat 89:”Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya…”

Awalnya, lomba milad ini memilih 1. Cerpen terbaik dengan hadiah satu eksemplar novel RKS 2. Puisi terbaik dengan hadiah satu eksemplar buku kumcer Fesbuk 3. Surat terbuka terbaik dengan hadiah satu eksemplar buku kumcer Fesbuk 4. Tiga surat terbuka terbaik mendapat peluang diterbitkan dalam buku sekjen FAM. Namun, setelah melihat respon di luar yang saya duga dalam lomba milad ini. Akhirnya, saya memiliki hadiah tambahan berupa ‘surprise’ untuk semua yang ikut berpartisipasi dalam lomba milad ini. Dan keinginan untuk memberikan hadiah tambahan itu, diamini oleh Ketum FAM Muhammad Subhan. Yang akhirnya, menjadi tekad bersama untuk memberikannya pada pengumuman pemenang lomba milad nanti.

Saya mengucapkan banyak terimakasih pada semua sahabat FAM yang telah ikut berpartisipasi dalam lomba milad ini. Semua tulisannya menarik. Namun demikian, dalam ajang lomba tetap harus memilih pemenangnya. Siapapun yang menjadi pemenangnya, semoga akan semakin menumbuhkan semangat berkarya untuk menjadi lebih baik lagi.

Salam Aishiteru!

ALIYA NURLELA
Sekjen FAM Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...