Seperti biasa, di dinding grup “Forum Aishiteru Menulis” FAM
mengajukan pertanyaan seputar motivasi tulis menulis. Kali ini pertanyaan
adalah:
“Kapan pertama kalinya kamu mulai menyukai tulis menulis dan
menghasilkan karya tulis? Perubahan apa yang terjadi dengan sangat drastis pada
dirimu ketika ide atau gagasan yang selama ini mengendap dalam benakmu
dituangkan menjadi sebuah tulisan? Menulis, adakah sebuah keterpaksaan atau
memang sudah keharusan yang kamu butuhkan setiap hari layaknya makan dan minum?”
Maka, dari pertanyaan itu, dikumpulkanlah sejumlah jawaban
dari anggota FAM maupun anggota grup “Forum Aishiteru Menulis”, sebagai
berikut:
Saat SMP. Waktu belajar Bahasa Indonesia, disuruh nulis puisi, terus disuruh pula bacain di depan kelas... Kata Ibunya, puisi saya yang paling asik... mantap. Sejak saat itu, rajin-rajinlah saya nulis puisi. (BEFALDO ANGGA)
Saya mulai menyukai tulis menulis ketika kelas 3 SMP, usai
membaca sebuah novel "Bayangan Bidadari" karya Bunda Nurul F. Huda
yang hingga sekarang menginspirasi saya. Namun saya berhenti menulis. Mulai
menulis lagi setelah menemukan novel Bunda Nurul F. Huda "Hingga Detak Jantungku
Berhenti". Dan saya menulis hingga sekarang, terlebih setelah bertemu FAM.
Jazakallah FAM Indonesia. (ANGGI)
Hampir sama dengan Mas Angga, hanya saja saya mulai SMA,
saat guru bahasa Indonesia saya menunjukkan karya-karyanya yang banyak dipublish
di media cetak. Saat itulah niat untuk menulis muncul. Namun seiring berjalannya
waktu, dikarenakan minat dan motivasi yang kurang, niat itupun terhambat. Baru
sekarang, muncul kembali saat melihat karya-karya anggota FAM yang luar biasa. (ARIF
HIFZUL)
Sejak aku mengenal sosok penulis terkenal Indonesia, yaitu Pak
Saiful Anam Assyaibani. Beliau adalah guru Bahasa Indonesiaku ketika SMA. Banyak
karyanya yang telah mendunia di negeri ini, berkali-kali beliau memenangkan
kompetisi menulis. Pengajarannya ketika di kelas begitu menarik, beliau selalu
bersastra ria waktu mengajar, puisinya menusuk kalbu, dan mulai itu saya tertarik
pada dunia tulis-menulis meski sampai saat ini karyaku selalu ditolak media. Semoga
aku bisa seperti beliau, berdakwah bil qolam seperti FAM kini, amiin. (FHAUZAN
TEN BROTHER’S)
Saat kakak memenangkan lomba puisi se Palembang, dan saat ia
menggoreskan pena itulah aku mulai mengenalnya. (HENDRA STYAWAN)
Saya sudah menulis sejak duduk di bangku SD, ya meski itu
hanya sekedar diary. Tapi saya baru menyadari hobi ini ketika duduk di kelas X
SMA. Saat itu saya baru serius menulis. Meski sebelumnya sudah sering menulis, tapi
setelah mendalami dunia kepenulisan, ternyata ilmu saya tidak apa-apanya. Dari
situ saya mulai belajar, saya ingin menjadi penulis karena menulis itu
menyenangkan. Beberapa lomba juga pernah saya ikuti, meski akhirnya saya gagal.
Tapi dari setiap kegagalan yang saya alami, ada hikmah yang membuat tulisan menjadi
layak. Saya pun bersyukur, karena dari menulis banyak hal yang saya dapatkan. (DUE
WEE)
Aku mulai menulis saat menyukai seorang gadis teman
sekelasku yang pintar dan rajin beribadah. Waktu itu aku duduk di kelas
sebelas. Aku yang sejatinya bukan seorang yang puitis--bahkan menulis satu bait
puisi saja sulitnya minta ampun--tiba-tiba mendapat kemampuan menulis secara
misterius. Sering aku menghabiskan berjam-jam lamanya di depan kertas
kosong--mencoba membuat puisi. Karena terlalu banyak ide tapi penyampaian lewat
pena yang mati rasa--membuatku tidur di atas kertas yang belum kusentuh! Kini,
hanya dengan membayangkan suara gadis itu mengaji, caranya menjawab soal
matematika, atau sekadar membayangkan dia tersenyum saja--puluhan bait puisi
mampu kuhasilkan, tanpa harus berpikir. Aneh bukan? (KEN HANGGARA)
Sejak SMP tepatnya kelas 2. Sejak SD jika pelajaran/ujian
mengarang nilai saya selalu bagus. Tapi ketika berhadapan dengan guru bahasa
Indonesia yang bernama Sujikan nilai ulangan saya tidak bisa lebih dari angka
5. Saat itulah saya mulai bertanya-tanya ''kok bisa begini?'' Akhirnya saya
dekati guru itu. Dengan kesabarannya saya ditunjukkan kesalahan-kesalahan yang
saya lakukan. Setelah melakukan pembenahan kemudian saya diberikan tantangan
untuk mengurus mading. Sejak saat itu saya mulai menyukai tulis menulis. (AYUNDA
PRAMEISWARI)
Sejak SD kelas 3 saya adalah pengunjung setia Perpustakaan hingga
SMA sekarang, tapi baru suka tulis menulis dari SMP kelas 2 dan itupun malas-malasan,
lebih suka baca daripada nulis. Tapi kelas 3 SMP menulis menjadi sebuah
kebutuhan baik tempat curhat, dll. (FATIMAH ZAHRA ALMADIHI)
Mulai menulis sekitar Ramadhan tahun lalu, tepatnya setelah
program jaulah Ramadhan di Garut (semisal KKN). Cerpen pertama sebagai rasa
rindu yang sangat pada adik-adik di Garut yang brjumlah 60 orang (maklum saya
bungsu, jd senang kalau punya adik-adik baru). Aktif dan mulai menggarap novel
sekitar 6 bulan yang lalu, ketika berpisah dengan adik-adik santri di Pesantren
kota Bandung. Gak terpaksa, malah kecanduan. Merekalah INSPIRASIKU dalam menulis.
Dengan menulis rinduku terobati. (YASIN ABIRU SABIL)
Saya mulai menyukai dunia menulis ketika membaca biografi Mbak
Asma Nadia kelas V SD. Saya kagum dengan ketegaran dan semangat beliau. Disaat
beliau sakit dan harus meninggalkan bangku kuliah, beliau tetap semangat untuk mengukir
prestasi lewat tulisan. Beliau adalah inspirasi hidup saya. Saya berharap saya
juga bisa mengikuti jejak beliau. Tulisan pertama saya dimuat di media massa
ketika saya duduk di bangku kelas X SMA. Sejak saat itu saya semakin optimis
untuk mengasah kemampuan saya di bidang menulis. Meskipun tubuh saya ini lemah
(karena suatu penyakit), saya tidak akan menyerahkan mimpi saya dibunuh oleh (vonis)
seorang Dokter. Saya ingin menjemput mimpi saya (sebagai Novelis), sebelum saya
menghadapi eksekusi diri saya. Saya yakin, bila saya semangat dan ikhlas
menghadapi semuanya, saya pasti bisa menggenggam impian saya di atas puncak
Gunung FUJI. (MAWAR ROVITA SARI)
Hmmm.... Semuanya pada suka menulis sedari dini yah...
mungkin neh aku yang paling telat. Aku baru suka menulis Bulan Juli tahun ini.
Alasannya simple, aku merapikan buku di ruang bukuku dan ketemu buku-bukuku 6
tahun lalu. Semuanya aku jilid dengan hard cover dan bertulis, "Idza
arodta an tukholida, faf'al syaian yastahiqqu an yuktab. Au uktub syaian
yastahiqqu an yuqra”, kata itulah yang membuatku mengharuskan diri untuk
menulis. (ANDALUSIA CORDOBA)
Kapan menulis? Aku mulai tertarik menulis setelah aku ditunjuk
menggantikan teman di kelas bahasa mewakili Kabupaten Boyolali untuk ikut
berpartisipasi dalam lomba cipta puisi di ajang Pospeda Jateng, dan aktor di
balik penunjukan serampangan itu adalah guru sejarahku. Guru yang satu ini pula
yang selalu meminjami koran tiap minggu agar aku bisa mengikuti perkembangan
puisi tiap pekannya di koran lokal. (WARNO ADI SUSILO)
Sejak kelas 3 SD. Ada lomba puisi di pengajian. Puisinya
bebas religi, tapi puisi yang dikasih panitia panjang-panjang, susah hafalnya karena
waktunya mepet. Jadi, kubuat puisi sendiri, hanya dua bait. Dan, aku menang
melawan anak SMP, bangganya berdiri diantara mereka yang besar, hehe. Semenjak
itu aku suka menulis puisi di buku-buku pelajaran, semua buku ada puisinya. Di
MTs, guru bahasa Indonesiaku Pak Edison melihat potensi itu. Beliau membimbing dengan
serius dan mempercayaiku menjadi redaktur mading. Redaktur paling lama, sampai
5 tahun! Karena aku tidak lulus Aliyah negeri aku melanjutkan di perguruan yang
sama. Jadi sampai Aliyah aku redakturnya. Tulisan mulai di ekspos? Kelas 2 Aliyah,
dimuat di beberapa harian lokal. Nama penaku dulu Rara, mengapa? Hahay... supaya
keren, singkatan dari Rahimah Ramli. Setelah berumah tangga tulisanku mati
suri, menulis untuk diri sendiri, mengendap. Life begin at forty, aku rasakan
itu. Entah mengapa, I am back write, bahkan lebih gila dari yang dulu. (RAHIMAD
IB)
Mulai menulis sejak SD tapi kurang digeluti, dan
ketertarikan untuk menulis itu datang lagi setelah saya kuliah. Saat menemukan komunitas
kepenulisan di kampus, ada beberapa orang yang memberi semangat dan dorongan
untuk menulis, mengajarkan saya, berbagi pengalaman, memberi email (media). Gairah
saya untuk menulis semakin meningkat! Saya menulis dan terus menulis, kadang
menulis juga butuh paksaan semisal tugas kuliah yang diberi dosen (Mata Kuliah
Menulis) mewajibkan menulis bebas (free writing setiap harinya) nah dengan
tugas itu, mau tidak mau ya saya harus menulis. Mengikuti lomba cipta puisi
yang ada di dunia nyata dan dunia maya juga, pernah menang pula dengan hadiah
pulsa, setelah itu menggilai media cetak alhasil beberapa kali puisi saya telah
terbit di harian budaya lokal (Waspada Sumut), lain lagi mengikuti event
tulis-menulis via online. Beberapa naskah juga pernah lolos dan alhamdulillah
saya akan segera memiliki buku.. Menulis bagi saya sudah seperti makanan
sehari-hari (walau kadang malas itu datang juga). (KEEP SMILE AZIZAH)
Saya mulai tertarik menulis sejak SMA, tapi baru sebatas
corat-coret di diary. Kemudian saat kuliah punya sahabat yang gemar menulis
juga, minat menulis itu kembali memikatku, kami rajin mengirm tulisan di
buletin dakwah kampus dan media Islam lainnya. Kesibukan setelah menikah dan
berumah tangga kemudian membuat saya vakum, baru beberapa tahun ini, kembali
sudah punya waktu senggang yang agak banyak ditambah dengan adanya fasilitas
internet, rasanya semakin mudah jalannya. Terima Kasih untuk “Aishiteru Menulis”,
di wadah ini saya mencoba kembali mengasah kemampuan menulis saya.
ALHAMDULILLAH, SEMUA JAWABAN YANG DIBERIKAN ANGGOTA FAM
MAUPUN ANGGOTA GRUP INI SANGAT BERMANFAAT. AYO, PETIK SEMANGAT MENULIS YANG
MEREKA TEBARKAN.
Salam Aishiteru!
FAM INDONESIA
Sumber: www.famindonesia.blogspot.com
Comments
Post a Comment