[Karya Anggota FAM Medan, ID-FAM625U]
Dara bersahabat dengan Aliya. Suatu hari, kunjungan Dara ke
rumah Aliya yang berada di tepi laut mempertemukannya dengan seorang pemuda bernama
Bayu. Bayu seorang pemuda sederhana dan guru SD dengan latar belakang ekonomi
yang berbeda. Dara dan Bayu saling mencintai, namun harus menjalani hubungan
jarak jauh karena Dara harus melanjutkan kuliahnya di Medan.
Kesibukan kuliah membuat Dara jarang ‘menjumpai’ Bayu. Meski
jauh dan banyak godaan, Dara selalu berusaha untuk setia. Tapi pada kenyatannya
Dara sangat kecewa ketika Bayu memutuskan menikah dengan perempuan lain yang hanya
tamatan SMA. Alasan Bayu menikah dengan perempuan itu karena antara mereka (Bayu
dan Dara) tidak sederajat.
Cerpen “Impian terlarang”, adalah cerpen yang umum. Ide
cerita biasa saja, dalam cerpen ini tidak ada sesuatu yang istimewa. Penggunaan
EYD juga perlu diperhatikan, seperti penulisan ‘karna’ yang seharusnya
‘karena’. Kekecewaan, kesedihan Dara yang ditinggal kekasih semua ditumpahkan
kepada Tuhan. Hendaknya, bisa diambil sisi positif dari kesedihan dan kekecewaan
sehingga cerpen ini dapat menjadi suatu pembelajaran dan tidak menyalahkan
Tuhan.
Seperti yang ditulis oleh penulis pada penutup cerita, ‘Apakah
peraturan sederajat dengan pasangan itu hukum mutlak dari Tuhan? Kalau iya,
kenapa dulu Tuhan memberiku kesempatan untuk bermimpi dengannya?’ Pertanyaan-pertanyaan
itu semakin membuat hatiku tersayat apalagi pertanyaan itu cuma bisa dijawab
oleh butiran air mata…”
Bagi penulis, hendaknya kreatif mencari ide cerita, dan
perhatikan EYD. Jika ingin mengirim ke media, jangan lupa membaca ulang naskah
dan mengeditnya. Selebihnya, penulis cerpen ini, sangat berbakat menulis,
karena mampu mendeskripsikan pemandangan laut dengan baik. Hanya saja, untuk
menghasilkan tulisan yang baik harus sering berlatih, jangan menyerah dan
teruslah menulis. Menulis tidak mengenal teori, tapi butuh proses praktik yang
panjang. Jadi, jangan menyerah dan teruslah berkarya.
Salam aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
[NASKAH ASLI CERPEN “IMPIAN YANG TERLARANG” DIPOSTING TANPA
EDITAN FAM INDONESIA]
Impian Yang Terlarang
Oleh Syarifah Nurhafzhiyah eL_Hasby (Syakira eL_Hasby)
IDFAM625U Anggota FAM Medan
Aku dan Aliya bersahabat sejak 3 tahun yang lalu, walaupun kami bersahabat tapi aku tidak
pernah menginap di rumahnya karna orang tuaku sangat tidak membiasakan
anak-anaknya untuk bertandang di rumah
orang lain kecuali dengan momen tertentu. Suatu hari Aliya meminta izin pada
orang tuaku untuk mengajakku menginap di rumahnya karna saat itu adalah
saat-saat terakhir kebersamaan kami,
sebentar lagi kami akan tamat sekolah dan tentunya akan berpisah untuk mengejar
impian masing-masing. Aku akan kuliah ke luar kota tapi Aliya akan tetap
mengabdi pada orang tua karna keterbatasan financial keluarganya.
Aku sangat senang berada di rumah Aliya karna rumahnya dekat
dengan laut yang luar biasa luas dan indah. Sore itu aku di ajak Aliya untuk
menikmati matahari terbenam, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan!! Di
kejauhan terlihat laut dan langit seakan menyatu dengan warna yang membuat mata
dan hati tergoda dan matahari pun ikut serta menciptakan keindahan pemandangan
itu. Warna matahari yang semakin menyala bak
rombongan emas yang memancarkan kilauannya seakan mengatakan kepada alam
bahwa dia jauh lebih indah dari makhluk yang ada dan perlahan demi perlahan
sang matahari pun pamitan untuk istirahat di istananya tapi aku tetap tidak beranjak, mataku masih
belum rela untuk meninggalkan pertunjukkan spektakuler itu.
“Kok masih disini? udah mau maghrib lho!” Suara laki-laki
itu membuyarkan kenikmatanku
“Eh bang Bayu, iya nih temannya Aliya masih terhipnotis
dengan keindahan laut kita, maklum bang orang gunung” ujar Aliya sambil melirik
kepadaku.
“Apaan sih??” jawabku malu
“Oya kenalin, ini Dara sahabatnya Aliya dari kampung
sebelah” Aliya memperkenalkanku dengan laki-laki itu. Selang beberapa saat
setelah acara perkenalan itu, kami pun pulang ke rumah karna waktu maghrib
sudah memanggil.
***
Laki-laki itu bernama Bayu, salah seorang pemuda di kampung
Aliya yang berprofesi sebagai guru SD. Sosoknya sangat sederhana dan latar
belakang keluarganya pun tergolong keluarga yang biasa tapi menurutku dia
sangat menarik, baik, pintar dan dewasa.
Usia kami terpaut jarak 5 tahun
dan sejak perkenalan itu aku dan dia menjadi semakin dekat, tentunya dengan
pertolongan Aliya. Walaupun kami jarang ketemu tapi komunikasi selalu kami
jaga, baik lewat telpon ataupun sms hingga akhirnya kami berstatus sebagai
sepasang kekasih.
***
Hari begitu cerah apalagi suasana di tepi laut, panasnya
sungguh sangat menyengat tapi tetap saja suatu kondisi yang harus di nikmati.
Siang itu aku dan bang Bayu janjian ketemu di sebuah café laut, tepatnya café
yang berada di atas laut yang hanya bertopangkan pohon-pohon kelapa dan
kayu-kayu pilihan yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan manusia-manusia
yang singgah di atasnya. Pemandangan di hadapanku sungguh sangat indah,
gelombang yang saling berkejar-kejaran
tanpa merasa lelah dan bosan sedikitpun dan lambaian pohon kelapa seolah ingin
ikut berlari dengan gelombang-gelombang laut.
“Bang, aku akan merantau ke Medan tuk melanjutkan
pendidikanku. Aku minta doa ya semoga perjalananku lancar dan di terima kuliah
disana” ucapku memecah keheningan yang sedang berlangsung di antara kami. Lalu
dia pun tersenyum dan berkata:
“Ya, abang akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan
satu hal yang harus kamu ingat bahwa jodoh bukan di tangan kita melainkan hak DIA” sambil menunjukkan telunjuknya ke atas, dan tiba-tiba dia
terdiam lalu seperti berbisik dia
mengatakan “abang akan selalu menerimamu apa adanya” sambil menatapku tajam
seolah menyiratkan kesedihan karna akan berpisah dan aku pun hanya mampu
mengangguk sebagai isyarat bahwa aku
juga merasakan kesedihan yang sama.
***
Hari-hari terus berlalu dan senantiasa setia menemaniku
melewati kesibukan demi kesibukan
sebagai seorang mahasiswa. Semakin hari prestasiku semakin membaik dan
kesibukanku pun terus bertambah hingga waktu tuk ‘menjumpai’ bang Bayu jadi
terbatas tapi aku tetap berusaha menjumpainya
walaupun di sisa lelahku. Terkadang godaan pun sering datang
menghampiriku, tapi aku tetap buta dan memilih setia pada cinta bang Bayu.
Di saat penghujung kuliahku, tiba-tiba bang Bayu
memberitahuku suatu kabar yang sangat membunuhku. “Kita hanya mampu berencana tapi Tuhan-lah yang menentukan.
Dalam waktu dekat abang akan menikah, mohon doanya ya dan semoga kamu juga
sukses disana. Maafkan Abang”. Sms itu sungguh singkat tapi kata-kata itu
seakan membuatku lumpuh seketika bahkan
untuk memijak bumi pun aku merasa tak berdaya.
Sejak kedatangan kabar itu, aku merasa hidupku seakan tidak
bermakna dan aku terus mendebat-Nya atas takdir yang ku rasa sangat tidak adil
buatku. Kenyataan itu sungguh membuatku malu pada dunia, aku malu pada
keluargaku yang sudah terlanjur ku
janjikan untuk menghadiahkan mereka laki-laki baik yang sudah aku miliki, aku
malu karna sudah tak terhitung berapa
laki-laki yang sudah aku kecewakan karna tidak berhasil untuk mencuri hatiku.
Itu semua aku lakukan karna aku ingin setia padanya tapi ternyata pengerbonanku
itu tidak bernilai apa-apa.
“Apa salahku? Apa yang kurang denganku? Kenapa dia tidak
memilihku? Kenapa harus dengan perempuan itu yang Cuma tamatan SMA?? Kenapa
bukan aku???” pertanyaan itu terus mengusikku dan bahkan aku seperti mendengar
seisi kamarku pun menanyakan hal yang sama kepadaku hingga aku merasa sangat lelah dan hanyut
dengan pertanyaan yang tak mampu ku jawab.
***
“Dara terlalu sempurna untuk abang, dia cantik-
berpendidikan dan dari keluarga terpandang. Sangat tidak adil buatnya bila
harus bersanding dengan abang yang cuma orang biasa dan pendidikan pun hanya
tamatan D-2. Abang yakin suatu saat nanti akan datang laki-laki yang pantas
untuknya, tolong beri pengertian kepadanya
ya?” itulah kata-kata yang di ucapkan bang Bayu pada Aliya sahabatku yang sudah
menikah 2 tahun yang lalu dengan laki-laki yang tidak jauh berbeda latar
belakang keluarga dengannya.
Setelah mendengar keterangan dari Aliya, hatiku pun
bertanya ‘Apakah peraturan sederajat
dengan pasangan itu hukum mutlak dari Tuhan? Kalau iya, kenapa dulu Tuhan
memberiku kesempatan untuk bermimpi dengannya?’. Pertanyaan-pertanyaan itu
semakin membuatku hatiku tersayat apalagi pertanyaan itu cuma bisa di jawab
oleh butiran air mata…***
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment