Kemudian iqbal mengikuti pelajarannya mengaji Alquran dan
pendidikan Islam lainnya secara klasik di sebuah surau. Selanjutnya, Iqbal
dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College di Sialkot agar ia
mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan, teman ayahnya yang ahli bahasa
Persia dan Arab.
Muhammad Iqbal dikenal sebagai pemikir dan penyair hebat dan
pejuang kemerdekaan Pakistan bersama Muhammad Ali Jinnah. Dialah sang pelopor
pembentukan Negara bagi kaum muslim India yang akhirnya terwujud dalam Negara
Pakistan 10 tahun setelah beliau
wafat. Ia juga meninggalkan karya-karya besar seperti Javid Namah (Kitab Keabadian), sebagai buku sastra tersohor.
wafat. Ia juga meninggalkan karya-karya besar seperti Javid Namah (Kitab Keabadian), sebagai buku sastra tersohor.
Bakat menulisnya berkembang pesat di bawah bimbingan Maulwi
Mirr Hasan. Lulus dari Scotch Mission College di Sialkot, Iqbal pindah ke
Lahore masuk ke Kolese Pemerintah di Lahore dan mendapatkan guru Sir Thomas
Arnold (seorang pakar Islam dan Filsafat modern) dan tamat dengan predikat
cumlaude. Setelah mendapat gelar master dalam bidang filsafat, ia kemudian
menjadi korektor Bahasa Arab di Universitas Kolese Oriental Lahore dan juga
mengajar di Universitas tersebut. Ia kemudian melanjutkan studi tahun 1905 di
Lincoln`s Inn di London untuk menjadi pengacara. Setelah itu ia kembali belajar
di Universitas Cambridge pada jurusan Filsafat sambil mempersiapkan disertasi
Doktor untuk Universitas Munich Jerman. Disertasinya yang berjudul
“Perkembangan Metafisika di Persia” berhasil diselesaikan sehingga ia meraih
gelar Doktor Filsafat tahun 1907. Sekembalinya dari Eropa, ia kembali bergabung
di Kolese Pemerintah Lahore sebagai Profesor Filsafat dan Kesusasteraan
Inggris.
Ketenaran Iqbal juga merambah dalam dunia politik. Tahun
1908 ia masuk di Komite Inggris Liga Muslim se-India. Ia juga terpilih menjadi
anggota Majelis Legislatif Punjab dan menjadi salah satu pemikir politik.
Pidato kepresidenan Liga Muslim India tahun 1930 menjadi dasar konseptual bagi
pembentukan Negara Pakistan, walaupun ia tidak menyebutkan nama Pakistan secara
eksplisit. Sebagai seorang pemikir, ia sangat prihatin dengan keadaan kaum
muslim India sehingga ia mengajukan konsep pembentukan Negara bagi golongan
kaum muslim.
Karya-karya sastra yang membuatnya amat terkenal adalah
syair-syair yang ditulis dalam bahasa Persia dan Urdhu antara lain “Asrar-I
Khudi (Rahasia Diri), Payam-I Masyriq (Pesan dari Timur), Navid Namah (Kitab
Keabadian). Iqbal menderita sakit berkepanjangan antara tahun 1934-1938 dan
tanggal 21 April 1938 ia meninggal kemudian dimakamkan di Masjid Badshahi
Lahore.
Masa Kehidupan Muhammad Iqbal
Pada tahun 1895 ia ke Lahore, salah satu kota di India yang
menjadi pusat kebudayaan, pengetahuan, dan seni. i kota ini ia bergabung dengan
perhimpunan sastrawan yang sering diundang musya’arah, yakni
pertemuan-pertemuan di mana membacakan sajaknya.
Di kota Lahore ini, sambil melanjutkan pendidikan sarjananya
ia mengajar filsafat di government college. Pada tahun 1897 Iqbal memperoleh
B.A, kemudian ia mengambil program M.A. dalam bidang filsafat. Pada saat itulah
ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold—orientalis Inggris yang terkenal – yang
mengajarkan filsafat Islam di college tersebut. Antara keduanya terjalin
hubungan baik melebihi hubungan guru dengan murid, sebagai tertuang dalam
kumpulan sajaknya “bang-I dara”.
Dengan dorongan dan dukungan Arnold, Iqbal menjadi terkenal
sebagai salah seorang pengajar yang berbakat dan penyair Lahore. Sajak-sajaknya
banyak diminati orang. Pada tahun 1905, ia studi di Cambridge pada R.A
Nicholson, seorang spesialis sufisme, dan seorang neo-hegelian, yaitu John
M.E. Mc Taggart. Iqbal kemudian belajar
di Heidelberg dan munich. Di munich, ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908
dengan disertasi “The Development of Metaphysics in Persia”. Setelah mendapatkan
gelar doctor, ia kembali ke London untuk belajar dibidang keadvokatan sambil
mengajar bahasa dan kesusteraan Arab di London. Selama di Eropa, Iqbal tidak
jemu-jemu menemui para ilmuwan untuk mengadakan berbagai perbincangan tentang
persoalan-persoalan keilmuan dan kefilsafatan.
Saat-saat Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada
tahun 1935 isterinya meninggal dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan
membawa kesedihan yang berlarut-larut kepada Iqbal, akhirnya berbagai penyakit
menimpa dirinya sehingga fisiknya semakin lemah. Sungguhpun demikian, pikiran
dan semangat Iqbal tidak pernah mengenal lelah. Ia tidak henti-hentinya
mengubah sajak-sajak dan terus menuliskan pemikiran-pemikirannya, hingga akhir
hayat.
[sumber: http://biografi-biodata-profile.blogspot.com/2012/05/biografi-muhammad-iqbal.html]
Comments
Post a Comment