FAM Indonesia kembali memancing komentar anggotanya, baik
yang aktif maupun anggota grup dengan pertanyataan sebagai berikut:
“Kamu berbakat sekali menulis. Tapi ada kendala, kamu tidak
punya komputer/laptop untuk menuliskan ide-ide yang berkelebatan setiap saat.
Dengan menulis itu, kamu juga ingin mendapatkan uang. Kamu punya seorang ayah
atau ibu yang sedang sakit, butuh biaya pengobatan. Keterampilan satu-satunya
yang kamu miliki hanya menulis, dan dengan itu kamu berharap dapat membantu
kedua orang tua. Apa yang kamu lakukan menghadapi kendala itu? Berikan
pendapatmu.”
Apa jawaban mereka? Ini dia:
“Terus berkarya, tidak patah semangat, dan memanfaatkan
fasilitas yang ada.” (Kaoru Kasuga Nakajima)
“Bawa buku saku kemanapun pergi, ada inspirasi langsung
ditulis. Masalah laptop tidak usah bingung, sekarang banyak warnet. Tinggal kalau
kita ada perlu ya ke warnet saja langsung. (Fhauzan Ten Brother's)
“Aku kan coba mengirim karya-karyaku ke media manapun, asalkan
orangtuaku sehat, dan salah satu wadah itu adalah dirimu FAM Indonesia.” (Çî
Tïý Íbñü Ræbî')
“Kondisi memberi inspirasi. Terkadang dia menghimpit jiwa, tapi
ketika nalar, indera, dan rasa terikat maka dia akan berbuah karya. Maka, goreskan
terus pena, bahkan ketika menemani ibu yang lemah tak berdaya.” (Yasin Abiru
Sabil)
“Yang aku lakukan adalah menulis dan sebanyak mungkin mengirim
ide-ide saya ke wadah penulisan yang bisa dipercaya dengan niat yang baik, pasti
ada jalan.” (Melly Leena)
“Aku pernah mengalami hal tersebut. Aku mencoba untuk
menulis dengan hati, mengasah kepekaan hati dengan mengesampingkan ego. Jangan
berpikir tentang ‘materi’, menulislah karena niat Lillahi ta'ala. Jadikan
tulisan tersebut sebagai "jalan" dan usahanya adalah mengirimkan
karya tersebut ke media. Alhasil, tulisanku diterima oleh media tersebut dan
mendapatkan tawaran sebagai redaktur di media itu yang mengelola rubrik
motivasi dan kisah inspirasi. Itu mungkin adalah "buah" dari
keikhlasan. Masalah laptop? Aku numpang ngetik di tempat kerjaku. Ketika semua
mata terlelap, aku begadang dengan tulisan-tulisanku. Tak jarang aku lebih
memilih untuk menulis daripada tidur. Menulis tanpa Alasan dan Syarat. Menulis
dari Hati dan Lillahi ta'ala. (Mawar Rovita Sari)
“Membuat cerbung semenarik mungkin selama kita merawat orangtua
yang sedang sakit dengan ending cerita bagaimana orangtua kita bisa sehat
kembali. (Muhammad Reifendy)
“Itulah aku dulu. Karena kebutuhan, komputer bukanlah
segalanya. Tulis dengan pena, tulis... tulis... tulis! Never give up! Never! Selanjutnya,
tebalkan muka, pinjam komputer kawan (karena ke warnet butuh modal), kirim ke redaktur.
Ditolak? Jangan putus asa, kirim... kirim... kirim! Suatu saat karya kita
dimuat, karena kita belajar dari kesalahan dan melengkapi kekurangan. Redaktur
juga akan tahu mana penulis yang gigih dan mana yang cengeng. Ketika tulisan
telah dimuat sekali, jangan heran jika untuk selanjutnya, tulisanmu akan
merajai media itu! Itulah pengalamanku, apa pengalamanmu?” (Rahimah Ib)
“Aha. Sikon justru membuatku semakin semangat untuk menulis.
Karena dalam sikon begitu inspirasi dan ide datang dan mengalir dengan deras.
Jadi jangan pernah menyerah. Satu detik adalah satu kalimat. Jangan abaikan
itu. Tiap hembusan napas adalah amanah, maka jangan abaikan itu. Berkaryalah.
Manusia diluar sana menunggu karyamu. Semangat! Salam aishiteru.” (Nuh Rafi)
“Tulis dulu di kertas, kertasnya bawa kemanapun pergi setiap
kali ada kesempatan untuk ngetik, segera ketik karya tulisnya dan kirim ke
e-mail koran harian atau majalah. Misalnya pulang sekolah, ngeliat LAB Komputer
kosong, ijin dulu ke pengurus LAB'nya, kalau sudah dapat ijin segera ikut
ngetik deh, he-he. Ada kemauan pasti ada jalan, yang penting semangat.” (Trisna
Hadi)
“Sangat dekat dengan pengalaman pribadiku. Ide itu datang
semau-maunya. Kadang jika kita sedang santai, tak ada yang sedang kita
kerjakan, daripada waktu terbuang kita coba mencari-cari ide, tapi ide itu tak
mau menunjukkan batang hidungnya—meski dipaksa-paksa, diancam, bahkan disogok
es krim cokelat bertabur susu ternikmat sekalipun. Tapi jika kita sedang
mengerjakan sesuatu yang penting dan butuh konsentrasi tingkat tinggi—misal sedang
asyiknya bermain bola, mengendarai motor, bahkan saat mata mengantuk dan sudah
setengah tertidur, ide itu tiba-tiba muncul menampar pipi, mengagetkan, dan
jika tidak segera ditangkap, ia akan kabur secepat maling jemuran. Untuk
mengatasi itu, aku yang tidak punya laptop atau komputer di kamar kos, selalu
membawa handphone kemanapun aku pergi. Kutulis ide apapun yang berkelebat.
Sampai kurus badanku karena terlalu sering begadang. Setelah itu, barulah
ide-ide tadi diolah menjadi satu bahkan dua judul tulisan sekaligus. Hasil
tulisan itu bisa diketik di warnet, lalu dikirim ke media.” (Ken Hanggara)
“Pada dasarnya menulis memang tidak melulu untuk mencari
uang, ibadah melalui dakwah tulisan mungkin itu salah satu tujuan mulia dari
menulis. Tapi bukan berarti mengejar uang sebagai tujuan menulis merupakan hal
yang buruk atau tak pantas. Lihat dulu buat apa uang yang dikejar, kalau untuk
menafkahi keluarga sudah jelas itu berpahala, apalagi dalam kasus ini untuk
biaya pengobatan ayah atau ibu, niat yang mulia. Apapun manfaat yang kita beri
ke orang lain termasuk dakwah adalah sedekah, dan sedekah yang paling besar
pahalanya adalah sedekah pada kerabat keluarga yang membutuhkan. Jadikan itu sebagai
penyemangat untuk menyalurkan bakat hebat yang memang sudah dimiliki, soal
laptop atau komputer, bisa menulis dulu semua dengan tangan di kertas, lalu ke
warnet saja, sejam sekarang cuma Rp2 ribu. Kalau masih tetap tidak mampu cari
pinjaman ke teman. Insya Allah kalau ada niat dalam kebaikan, seribu jalan
dibukakan Tuhan.” (Nadia Regina Martanti)
“Karena tidak ada komputer jadi tulis segala ide di kertas.
Karena butuh uang untuk biaya penyembuhan orangtua jual karya-karya itu kepada
teman yang membutuhkan jasa menghadapi tugas bahasa Indonesia. (UdiKidu
Penyihir Nyasar)
“Berjalan kaki ke Perpustakaan Kota Surabaya demi
memindahkan kisah yang berceceran di A4 kedalam word telah kucoba, terik Surabaya
kala itu bukan penghalang bagiku, dan akhirnya untaian kisah kini telah
berwujud word dalam novelku, tapi belum terbit. (Yasin Abiru Sabil)
Sumber: www.famindonesia.blogspot.com
Comments
Post a Comment