Oleh Noor Salim Hs
[Anggota FAM Solo, ID FAM125U]
Cerpen berjudul “Jurang Kematian, Kisah Bani Israil dan
Ashabul Kahfi” ini bercerita tentang sekelompok orang yang mengalami kejadian
aneh saat mendaki gunung. Di tengah pendakian, tiba-tiba kabut putih datang
disusul dengan gempa. Saat semua sudah mulai normal, dua orang anggota
pendakian menghilang. Kawannya yang lain berusaha mencari namun tak membuahkan
hasil. Meskipun pencarian sudah dibantu tim SAR, hasilnya tetap nihil.
Keajaiban mulai terlihat saat anggota pendakian yang selamat
beserta tim SAR dan warga
melihat batu yang tiba-tiba perlahan bergerak. Di balik batu itu ternyata terdapat gua. Dari dalam, tiba-tiba muncul dua orang yang sejak tiga hari dilaporkan hilang. Kejadian yang dialami tokoh dalam cerpen hampir mirip kejadian 3 orang Bani Israil yang pernah terjebak dalam gua yang dikombinasikan kisah Ashabul Kahfi.
melihat batu yang tiba-tiba perlahan bergerak. Di balik batu itu ternyata terdapat gua. Dari dalam, tiba-tiba muncul dua orang yang sejak tiga hari dilaporkan hilang. Kejadian yang dialami tokoh dalam cerpen hampir mirip kejadian 3 orang Bani Israil yang pernah terjebak dalam gua yang dikombinasikan kisah Ashabul Kahfi.
Beberapa catatan dari FAM, penulis terlalu sering mengulang
kata ‘almarhum ayah’ dalam kalimat yang berdekatan pada bagian tengah cerita.
Hal ini membuat pembaca menjadi tidak nyaman dalam menikmati setiap kalimatnya.
Ada baiknya, penyebutan kata ‘almarhum ayah’ hanya di bagian awal saja,
selanjutnya diganti dengan ‘beliau’.
Judul yang digunakan memang cukup menarik, namun rasanya
terlalu panjang. Untuk ukuran cerpen, sebaiknya pembuatan judul singkat, ‘eye
catching’ dan membuat orang penasaran untuk mengetahui isinya.
Jangan membuat judul seperti artikel koran yang sudah bisa ditebak
isinya tanpa membaca seperti “Truk Menabrak Bis, 10 Penumpang Tewas”. Untuk
kasus cerpen ini mungkin cukup dengan judul “Jurang Kematian” atau judul lain
yang tidak lebih dari empat kata.
Dalam beberapa kasus memang judul panjang bisa menjadi
pilihan. Hal ini umumnya berlaku pada penulisan artikel. Akan tetapi, untuk
ukuran cerpen, secara umum judul yang singkat, padat dan mengundang penasaran
orang untuk membaca tentu lebih menarik
Penulis cukup pintar dalam menulis. Ini terlihat dari teknik
penulisan yang diawali dengan dialog. Teknik seperti ini bisa menjadi
alternatif pembuka yang baik di samping cara yang umum yaitu dengan menjabarkan
keadaan atau situasi.
Secara keseluruhan cerpen ini cukup bagus. FAM berharap
penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin meningkat.
Semangat Berkarya!
Salam Aishiteru
TIM FAM INDONESIA
[NASKAH ASLI YANG DIKIRIM PENULIS TANPA EDITING FAM
INDONESIA]
JURANG KEMATIAN, KISAH BANI ISRAIL, DAN ASHHABUL KAHFI
Oleh: Noor Salim Hs (FAM125U, anggota FAM Solo)
“Yudi... Yudi... kamu di mana? Didik... di mana kamu?”
teriakku serak. Suaraku hampir habis. Sejam lebih lamanya aku memanggil mereka
berdua, tapi jawaban sepatah kata pun tak kudengar. Air mataku menetes, aku
sebagai ketua pendakian kali ini tak tahu kedua anak buahku hilang entah ke
mana. Kini rombonganku berkurang dua orang. Aku merasa bersalah. Padahal
sebelum berangkat memulai pendakian tadi sudah aku briefing mereka berdua
bersama tiga teman lainnya ketika berbaris membentuk lingkaran kecil. “Apa pun
nanti yang terjadi pas kita di perjalanan, kita harus tetap dalam satu
rombongan. Jangan sampai terpisah. Kita harus tetap bersama! Paham?!!”
Sore tadi tak terlihat mendung sehingga kami pun bertekad
bulat untuk melakukan pendakian. Namun alam kadang memang tak bisa diprediksi.
Tiba-tiba saja saat tengah malam yang terasa dingin menusuk tulang, kabut tebal
putih datang menghadang perjalanan pendakian kami. Spontan kami terkejut.
Selama pendakian, baru kali ini kami jumpai peristiwa alam yang menakutkan.
Lampu badai yang kami gunakan sebagai penerang jalan langsung padam begitu saja
oleh hembusan angin kencang. “Tiarap! Semuanya diam di tempat. Perjalanan
sementara dihentikan dulu! Jangan sampai ada yang bergerak sendirian hingga
kabut ini benar-benar hilang!” teriakku kepada teman-teman yang pada waktu itu
sangat panik dan ketakutan.
Setelah lima belas menit berlalu, kabut tebal itu
berangsur-angsur menghilang. Aku terkejut, selang beberapa saat, gempa pun
datang mengguncang. Melihat tiga temanku yang tampak takut dan gelisah, aku
mencoba menenangkan keadaan, “Semuanya tetap tenang. Jangan takut! Berdzikirlah
kepada Allah!” Dengan berdzikir kepada-Nya, hati kami pun terasa tenang. Dan
alhamdulillah... akhirnya gempa pun berhenti. Namun, aku semakin terkejut
tatkala Yudi dan Didik tidak ada di sekitar kami.
“Di mana Yudi dan
Didik, Wan?” tanyaku pada Ridwan. Dialah yang tadi berjalan tepat di belakang
Didik.
“Aku juga nggak tahu, San. Kabut tadi tebel banget,
sampai-sampai aku tadi tidak dapat melihat Didik.”
Kutolehkan pandanganku ke wajah Andi dan Roni. Mereka berdua
menggelengkan kepala. Mereka berdua juga tidak tahu keberadaan Yudi dan Didik
sekarang. Menemukan mereka berdua, itulah yang ada di kepalaku saat itu.
“Kita harus segera cari mereka berdua! Sepertinya hari ini
bukan waktu yang tepat untuk mendaki. Alam tidak mendukung. Kita batalkan
pendakian kali ini. Kita harus segera menemukan mereka berdua dan turun dari
gunung ini secepat mungkin.”
Kami pun mencari Yudi dan Didik. Hampir seluruh tempat di
sekitar kami berada saat itu kami telusuri. Teriakan-teriakan sudah kami
lantangkan dengan kerasnya. Tapi, kami belum juga menemukan mereka. Satu jam
lebih lamanya kami mencari, sedikit pun jejak mereka tidak berhasil kami temui.
Dengan terpaksa kami tinggalkan mereka berdua di tengah gunung itu karena suara
ribut angin semakin keras dan kencang. Kami pun turun untuk meminta bantuan
dengan segera.
Aku turun sendiri hingga berada kira-kira enam kilo meter
dari basecamp pendakian untuk mendapatkan sinyal guna memanggil bantuan.
Sementara tiga temanku, Ridwan, Rony, dan Andi aku suruh untuk berada di
basecamp melaporkan kejadian yang kami alami barusan kepada warga. Begitu
mendapat sinyal, segera aku hubungi team SEARCH kota kami untuk menuju lokasi
pada dini hari itu juga.
***
Dua hari lamanya kami bersama team SEARCH melakukan
pencarian. Aku heran, semua tempat telah kami cari. Tapi hasilnya tetap saja
nihil tanpa hasil. Secuil jejak mereka pun tidak ditemukan. Seakan-akan benar
kalau Yudi dan Didik hilang dibawa terbang oleh kabut tebal kala itu
sebagaimana kata warga sekitar.
“Peristiwa alam pada malam itu memang jarang sekali terjadi.
Aku baru pertama kali menyaksikan ya pas malam itu, Nak,” jawab seorang warga
yang sudah berusia hampir enam puluh tahun saat kutanyai apakah peristiwa pada
waktu malam yang kami temui itu pernah terjadi sebelumnya.
“Almarhum ayahku dulu pernah cerita kepadaku. Waktu mudanya
almarhum Ayah suka sekali bermalam bersama teman-temannya di gunung ini. Suatu
malam pas bermalam di gunung ini, Almarhum Ayah kehilangan seorang temannya pas
ada kejadian aneh, mungkin persis seperti yang dialami kalian kemarin, Nak.
Almarhum Ayah bilang temannya itu dibawa terbang oleh kabut tebal berwana
putih,” lanjutnya.
“Apakah dulu Almarhum ayah Kakek melihat sendiri kalau
temannya dibawa terbang oleh kabut itu?” tanyaku mencari jawaban yang pasti.
Cerita kakek itu sulit sekali untuk kuterima. Awan bisa membawa manusia? Ahh…
tidak masuk akal!
“Almarhum Ayah tidak melihatnya langsung dengan mata kepala
sendiri karena pada waktu itu kata almarhum Ayah kabutnya memang sangat tebal,
tapi almarhum Ayah yakin kalau temannya itu dibawa terbang oleh kabut tebal.
Karena setelah kabut tebal itu lenyap, teman almarhum Ayah langsung menghilang
begitu saja.”
“Trus teman almarhum ayah Kakek dulu apa juga sudah dicari
di sekitar gunung ini, Kek?” tanya Rony yang juga tidak langsung percaya begitu
saja dengan kabar itu.
“Sudah, Nak.”
“Apa sudah dicari di semua tempat sekitar gunung ini, Kek?”
tanya Ridwan.
“Apakah dulu di jurang juga sudah dilakukan pencarian, Kek?”
tanyaku kemudian.
“Dulu semua tempat sudah almarhum Ayah cari bersama warga
sampai hampir sebulan lamanya. Kecuali di jurang, Nak.”
“Kenapa kok nggak dicoba nyari di jurang, Kek? Siapa tau
teman ayah Kakek itu dulu jatuh ke
jurang.” Andi yang dari tadi bengong menyimak ikut bertanya.
“Para warga tidak berani ke sana, Nak. Sebelum kejadian
teman almarhum Ayah yang hilang tiba-tiba itu, dulu pernah ada tiga orang warga
yang turun ke bawah jurang. Berhari-hari mereka tidak kembali. Akhirnya
keluarganya pun mencari mereka ke jurang itu. Tapi kemudian keluarga mereka itu
juga tidak kembali. Kejadian aneh itu membuat warga takut untuk mencari mereka
di jurang itu. Setiap orang yang pergi ke jurang itu pasti tidak kembali. Sejak
saat itu jurang di gunung itu disebut warga sebagai Jurang Kematian.”
Cerita Kakek tentang Jurang Kematian itu membuat kami dan
team SEARCH merinding. Meskipun cerita itu terdengar ganjil dan tidak masuk
akal, tapi kejadian menghilangnya warga setelah turun ke Jurang Kematian itu
adalah nyata adanya. Cerita itu sudah masyhur di kalangan warga lereng gunung
itu. Tak heran jika setiap anak penduduk gunung di situ pasti mampu menjawab jika ditanya tentang
Jurang Kematian.
***
Keberadaan Yudi dan Didik masih penuh tanda tanya. Apakah
Yudi dan Didik benar-benar dibawa terbang oleh kabut tebal entah kemana? Atau
apakah Yudi dan Didik jatuh di jurang lantaran angin besar bersama kabut malam itu?
Yang kedua inilah yang paling kuat menancap di kepala kami waktu itu, lebih
masuk akal. Dan untuk mengetahui jawaban pertanyaan itu, kami harus pergi turun
memeriksa jurang itu.
“Bagaimana pun juga aku yang bertanggung jawab terhadap
hilangnya Didik dan Yudi, Pak. Izinkanlah kami pergi ke jurang itu,” rengekku
pada Pak RT yang melarang kami pergi ke Jurang Kematian.
“Iya, Pak… izinkanlah kami. Didik dan Yudi adalah teman
kami. Jika kami pergi bersama, maka kami pulang juga harus bersama,” Rony juga
berusaha membujuk Pak RT.
“Kami tahu Bapak mengkhawatirkan keselamatan kami, tapi mohon Bapak mengerti perasaan kami. Kami
mohon, Pak… izinkanlah kami.” Andi yang biasanya cengengesan, kali ini terlihat
serius.
“Soal hidup mati orang itu sudah diatur sama yang di atas.
Jadi, Bapak tidak usah mengkhawatirkan kami. Kami tidak akan mengajak warga
untuk turut serta dalam pencarian teman kami. Biar kami yang berempat saja yang
akan turun ke jurang itu. Izinkanlah kami ke jurang itu, Pak,” kali ini Ridwan
yang memohon.
“Aku akan menemani mereka, Pak!!” teriak ketua tim SEARCH.
“Aku juga!”
“Aku ikut!!”
“Aku ikut!!”
“Aku juga!”
Suara anggota tim SEARCH bersahut-sahutan ingin turut serta
dalam pencarian Didik dan Yudi. Mereka bukanlah anggota tim SEARCH jika tak bersemboyan,
“Pantang Pulang Sebelum Menemukan.” Karena banyaknya yang memohon, akhirnya Pak
RT pun mengizinkan kami untuk pergi ke Jurang Kematian bersama tim SEARCH
dengan syarat kami tidak boleh pergi langsung saat itu juga karena siang telah
digantikan oleh malam dengan warna hitam menyeramkan.
***
“Ada tengkorak!!!” teriak seorang anggota tim SEARCH.
Ada tulang belulang manusia yang kami temukan di dasar
Jurang Kematian. Tak hanya satu, melainkan ada beberapa. Kemungkinan besar
tulang-tulang itu adalah tulang warga desa dalam cerita yang tidak pernah
kembali setelah turun ke jurang itu. Iya, tidak salah lagi.
Sebab mereka sampai meninggal di Jurang Kematian yang selama
ini menjadi misteri pun terungkap. Di dasar jurang banyak keluar gas belerang
dan gas beracun lainnya. Kami beruntung, tim SEARCH yang sudah lama berteman
dengan alam bersedia menemani kami dalam pencarian itu. Dengan berbekal ilmu
alam dan obat-obatan yang dibawa tim SEARCH, tak ada satu pun baik dari pihak
kami maupun pihak tim SEARCH yang terkena racun.
Berjam-jam kami mencari Yudi dan Didik di Jurang Kematian.
Kami hanya menemukan sekumpulan tulang belulang tadi. Yudi dan Didik tak
berhasil kami temukan. Kami akhirnya naik ke atas setelah kaki kami menginjak
semua tempat di dasar jurang itu dengan wajah berkabutkan kekecewaan.
Sesampainya di atas jurang, kami menceritakan kepada
sebagian warga -yang turut mengantar kami dan menunggu di atas jurang- tentang
apa yang kami temukan di dasar Jurang Kematian berkenaan dengan tulang belulang
manusia dan gas beracun. Kami pun mengabari bahwa tulang belulang yang kami
temukan itu telah kami kubur di bawah sana.
Pencarian Didik dan Yudi tidak kami lanjutkan pada hari itu.
Kami dan tim SEARCH sudah merasa letih sekali setelah lamanya menelusuri semua
tempat di dasar Jurang Kematian. Lagi pula jejak Didik dan Yudi juga tidak kami
temukan di jurang itu. Sekarang semua tempat di gunung itu telah kami susuri.
Kemana lagi kami harus mencari? Kami dan tim SEARCH akhirnya harus meyakini hal
yang aneh dan tidak masuk akal itu, bahwa Didik dan Yudi memang benar-benar
telah dibawa terbang oleh kabut tebal entah kemana pada malam itu. Kami dan tim
SEARCH akhirnya memutuskan untuk tidak mencari Didik dan Yudi lagi dan
memutuskan untuk pulang meski dengan tangan kosong.
Dari kejauhan aku melihat kejadian aneh. Sebuah batu besar
menggelinding pelan sedikit demi sedikit. Kemudian diam.
“Subhanallah!” kataku terkagum-kagum melihat fenomena yang
aneh. “Itu sepertinya mulut gua.”
“Kalau tidak salah
itu dulunya gua. Iya, tidak salah lagi. Dulu almarhum Ayah pernah mengajakku
bermalam di gua itu,” kata Kakek yang juga turut ikut bersama beberapa warga
menemani kami.
Semua pandangan mata tertuju pada batu yang menutup sebagian
besar mulut gua itu.
“Kalau tidak salah,
itu kan tempat kita dulu pas kabut tebal datang, San” kata Rony.
“Iya, San,” kata Andi menguatkan.
Malam ketika pendakian itu memang gelap gulita sehingga kami
tidak mengetahui kalau sebenarnya ada gua di tempat itu. Waktu dulu kami
mencari Didik dan Yudi, goa itu lebih terlihat seperti onggokan batu besar.
“Jangan-jangan Yudi dan Didik ada di....” Belum selesai
Ridwan bicara, batu besar itu menggelinding lagi. Kali ini, pintu gua
benar-benar terbuka.
Dua sosok orang keluar dari dalam gua itu dengan
tertatih-tatih. Sepertinya kami mengenal mereka berdua. Sosok dua orang itu
tidak asing di mata kami.
“Subhanallah... itu Yudi dan Didik!!! Alhamdulillah,”
teriakku senangnya bukan main.
Kami pun berlari menghampiri mereka berdua. Minuman dan
makanan segera kami berikan. Alhamdulillah, akhirnya mereka berdua selamat.
Namun, dalam hatiku muncul rasa penasaran yang begitu sangat, “Bagaimana mereka
bisa berada di gua itu padahal sebelumnya mulut gua itu tertutup oleh batu
besar?”
***
“Ketika kabut tebal datang, saking paniknya aku dan Didik
segera mencari tempat perlindungan. Aku melihat gua. Segera saja aku mengajak
Didik masuk ke dalam gua itu untuk berlindung. Setelah itu gempa pun datang.
Banyak batu-batu kecil berjatuhan dari dalam gua. Ketika kami hendak keluar,
batu besar menutup rapat-rapat gua itu. Lalu aku dan Didik berusaha keras
menggeser batu besar itu. Tapi batu itu terlalu besar dan berat sehingga aku
dan Didik tak bisa menggesernya. Aku dan Didik akhirnya capek dan tertidur.
Setelah bangun, aku dan Didik merasakan sangat lapar dan lemas. Segera aku dan
Didik mengambil roti yang ada di tasku untuk dimakan. Setelah itu, aku dan
Didik berusaha lagi menggeser batu itu. Lagi-lagi aku dan Didik tak bisa
menggesernya. Lalu aku pun pasrah kepada Allah. Aku teringat dengan kisah tiga
orang dari Bani Israil yang terjebak dalam gua, persis seperti keadaan aku dan
Didik waktu itu. Aku kemudian menceritakan kisah itu kepada Didik. Lalu aku pun
mencoba meniru mereka. Dengan amal-amal ibadahku, aku coba bertawassul memohon
doa kepada Allah agar menggeser batu besar itu supaya nantinya aku dan Didik
bisa segera keluar dari gua itu. Waktu aku selesai berdoa, batu itu pun
bergeser. Tapi mulut gua itu hanya membuka sedikit saja. Sehingga aku dan Didik
belum bisa keluar dari gua itu. Kemudian Didik pun berdoa dan bertawassul
dengan amal kebaikan yang pernah dia kerjakan. Selesai Didik berdoa, batu besar
itu pun bergeser. Mulut gua akhirnya terbuka sehingga aku dan Didik pun
akhirnya bisa keluar. Waktu itu aku sangat senang akhirnya bisa keluar.
Alhamdulillah,” kata Yudi menjelaskan saat aku bertanya mencari jawab atas
penasaranku itu.
Didik dan Yudi tak merasa bahwa mereka berdua telah tidur di
dalam gua itu selama 3 hari. Mereka mengira tidur mereka di dalam gua itu hanya beberapa jam
saja.
“Pantas saja aku dan Yudi saat bangun tidur sangat kelaparan
dan kehausan. Hehehe…” Didik tertawa mengingat kejadian itu. Roti yang menjadi
makanan yang ia benci masuk juga ke perutnya karena lapar waktu itu.
Subhanallah... itu memang kebesaran Allah. Kejadian tiga
orang dari kaum Bani Israil dan Ashhabul Kahfi ribuan tahun silam terulang pada
Yudi dan Didik, teman kami meski kisah itu tidak 100% sama.***
Comments
Post a Comment