[ID-FAM730M, Anggota FAM Wonogori]
Adalah Srikandi dan Permadi, dua orang yang sudah menjalin
hubungan cinta selama empat tahun. Hubungan yang manis, saling mendukung satu
sama lain meskipun mereka terpisah oleh jarak, karena Adi melanjutkan studinya
di Surabaya.
Srikandi menulis semua SMS dan puisi Adi dalam sebuah diary
yang selalu dibaca dan dikenang. Namun sayang, Srikandi harus rela ketika dia
menerima SMS dari Adi bahwa ia akan segera mengakhiri hubungan mereka yang
sudah terjalin selama empat tahun. Remuk redamlah hati Srikandi, “Kata-kata itu
bagai pukulan telak di ulu hatiku, setiap katanya seperti bilahan batu-batu
tajam yang menghunjam tubuhku, dadaku sesak…”
Di sungai Masri mereka bertemu, ingin mengakhiri semua. Sungai besar indah yang ada di kampung mereka, sungai yang mereka beri nama Masri (Permadi dan Srikandi). Sungai di mana mereka pertama kali mengikat janji setia, tapi kini harus mengakhiri semua. Sikap Adi yang tak pernah dipahami oleh Srikandi.
Tapi ending cerpen ini ditutup dengan manis bahwa Permadi
ingin mengakhiri hubungan cinta yang tak jelas ke arah yang lebih jelas.
Permadi melamar Srikandi untuk menjadi istrinya. Bukankah pernikahan lebih baik
karena ada suatu kepastian dan membebaskan diri dari siksaan batin karena rindu
yang tak jelas tadi?
Cerpen yang berjudul “Ada Cinta di Masri” adalah cerpen
cinta-romantis yang manis. Penulis berhasil menutupnya dengan ending baik dan
ada nilai pembelajaran bahwa pernikahan lebih baik daripada sekedar pacaran.
Namun, ada beberapa kelemahan yang harus diperhatikan penulis untuk tulisannya ke
depan. Penulisan huruf kapital (huruf besar) masih rancu, di awal kalimat
sering menggunakan huruf kecil, begitu juga nama tempat dan orang, juga di awal
tanda kutip.
Kelemahan lainnya adalah, mengapa tokoh Srikandi tiba-tiba
berubah menjadi Nur? Seperti kalimat berikut, “Dik Nur… sekali lagi kaka Tanya,
ikhlaskah jika kaka melamarmu dan kita segera menikah”. Bisiknya dengan
menunduk. Kaka sebaiknya ditulis Kakak, kata Tanya jangan menggunakan huruf kapital,
dan dik menggunakan huruf kapital. Untuk kalimat yang berbahasa daerah, “Nur…wis padang nduk, gek adus!!!”
gunakan tanda bintang (*) dan buat terjemahan di bagian bawah halaman (catatan
kaki).
Untuk penulis cerpen ini, teruslah menulis. Penulis sudah
berhasil mendeskripsikan situasi dengan bagus dan puitis, penulis sangat
berbakat. Kesalahan hanya secara teori saja, teori yang bisa dipelajari
tentunya karena setiap tulisan harus sesuai EYD. Ide cerita sebenarnya biasa,
tapi penutupnya yang bagus dan manis. Untuk selanjutnya, jangan lupa lakukan editing
tulisan sebelum dikirim sehingga bisa meminimalisir kesalahan, seperti nama
tokoh yang berubah-ubah tadi. Teruslah menulis, asah pena agar semakin tajam.
Salam aishiteru.
TIM FAM INDONESIA
***
[NASKAH CERPEN “ADA CINTA DI MASRI”, DIPOSTING
TANPA EDITING]
Ada cinta di masri
Oleh Warno Adi Susilo
IDFAM730M Anggota FAM Wonogori
Kreeek…..
pelan kubuka jendela, di luar masih gelap. Sejuk angin pagi menerobos masuk
kamar, dingin menghempas mukaku. Diiringi sayup-sayup suara terbata-bata mas
Ari membaca Al-Qur’an. Suaranya timbul
tenggelam bersaing dengan kokok ayam, juga riuh cericit anak-anak ayam
bersahut-sahutan menjawab panggilan induknya.
Aku kembali
merebahkan diri di kasur, mencoba memejamkan mata karena semalam tak memejamkan
mata sepicingpun. Biasanya habis subuh begini aku sudah jalan-jalan dengan
Tuti. Di tengah hamparan sawah Mbah Somo kami menghabiskan waktu pagi,
mengamati sisa-sisa embun yang mengkristal di pucuk-pucuk daun padi, darinya
akan muncul puluhan warna yang terpancar saat hangat mentari pagi menerpanya.
Tapi sudah
dua hari ini tuti tak datang, biasanya wajah jenakanya sudah menyembul dari
balik pintu kamar saat aku masih melipat sajadah dan mukena. Sambil tersenyum
dengan senyuman khasnya. Dua hari yang lalu ia bilang mau pergi sekeluarga
menjenguk kerabatnya di Surabaya.
Pandanganku
memudar, dan suara cericit anak-anak ayam di samping rumah semakin tak
terdengar. Aku hampir terlelap, tapi setengah sadar aku mendengar suara pintu
di ketuk. Aku terjaga…
“ Nur… wis
padang nduk, gek adus!!!” suara lembut Emak di balik pintu.
“ ya Mak…”,
dengan malas aku bagkit, kepalaku masih terasa pening, kusambar handuk dan
dengan langkah gontai aku berjalan ke kamar mandi.
***
Habis mandi
aku kembali ke kamar. Pagi ini aku tak ke mana-mana. Mamak pergi ke pasar aku
di suruh jaga rumah. Kurebahkan kembali tubuh ini sambil bersandar di bantal,
sambil kembali lagi membuka diary. Ya, aku menamainya diary padahal di dalamnya
hanya berisi salinan sms-sms mas Adi. Waktu empat tahun membuat sms-sms itu
memenuhi lembar demi lembarnya.
10/05/2012
“ Kak… gy ngapa?.
Aku ingat
itu adalah sms terakhirku, biasanya ia akan membalasnya dengan panjang
lebar, tak lupa ia pasti juga akan
menyelipkan canda yang menjadi ciri khasnya. Bahkan ia lebih sering langsung
menelephon dan tanpa ku mintapun ia akan bercerita dengan sendirinya, dari
pengalaman sampai cerita-cerita waktu masih kecil. Apa saja bisa jadi bahan
ceritanya. Ia lebih seperti pendongeng yang selalu membawakan cerita-cerita
untukku tiap malam sampai aku terlelap dengan sesungging senyuman.
Tapi kali
ini lain dari biasanya, bukan canda bukan cerita yang ia kirimkan. Tapi,
kata-kata yang selalu membuat malam-malamku muram, memaksa butiran kristal
bening ini mengalir di pipiku.
“ maaf dik, kaka sibuk”
Hanya itu
jawabanya. Tapi, setelah itu kirim sms lagi,
“ dua minggu lagi kaka pulang, dan kita akhiri
cinta kita”
Kata-kata
itu bagai pukulan telak di ulu hatiku, setiap katanya seperti bilahan
batu-batu tajam yang menghunjam tubuhku,
dadaku sesak…
***
Cinta tak kenal ruang, pun juga tak kenal
dengan hitungan angka…ia bebas berkeliaran dan singgah di manapun ia inginkan.
Cinta juga bebas pergi tanpa kata dan tanpa sedikitpun rasa bersalah. Cinta itu
seperti angin…begitu halus, namun terkadang ia juga bisa menjelma topan yang
siap mengobrak-abrik setiap jiwa yang di laluinya. Tapi sehalus apapun cinta
itu ada, ia nyata…aku bisa mendengar bisikanya. Ya…hanya sebatas ini yang ku
pahami tentang cinta…
Aku masih
heran dengan pikiran mas Adi. Secepat itukah ia berubah. Tak ingatkah ia dengan
janjinya dulu akan datang menjemputku untuk mengukuhka ikatan ini. tak tahukah
ia , bahwa aku di sini tetap bertahan untuk tetap setia menunggu. Aku rasa
kebersamaan selama 4 tahun bukanlah waktu yang singkat, itu adalah waktu yang
cukup lama jika hanya untuk sebuah kepalsuan seperti ini. tapi inilah kenyataan
yang harus aku telan. Sepahit apapun itu… sekarang hanya ada dua pilihan;
melupakan atau tak mengingatnya sama sekali.
***
Seminggu
sudah aku berjuang untuk melupakanya, tapi nihil. Kenyataanya bayanganya tak
mau beranjak dari ingatanku. Jujur aku tak siap jika harus kehilangan sosoknya.
aku merasa kehilangan segalanya saat ku
coba untuk melupakanya. Sosok selama ini begitu perhatian, selalu menemani
malam-malamku walau hanya dengan untaian kata-kata bijaknya, juga puisi-puisi
yang selalu mengalir seperti tak pernah kehabisan kata. Walau selama in aku tak
pernah bertemu, tapi aku begitu merasakan kedekatan. Begitu dekatnya sampai aku
seolah-olah mendengar ia berbisik di telingaku.” Tetap semangat dan tersenyum
dinda”.
Memang
kata-kata itu terkesan biasa, namun tidak bagiku. Kata-kata itu seperti cambuk
yang mampu melecut semangatku. Kata-kata ini mampu membuat langkahku terasa
ringan walau badan terasa penat. Tapi, aku telah kehilangan semua itu. kini aku
harus berjalan sendirian, takan ada lagi orang yang akan menenangkan saat hati
gundah, dan ternyata aku terlalu lemah untuk menanggung semua ini.
***
Pagi ini
segaja kuhabiskan untuk membaca catatan-catatan lama, pandanganku terhenti dan
anganku terseret pada kenangan masa lalu saat sampai pada lembaran ini,
lembaran yang masih terlihat rapi serapi aku menyimpan cinta ini…
Melatiku,,,,
Aku
tak ingin serpihan hati kita terbias jadi pelangi
Walau
indah, namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku
tak ingin sejuk embun hatiku bersatu dengan hijau kelopakmu
Walau
sejuk, Namun, hanya sesaat
Melatiku,,,
Aku
tak ingin kebersamaan kita bagai mimpi sesaat
Hanya
menyisakan gelisah dan rasa bersalah
Biarkanlah
aku melangkah
Sepeti
titik-titik air hujan yang mencoba lepas dari cengkeraman langit
Walau
akhirnya bumi akan menelanku
Yakinlah
aku akan kembali
(
adi.s )
Ini adalah
puisi yang ia kirimkan sehari sebelu ia berangkat ke Ibu kota. Kata-katanya
begitu dalam dan terkesan tak main-main. Membacanya membuatku merasa yakin
bahwa suatu saat nanti ia akan datang meredam rinduku. Dan besok dia
benar-benar akan datang, tapi tidak untuk meredam rindu ini. justru ia akan
datang untuk mencabut kembali hiasan yang ia sematkan di hatiku… perih… perih
sekali. Sungguh ini suatu yang tak pernah terbayangkan sebelumya.Aku ingin
menjerit saat itu juga. Tapi sekeras apapun aku menjerit tak akan ada orang
yang mendengarnya.
***
pagi itu
masih begitu hening, belum ada tanda-tanda kehidupan. Yang terdengar hanya
gemerisik daun-daun yang tergesek angin. Sesekali terdengar kokok ayam tetangga
yang terdengar begitu semangat menyambut pagi.
Kulirik jam
weker, “masih jam tiga, subuh masih lama” pikirku.
Udara
dingin semakin membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. Kurapatkan
lagi selimutku. Tapi sejurus kemudian Hpku menjerit. Ada pesan masuk.
” Ah…
mungkin si Tuti, biasanya jam segini ia yang sms”. Batinku mencoba menerka.
Segera ku raih handphonku.
“
assalamu’alaikum… nanti sore kita ketemu di sungai masri”
Rasa
kantukku menguap, mendadak jiwaku terbang menerobos padang ilalang. Aku terjatuh, basah kuyup. Ku
lihat sekeliling lengang dan sepi. Tak hanya jiwaku yang terbang seakan ragaku
juga ikut merasakan sejuknya setiap
titik air yang menerpaku.seakan gemericik air sungai masri 4 tahun yang lalu
terdengar jelas di telingaku
Sebenarnya
sungai ini bukan sungai masri namanya. Nama itu aku dan mas Adi yang
memberikanya. Ini satu-satunya sungai yang terindah di desaku. Begitu luas
karena merupakan pertemuan tiga sungai, sehingga lebih mirip dengan danau. Di
tengahnya ada gundukan tanah yang membentuk pulau kecil dengan pohon beringin
yang tumbuh di tengahnya. Untuk ke pulau itupun sangat mudah karena ada
jembatan bambu yang menghubungkanya dengan tepian. Tepat di samping pohon
beringin itu berdiri saung kecil yang di kelilingi semak ilalang. Ada juga satu
dua rumpun melati yang ikut berdesakan.
Di sinilah
empat tahun yang lalu aku dan mas Adi bertemu. Aku masih ingat saat mas Adi
meletakkan anyaman akar beringin yang di padu dengan rangkaian kuntum melati di
kepalaku.
“ terimalah
Srikandiku…” ucapnya dengan penuh pengharapan waktu itu.
kemudian ia
mundur selangkah dan berlutut di depanku, dengan penuh pengharapan ia
membacakan puisi untukku. Ah… benar-benar cinta yang sederhana namun begitu
membekas. Sejak saat itu kami sepakat menamai sungai itu dengan sungai Masri.
Kami berharap agar kelak kami benar-benar di persatukan dengan ikatan yang
kukuh seperti ikatan Permadi dan srikandi.
Inilah
kenanganku di sungai itu, kenangan yang membuatku tetap bertahan selama ini.
ya, setelah itu kami berpisah karena ingin sama-sama melanjutkan studi. Dan
besok adalah kali ke-dua kami bertemu di sana. Tapi bukan untuk mengukuhkan
hubungan ini, tidak… ternyata kemarau datang lebih cepat, saat kuncup ini mulai
mekar hingga memaksanya luruh dan gugur dengan paksa.
Kami akan
bertemu untuk mengakhiri semuanya. Empat tahun aku berjalan, mencoba bertahan
walau telapak ini penuh dengan kucuran darah. Tubuhku remuk redam menahan
gundah kering kerongkonganku menahan dahaga dalam terik padang pasir ini. tapi
yang ku tuju selama ini hanya fatamorgana. Sia-sia memang, tapi harus gimana
lagi. Tak mungkin kiranya aku kembali ke belakang. Sudah terlalu jauh aku
melangkah. Kakiku tak kuasa lagi
menopang tubuh ini. aku hanya pasrah jika memang tubuhku harus terkubur bersama
cinta ini.
Pukul 14:00
WIB
Mantap aku
melangkahkan kaki menyisir jalan setapak yang mengantarkanku pada kehancuran.
Rimbun ilalang di kiri-kanan jalan tinggi meliuk-liuk, mengangguk-angguk
takzim. Sambil melantunkan irama yang menyayat di bawah komando angin.hatiku
berdesir hebat. Ku tarik nafas panjang, ku keluarkan kuat-kuat untuk mengurangi
rasa gugup ini.
“ ah… aku
tak boleh kalah, aku harus kuat. Air mata boleh meleleh, tapi tidak untuk
semangatku.aku ingin tetap hidup walau tak mendapatkan apa yang aku cintai.”,
bisikku pada diri sendiri.
Dua puluh
menit aku sampai di tepian sungai Masri. Ku edarkan pandangan,” tak ada yang berubah, masih seperti dulu”. Pikirku.
Ku basuh
mukaku agar tak terlihat bekas-bekas tangis sepanjang perjalanan tadi.
Ceeeeessss… dingin menyusup saat butiran air menyentuh pori-poriku. Bergegas
aku melewati jembatan bambu. Dua rumpun melati itu seakan melambai memberi
isyarat agar aku mempercepat langkah. Dua rumpun ini dulu yang menjadi saksi
atas cinta kami. Tapi, kali ini dua rumpun ini pula yang akan menyaksikan perpisahan
kami.
“ ehmm…
Sudah lama menunggu Dik???, suara Mas Adi mengagetkan aku. Lamunanku terhenti,
aku bangkit.
“ belum”,
jawabku singkat.
Ku angkat
wajahku, siiirrr…. Dadaku berdesir hebat saat pandangan kami bertemu. Segera
aku berpaling, mencoba mengendalikan diri. Aku masih terpaku saat mas Adi
melangkah ke saung.
Sebenarnya
aku ingin mengatakan kalau aku sudah siap melepas dan mengembalikan hiasan yang
ia titipkan di hatiku. Empat tahun aku menjaganya kini tiba saatnya aku
mengembalikanya. Tapi apa daya, aku semakin ak terkendali. Dadaku berdegup
kencang, bibirku bergetar tapi tak sepatah katapun kata yang keluar dari
mulutku. Aku seperti anak kecil yang berlatih bicara. Hanya gumaman lirih tak
bermaksud yang keluar dari mulutku.
Lama kami
hanya diam, tenggelam dalam perasaan masing-masing. Aku tak tahu apa yang harus
ku lakukan, hanya pasrah menunggu keputusan.
“ sebelumya
kakak minta maaf, karena mengambil keputusan ini” akhirnya ia bersuara memecah
kesunyian. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan…
“ dik…
sadarkah engkau kalau perjalanan kita selama ini seperti perjalanan matahari.
Kita tak bisa menuntut ia selalu hangat, selalu indah seperti saat terbit.
Karena kenyataanya ia merambat naik dan takan terasa hangat lagi. Ada saat
dimana ia terasa begitu terik, sebelum akhirnya tergelincir menunduk pasrah
ketika senja mencengkeram. Ia pun akan meredup dan akhirnya lenyap….”. mas Adi
menggeser letak duduknya sambil melepas nafasnya yang terasa begitu berat
sebelum melanjutkan ceritanya…
“ sudah
empat tahun kita bersama, waktu yang cukup lama bukan??. Selama itu pula kita
merasakan pahit, manis, susah, senang, bahagia juga galau saat satu hari tak
ada kabar. Selama itu pula kita merasa dekat walau sejatinya berjauhan karena
hati kita telah bercengkeraman erat. Tak jarang pula kita berjuang melawan
kesepian, rindu yang membuncah, dan rasa itu akan mencipta luka yang menganga,
karena kita tak pernah bisa menemukn obatnya. Dan sekarang???” suaranya agak
bergetar…
” aku sudah
muak… aku sudah bosan jika selamanya jiwa ini selamanya di hantui dengan
perasaan galau dan rindu yang menyakitkan ini. maka di tempat ini… detik ini
juga kita kahiri saja cinta kita.”, ia semakin tertunduk.
aku melihat
sekilas air matanya mengalir. Ia melangkah mendekatiku, aku semakin
sesenggukan…
“Tataplah
aku dik …!!!”, bisiknya dengan penuh harap.
Aku semakin
tertunduk, menangis sejadi-jadinya. Aku sadari ternyata aku memang lemah. Walau
mulut ini mengatakan rela untuk melepas,
tapi itu sama sekali tak sesuai dengan kenyataan… toh aku juga tetap menangis.
“ dik…
ikhlaskah jika Kaka melamarmu???” bisiknya tiba-tiba.
Sontak aku
terkejut, ku angkat wajahku. Aku masih belum percaya dengan apa ya aku dengar
barusan.
“ dik
Nur… sekali lagi kaka Tanya, ikhlaskah
jika kaka melamarmu dan kita segera menikah”. Bisiknya dengan menunduk.
Matanya
terpejam menahan air matanya agar tak tumpah.
“ hingga
tak perlu lagi tersiksa saat rindu datang mendera, karena sudah tak ada lagi
sekat di antara kita.tak ada lagi perasaan berdosa saat kita igin berlama-lama
bersama..” ia meneruskan ucapanya dengan sesenggukan.sementara aku hanya diam terlarut dalam tangis.
“ tak
ridhokah engkau jika kita akhiri segala yang
telah kita lalui untuk awal yang indah, lebih indah dari perpaduan
bitang-bintang dan rembulan di langit malam???. Ia menutup kalimatnya dengan
linangan air mata.
Entahlah
aku tak tahu apa yang sekarang aku rasakan. Aku tak mampu berkata-kata, yang jelas
kata-kata tak mampu menggambarkan apa yang sekarang aku rasakan. Sambil
bersimpuh aku hanya bisa meremas tanah merah di depanku, dan kudapati semua itu
nyata… semua itu nyata…
[sumber:
www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment