Skip to main content

Ulasan Puisi “Namamu: Qalbi” Karya Salmizul Fitria (Agam, Sumatera Barat)

Namamu: Qalbi
Oleh Salmizul Fitria

IDFAM725U Anggota FAM Agam Sumbar

Dik, pikiranku adalah namamu
saat ku tinggalkan kau pada jalan tak bernama
lalu kubiarkan kau merawat luka-luka menganga
matamu kadang nanar, menatap pada jembatan tak bertuan
rembulan keburu datang
sebelum aku berhasil menyulut bintang
Dik, kata-kataku adalah namamu

ku jembut kau pada jalan takbernama
aku lupa bahwa ada cahaya dimatamu yang kutinggalkan
-desau kemarau mempertemukan kita
-matamu meninggalkan isyarat,hingga aku kembali pulang
Tunai luka pada Juni ,pada namamu,dik.

ULASAN FAM INDONESIA:

Sebuah puisi romansa yang menyentuh dan romantis sekali. Yakin pada seorang yang dituju akan merasakan kelembutan hati penulisnya dalam mengungkapakan perasaan kerinduan dan cinta yang mendalam.

Nampaknya penulis cukup terlatih memilih diksi untuk sebuah puisi hingga menjadi rangkaian kata demi kata yang indah dan bermakna.

Begitulah puisi. Banyak hal-hal yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari untuk dijadikan sumber inspirasi. Dari perasaan saat kita jatuh cinta, rindu, kecewa, bahagia dan berbagai warna hati yang terlukis dalam masa-masa itu.

Juga saat kita berkumpul dengan teman-teman, mendengarkan kisah-kisah dan curhat mereka, merenungkan apa yang telah dan akan kita alami, merasakan getaran dari apa yang tertangkap oleh indra mata dan telinga, dan juga saat kita mendalami kandungan isi Al-quran.

Semua itu sungguh dapat menjadi sumber inspirasi untuk tulisan-tulisan kita. Bila hal itu terbersit dalam hati dan perasaan, sebaiknyalah cepat kita tangkap dalam sebuah tulisan, endapkan, dan revisi kembali apa yang tadinya kita tulis.

Dalam puisi "Namamu: Qalbi" ini nampaknya penulis cukup berkesan pada sebuah nama yang begitu melekat dalam bayangan dan langkah-langkah menelusuri hari-hari.

Pada larik pertama penulis secara lugas menyatakan

"Dik, pikiranku adalah namamu"

Sebuah kalimat awal yang akan membuat penulis makin dapat mengetuk pintu untuk meneruskan dan menjejal kelanjutan apa yang ingin disampaikan.

Sepertinya ada sebuah "penyesalan" saat orang yang dia cintai itu harus berada jauh dari sisinya. Ini tergambar pada kalimat:

"saat ku tinggalkan kau pada jalan tak bernama"

Kenapa sebuah kata perpisahan harus hadir saat itu? Ya, yang namanya sebuah kebersamaan dalam kehidupan kadang kita dihadapi dengan berbagai macam problema untuk dapat kita jalani, selesaikan, dan meraih makna dari semua yang terjadi.
Hal itu sepertinya digambarkan penulis juga saat sebuah kebersamaan terjalani. Ini tergambar dalam kalimat:

"lalu kubiarkan kau merawat luka-luka menganga
matamu kadang nanar, menatap pada jembatan tak bertuan"

Lalu apakah orang ketiga juga hadir saat masalah yang dihadapi dalam hubungan itu belum terselesaikan? Walau penulis sebenarnya sedang berusaha menyelesaikan itu untuk kembali bersama dan utuh seperti dulu. Ini kita rasakan dalam larik yang cukup dalam pada:

"rembulan keburu datang
sebelum aku berhasil menyulut bintang"

Kemudian larik-larik ini sebaiknya dijadikan bait baru dari puisi itu:

Dik, kata-kataku adalah namamu
ku jemput kau pada jalan tak bernama
aku lupa bahwa ada cahaya di matamu yang kutinggalkan
-desau kemarau mempertemukan kita
-matamu meninggalkan isyarat, hingga aku kembali pulang
Tunai luka pada Juni, pada namamu, dik.

Kalimat pengulangan yang muncul di sini sangat tepat dan menjadikan puisi itu menjadi lebih kuat dan indah.

Dalam puisi memang sering kita lihat kalimat-kalimat yang diulang sejauh itu diperlukan dan tidak membuat puisi menjadi rangkaian kata-kata yang mubazir.

Secara umum puisi ini telah cukup sempurna dan menarik sekali. Karena pembaca cukup merenung mencari apa yang tersembunyi dalam setiap baris-barisnya.

Mungkin akan muncul multitafsir dari beberapa orang yang membacanya. Dan itu boleh, bahkan begitulah puisi.

Sedikit saran agar penulis lebih teliti lagi merevisi sebelum puisi ini diposting. Mungkin ada beberapa hal yang terlupa/tak disengaja dalam pemakaian EYD yang tepat dan benar.

Teruslah menulis. Salam Aishiteru.
TIM FAM INDONESIA

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

  1. terimaksih ulasannya FAM...
    cacatnya cuma di EYD ternyata...semoga lain kali bisa lebih "dibongkar" lagi,,,,
    tia sangat butuh kritik,terimaksih...

    ReplyDelete
  2. hm...hm... Makasih yo kak Salmizul...
    Segitu bana yo kak??? waks...waks...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...