[ID-FAM700U, Anggota FAM Solok]
Kali ini FAM mengulas cerpen yang berjudul
“Demi Mama, Aku Rela Kehilangan Kedua Kakiku”. Meskipun panjang, tapi judul
yang digunakan menarik. Apalagi menyangkut ibu.
Cerpen ini mengisahkan tentang Gia, seorang
gadis yang harus mengalami tekanan batin karena hidup dengan seorang ibu yang
membencinya. Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanyalah anak angkat.
Suatu hari, Gia mabuk. Hal inilah yang menjadi puncak kemarahan ibunya hingga
akhirnya Gia diusir dari rumah. Naas, Gia mengalami kecelakaan yang membuat
kedua kakinya lumpuh. Di tengah musibah itu justeru keajaiban muncul. Gia
ternyata anak kandung ibu yang selama ini dianggap sebagai ibu angkatnya. Sewaktu
kecil ia diculik, namun bisa kembali ke rumah sebagai anak angkat karena suatu
hal yang tak diduga.
Dari segi cerita, penulis cukup pintar
dalam mendesain alur. Mungkin akan banyak pembaca yang tidak menyangka jika Gia
adalah anak kandung dari ibu yang selama ini menganggapnya sebagai anak angkat.
Inilah salah satu teknik bercerita yang bisa dicontoh penulis lain, yaitu
dengan membuat ending cerita yang
sulit ditebak atau mengejutkan. Contoh kasus, sebuah cerpen yang bercerita
tentang cinta segitiga. Seorang lelaki diperebutkan oleh dua orang wanita
cantik. Tapi di akhir cerita, sang lelaki tidak memilih keduanya karena
ternyata dia seorang homo (gay).
Untuk ukuran cerpen, rasanya cerita ini
terlalu panjang. Idealnya, cerpen berkisar antara 6-10 halaman saja. Jika
terlalu panjang, maka bisa membuat pembaca jenuh. Hal ini bisa membuat pembaca
hanya membaca sebagian bahkan memutuskan untuk tidak membaca saat mengetahui
jumlah halamannya. Cerpen yang terlalu panjang juga membuat cerita menjadi
bertele-tele. Contoh pada cerpen ini, bagian awal cerita terasa datar. Beberapa
percakapan di awal cerita yang tidak terlalu penting namun ditampilkan. Itulah
yang membuat cerita bertele-tele dan terasa datar. Barulah cerpen ini mulai
menarik saat memasuki bagian tengah hingga akhir.
Catatan dari FAM, penulis harus lebih
teliti mengenai penulisan. Ada beberapa salah ketik juga kata yang terpotong.
Selain itu penulis juga harus memperhatikan EYD. Penulisan ‘di’ seharusnya
dipisah ketika diikuti kata tempat. Kemudian untuk penulisan istilah asing
seharusnya dicetak miring, misalnya pada kata ‘Prom night party’.
FAM berharap penulis terus berlatih agar
kualitas tulisan semakin membaik. Teruslah berkarya lewat pena.
Salam Aishiteru!
TIM
FAM INDONESIA
* * *
[BERIKUT
CERPEN YANG DIULAS, DIPOSTING SESUAI NASKAH ASLI]
DEMI MAMA, AKU RELA KEHILANGAN KEDUA KAKIKU
Karya: Yosi Gusnilawati
IDFAM700U Anggota FAM Solok
Hari ini masih seperti kemarin, tak ada
yang berubah, selain kalender yang tersobek baru di dinding kamar sebuah RSJ
tempat mama dirawat. Entah sudah berapa lama aku diam dan mematung disini.
Mataku yang masih terus berair, kubiarkan saja mengalir tanpa mempedulikan
orang-orang disekelilingku.
Papa membelai-belai punggungku tanpa
mengalihkan pandangannya dari mama yang tersandar lemah dipintu kamarnya dengan
kedua lutut bertekuk, tangannya memegang kepalanya dan sesekali menangis
diikuti dengan jeritan-jeritan yang menyayat hati.
Tatapan matanya begitu kosong, rasa sesal
yang mendalam telah melemparkan senyuman yang selama ini menghiasi wajah
cantiknya itu kedalam abu.
Dulu, mama adalah seorang yang aktif diluar
rumah. Apalagi setelah ia memiliki usaha bersama teman-temannya, mama semakin
terbenam dalam kesibukan. Harus kuakui, hubunganku dengan mama terasa aneh,
tidak ada keakraban antara kami. Bagiku, semua kesibukan mama tidak lebih dari
sebuah pelampiasan ketidak nyaman-annya padaku. Selama tujuh belas tahun
tingkah mama selalu jadi pertanyaan yang telah menggunung di benakku. Pernah
terbesit untuk menanyakannya pada kak Robi, tapi selalu urung karena
pertimbangan tentang tanggapan kak Robi padaku. Dia akan terus meng-‘introgasi”
tentang pikiranku itu. akhirnya aku memutuskan untuk terus memendamnya. Hingga
akhirnya ada saat sulit seperti ini dalam kehidupan kami.
***
Aku masih ingat betul dua minggu yang lalu.
“Gia, cepat bangun! Kita jalan sekarang,
ya?”. Sebuah suara yang terdengar berjingkrak-jingkrak di punggungku itu tentu
saja telah merusak mimpi indahku. Dengan malas kusembulkan kepalaku dari balik
selimut, mataku yang masih lengket kuusap sambil melirik kearah jam dinding
diatas kepalaku, jam empat lewat empat puluh lima menit. Oh...! pantas saja aku
masih mengantuk begini.
“Duluan aja kak, mimpinya tanggung, nih!”
sahutku sambil memperbaiki posisi tidurku. Sayup-sayup ku dengar suara azan
dari sebuah mesjid dan lantunan ayat suci alqur’an yang dikumandangkan dengan
sangat sempurna oleh bik Asih dari dalam kamarnya. Ah, andai saja imanku sekuat
mereka…
“Gia, mana bisa gitu, kakak kan mau
nganterin kamu ke rumah Mila, katanya mau minjam vcd, ayo, dong!!”
“Duh, udah nggak ada siangnya apa ini bumi,
kak, pagi buta begini kerumah Mila hanya untuk minjam vcd, doang!. Nggak ada
alasan lain?”
“Kan sekalian bisa ajakin dia joging
bareng, lagi pula ini kan hari libur, ayo, bangun!” kak Robi terus membujukku
sambil menarik selimut dari ujung kepalaku. Pasti semalam aku lupa mengunci
pintu kamar, sehingga cowok gondrong dengan hidung bangirnya itu bisa leluasa
begini membujukku. Dengan mata setengah terpicing kuikuti kak Robi dengan
langkah kakiku, karena aku tak mungkin
membiarkan tanganku saja yang ditarik-tarik ke kamar mandi.
“Sana, cuci muka dulu, nggak asyik ah,
jalan sama orang kusut kayak gini!”.
Belum jauh aku beranjak sebuah suara yang
cukup ku kenal meyakinkan aku siapa yang datang.
“Robi, pantas saja dari tadi mama
teriak-teriak di kamar kamu, tapi tak ada jawaban. Rupanya disini, lagi ngapain
sih…? Ayo, papa udah nungguin untuk subuh bareng!”. Kata mama yang mengusap
kepala kakak lembut.
“Iya, ma, nanti ya, tungguin gia dulu!”.
Kulihat Kak Robi yang sekilas mirip dengan
firman ‘Idol’ itu berusaha melepaskan kepalanya dari tangan mama. Bukan
karna malas dimanja oleh mama, bukan, sungguh bukan itu alasannya. Kak Robi adalah orang yang sangat santun dan
berbakti kepada orang tua. Tapi mungkin lebih memandang pada perasaanku, aku
yang merasa terasing dari mama sendiri, aku yang tak pernah dibelai apalagi
dimanja oleh seseorang yang sekarang berada didepanku, seseorang yang katanya,
Mamaku. Perbedaan itu lama kelamaan menumbuhkan perasaan lain dihatiku.
Membentuk butir-butir kecewa dari rasa yang tak pernah sempurna ini.
“ Oh ya, kamu juga ! “ kata mama tiba-tiba,
mengagetkanku. Sambil berinsut dari pintu. Dan sekali lagi, tanpa menyantuhku.
“ Iya, ma ! “ jawabku sekenanya
Aneh, kenapa mama tidak pernah menyentuhku,
apalagi memeluk dan menciumku seperti yang selalu dia lakukan pada kakakku
Robi. Hanya dengan menegurku saja, itu sudah merupakan sikap terbaik mama
padaku. Aku mematut diri didepan cermin. Bukankah aku putri kandungnya juga?
Padahal banyak orang yang mengatakan
tentang kemiripan kami. Mama yang tinggi semampai dengan kulit putih
terawatnya, rambut sehat lurusnya menyentuh punggung, cantik sekali! Bahkan tak
tanggung-tanggung, Talasemia yang diderita mama juga mengaliri sel darah merah
dalam tubuhku. Kenyataan ini ku ketahui kemarin waktu aku check-up pada dokter
April, teman kuliah mama yang juga merangkap jadi tanteku. Aku minta
kesediaannya untuk menyembunyikan hal ini dari keluargaku, walau ku tahu mama
takkan pernah peduli. Lalu apa alasannya dia tidak menyukaiku?
Siang ini, setelah kembali joging bersama
Kak Robi dan Mila, kakiku seperti sudah tahu arah dengan menuntunku kedapur,
menemui seseorang yang sudah lebih dari separuh umurnya mengabdikan diri
dirumah ini. Bik Asih, begitu ia biasa dipanggil, wanita lima puluh tahun
itulah yang telah merawatku dari bayi sampai sekarang. Dari bik Asih juga aku
mengetahui bahwa orang yang selalu membantunya manjagaku waktu aku “ngeyel”
adalah kak Robi. Itu semua membuatku semakin merasakan peranan mereka dalam
hidupku, sedangkan papa, hh….walaupun selalu sibuk dengan bisnisnya, tapi jika
sekali kali berkumpul, bisa menggantikan waktu yang telah lama terbuang. Ya…..!
papa orang yang sangat baik dan penyayang.
Tapi jika tentang sikap mama,……., aku tidak
tahu! kenapa mama tak begitu acuh padaku, bahkan terkesan membenciku. Kenapa
mama seperti mencampakkan aku begitu saja, apakah kehadiranku memang tidak
diinginkan? Waktu ku Tanya pada bik Asih, aku selalu saja mendapat jawaban yang
sama, mungkin mamamu capek, mungkin sedang ada masalah dikantor, atau, bla-bla,
bla…. Ah basi, aku jadi bosan sendiri.
“Mikirin apalagi sih, Gi?” kak Robi
mendudukkan dirinya disebelahku dengan meletakkan dua cangkir teh diatas meja.
“Oh…sepertinya kakak mengetahui sesuatu pasti kamu mikirin prom night party
nanti malam. Kamu pengen ikut, kan ? “ bibirnya Tersenyum manis sambil
mengerlingkan mata, menggodaku. Aku mengangguk berkali-kali, meskipun yang aku
pikirkan bukan itu. Kak Robi sok tau, batinku.
Suasana yang semula hangat seketika berubah
karena kedatangan mama yang baru pulang dari mall. Mama berteriak-teriak
memanggil kakak hingga menemukan kami didapur. dari balik sunglasses
Dior-nya mama menatap dan menghampiri
kami.
“Robi….,kamu lihat, apa yang mama bawakan
buat kamu!” ujar mama yang langsung mengeluarkan beberapa potong kemeja yang
kelihatannya penuh dari dalam tas plastiknya. “ Mama yakin kamu pasti suka”.
Tanpa basa-basi kak Robi langsung meraih
tas plastic dan beberapa potong kemeja itu dari tangan mama dan meneliti nya
satu persatu.
“Lho, buat Gia mana, ma, kok nggak ada ?”
Tanyanya sambil terus mencari-cari.
“Oh iya, maaf mama lupa, sayang, soalnya tadi mama
buru-buru!” Sahut mama yang langsung bersilengah dengan beranjak ketika namaku
disebut, selalu begitu.
Aku terdiam mendengarnya, tentu aku tidak
bisa begitu saja menerima alasan itu. mataku memerah lagi. Entah sampai kapan
aku menjalani hidup seperti ini. Kutarik
nafas dalam-dalam, agar sesak didada tak mengaliri pipiku, kak Robi yang
disebelahku mengusap-usap jari tanganku, menguatkanku.
“Tenang Gia, nanti kita beli yang lebih
banyak buat kamu,ya? Mungkin saja mama memang lupa, jangan sedih gitu, dong!”
“Siapa yang sedih?”
“Lha, itu matanya merah kenapa, tuh! Jangan
dimasukkan ke hati, namanya juga orang lupa, pasti nggak ingat, kan?”
Aku mengangguk pelan sambil memalingkan
pandangan kearah bik Asih yang kebetulan juga berada disampingku. Ada genangan
air disudut matanya yang sembab.Tanpa disadari aku lansung berhambur
kepelukannya. Ing rasanya aku jadi anak bik Asih saja, jeritku.`7Deringan
ponsel diatas meja mencairkan suasana .Ada panggilan masuk, dari Mila.
.Menanyakan kesediaanku untuk ikut Prom night party malam ini. Segera saja ku
tatap kak Robi, memastikan apakah dia mau menemaniku. Kak Robi mengangguk dan
tersenyum. Ya, aku tau itu.
Malam ini, demi mengikuti pesta itu, kami
harus keluar melalui jendela. Walaupun sudah dapat izin dari papa, tapi tembok yang paling keras masih tetap
pada mama. Sudah ku duga, mama tidak pernah mau melepas aku pergi pesta
kapanpun, dia lebih senang aku tidur dan belajar dirumah. Mulanya aku berfikir
itu wajar dan aku bisa terima. Tapi lama kelamaan aku merasa terpasung dan
terbelenggu dalam kekangan mama. Apa yang sudah mama lakukan padaku, aku klaim,
mama sudah keterlaluan.
Aku sungguh menikmati pesta malam ini, ini
merupakan pesta pertama yang kulewati bersama teman-teman satu sekolahku. Dan,
mungkin yang terakhir karena sebentar lagi kami akan berganti profesi dari
siswa SMA menjelma menjadi seorang mahasiswa.
aku yang waktu itu sudah dapat “Lampu Hijau” dari keluarga untuk kuliah
disekolah perawat, sangat mensyukuri, walaupun papa sebenarnya menginginkan ku
untuk membantu kak Robi mengurus
bisnisnya. Tapi mungkin sifat itu yang diturunkan kepada kak Robi yang
selalu mau mengerti dan peduli pada kemauan anak-anaknya.
“Gia, sudah pagi, pulang yuk!” ajak kak
Robi yang sudah berdiri disampingku sambil mencoba beramah-tamah dengan
teman-teman sekelilingku. Kulirik Alba yang melingkari tanganku, jam dua lewat
dua belas menit, aku terus terpana menatapnya, kenapa lajunya bisa cepat
begini, ya? Perasaan aku baru saja datang. Bercengkrama beberapa saat dan belum
sempat membahas tentang kelanjutan sekolah masing-masing. Masa sih, harus pulang
?
“Sebentar lagi ya, kak!” seruku seraya
memohon.
“Nanti ketahuan mama, Gi!” kak Robi terus
meyakinkan aku.
Akhirnya aku menyerah dan dengan berat hati
meninggalkan lokasi pesta. Jaguar yang kami naiki merayap pelan dikota
metropolitan yang masih saja tetap sibuk
hingga dini hari ini. Entah kegiatan apa yang membuat kota ini seolah
tak pernah mati dan tenggelam dalam kebisuan malam. Tak sebanding dengan
suasana yang hening dalam mobil, yang membuatku semakin merasa kedinginan dan
memaksaku menutup kaca jendela mobil, berulang kali ku tangkap kak Robi menguap dan berusaha tetap focus mengemudi,
karena Mila yang diharapkan bisa menemani kakak ngobrol, telah terlebih dahulu
hanyut dalam mimpi indahnya.. Kurebahkan tubuhku di jok belakang, beruntung
karena tak ada orang lain disisiku, setelah mengantarkan Mila, kami pun
langsung pulang.
Aku melemparkan begitu saja tubuhku
diranjang, sepatu bertumit yang dihadiahkan kak Robi waktu ultahku bulan lalu,
telah sukses balas dendam pada kakiku. Kalau bukan tuntutan gaun, takkan
kusentuh benda itu. Kurentangkan kedua tanganku diatas kasur, uhh….betapa
leganya, akhirnya aku bisa menghadiri pesta
tanpa sepengetahuan mama. Belum sempat terlelap, sebuah sinar yang cukup
terang terasa menampar mata. Ku coba menutupi dengan jari tanganku, tapi
sia-sia. Setelah ku lirik, kudapatkan sosok tubuh yang cukup bisa membuatku
merinding telah berada di depanku.
“Mama……” aku tergagap, kaget bercampur
takut mengerayangi tubuhku. Dari mana mama bisa tau, kalau aku dan kak Robi
menghadiri Prom night party sekolah malam ini.
“Nggak usah kaget, Gia, kenapa saya bisa
ada disini!” Mama menatapku lekat, dari sinar matanya tergambar emosinya yang
telah memuncak. Dadaku langsung bergetar hebat, kedinginan yang dari tadi
menusuk kini kurasakan seperti bara panas yang siap melumat apa saja. Dari
belakang mama, ku lihat papa hanya bisa mengusap-usap punggung mama.
“Dasar anak tak tau diri, sudah bagus
ditampung, bukan berterima kasih malah berbuat seenaknya. Kamu pikir rumah ini
hotel, keluar masuk tanpa aturan seperti itu. Ini nih pa, jika anak yang tak
jelas asal usulnya seperti dia main tampung sembarangan. Dengar Gia, kamu bukan
siapa-siapa, kamu hanya anak angkat. Kamu bisa tinggal enak disini, itu hanya
sebatas rasa kasihan suami saya. jadi
jangan pernah bermimpi bisa menggantikan posisi putriku dirumah ini. Selamanya
Gia, takkan pernah. Kata-kata itu
menjadi tamparan keras bagiku ketika mama menuding-nudingkan jarinya kearah
wajahku. Seolah merasa tak puas, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun,
mama kembali melemparkan gelas kewajahku. Aku pernah mendapat perawatan yang
serius karena ketagihan mama melemparku di bagian wajah. Namun sakit yang kini kurasa seolah
meremukkan hatiku.
“setimpalkah hukuman ini untuk kesalahanku?
Aku hanya ingin menikmati prom nigh party, aku yang hanya ingin sedikit
bersenang-senang dengan teman-teman sekolah. Aku yang hanya ingin sedikit
pengertian darimu, …ma!” tubuhku bergetar menahan sakit sambil menangis,
bersimpuh dilantai.
“Cukup ma, mama sudah keterlaluan,
bagaimanapun keadaannya, Gia tetap anak kita!” seru papa dengan nada tinggi..
“Nggak Pa, Gia bukan anak kita, sudahlah
Pa, hentikan kepura-puraan ini!”
Ucapan dan tingkah mama yang semakin
mengganas menimbulkan suara gaduh yang sangat mengusik ketentraman rumah. Papa
terus berusaha menenangkan mama dan membujuknya keluar dari kamarku.
Hhh…! Betapa sakitnya kenyataan ini. Bening
dimataku tak bisa lagi ku bendung dan berebut mengaliri pipiku. Ini rupanya
alasan mama selama ini yang memperlakukan aku tak adil. Sungguh alasan yang
sangat masuk akal. Mana mungkin aku bisa berharap mama bisa mencintaiku seperti
cintanya pada kak Robi. Jika setiap kali melihatku dia selalu beranggapan aku
menggantikan posisi putrinya, aku selalu menyakiti hatinya.
Kak Robi mendudukkan dirinya disebelahku,
tak sepatah katapun terucap dari bibirnya dia hanya menarikku dan meletakkan
kepalaku didadanya. Kegelisahan jiwaku kini tak tergambarkan lagi, bercampur
menjadi satu..Didadanya yang bidang, aku bersandar dan menumpahkan air mata.
Kehangatan yang selalu mampu membuatku tenang dan terlelap dalam kedamaian. Aku
tak habis pikir, mana mungkin bisa mama mengatakan kepadaku kalau aku bukan
putrinya setelah belasan tahun aku hidup bersamanya, disisinya, walaupun tanpa
belaian itu, belaian yang selalu dia sediakan untuk kakakku Robi. Seandainya
saja mama tau, Walaupun Gia bukan putri kandung mama, tapi saat ini harapan
terbesar yang masih Gia simpan adalah pulang kedalam pangkuan mama, meski dalam
kristal retak sekalipun, harapan itu masih Gia simpan, Rapat!.
Aku masih terisak ketika papa dengan sangat
terpaksa menceritakan kepadaku, kalau aku memang bukan anak kandung mereka, aku
hanya titipan dari seorang pegawai kantor papa yang menemukanku digerbong
kereta api pinggir kota lima tahun setelah Via kamil kecil diculik. Dia
terpaksa menitipkanku karna tugas kantor keluar kota, dan tragisnya dia
meninggal karna kecelakaan dalam tugas itu, dengan berbagai pertimbangan,
akhirnya semua sepakat untuk terus merawatku.
kecuali mama yang mengusulkan
kalau aku diserahkan kepanti asuhan
saja, mama tidak menginginkan kalau suatu saat nanti, aku menggantikan
posisi putrinya.
“Berarti menurut papa, Gia juga bukan
putrinya pegawai kantor papa itu ?”
“tentu saja Gia, karena statusnya waktu itu
belum beristri”.
“lalu Gia anak siapa, pa?”
“Papa juga tidak tahu, papa sangat menyesal
harus mengatakan hal ini padamu!”
Ucap papa yang masih membelai rambut
kusutku dalam pangkuannya. Air hangat dari matanya menetes dilenganku.
“papa juga tidak bisa meyalahkan mama kamu,
kenyataan yang sudah disepakati untuk dikubur, akhirnya harus terkuak lagi.
Papa tahu, ini hanya akan menyakitimu, sayang. Tapi bagaimanapun juga, kamu
memang harus mengetahuinya, Cuma yang papa sayangkan kenapa harus dengan cara
ini. “Lanjut papa tanpa bisa membendung air mata.
“Gia, apakah setelah mengetahui semuanya,
kau akan meninggalkan kami….?”
***
Aku mengetuk pintu rumah berkali-kali.
Dengan setengah mabuk, aku masih bisa mengenali siapa yang membuka pintu dan
berdiri didepanku. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyentuh minuman
beralkohol itu, bahkan meneguknya berkali-kali.
Tapi yang aku ingat, tadi pagi aku berjalan
sendiri dan sebuah mobil berhenti didekatku. Mobil Nita, teman satu sekolahku
yang terkenal dengan teman preman segudangnya, dia juga pemakai sekaligus
pengedar Narkoba. Entah sudah berapa kali dia keluar masuk penjara karena kasus
itu, tapi itu semua, tak cukup untuk membuatnya jera. Dia menjadi teman yang
siap menampung kesedihanku waktu itu, di cafe yang tak jelas namanya dia
membawaku dengan memesan minuman yang sangat aneh bagiku, dan terus membujukku
untuk meminumnya hingga tandas.
“Ini barang-barangmu !” sebuah tas ransel
yang dilemparkan oleh mama padaku, memaksaku untuk menyadari apa yang tengah
ter
“Besar harapanku untuk tidak melihatmu
lagi, Gia!. Sudah cukup kamu menjadi masalah bagi keluarga ini. Kamu tahu,
siapa yang baru saja datang kerumah ini! Pemilik cafe, yang katanya, kamu dan
teman-teman berandalanmu itu, telah memesan banyak sekali minuman, tapi tak
mampu bayar, lantas menyuruh mereka menagih kesini. Kesabaranku benar-benar
telah habis !” Kata mama yang menarikku keluar pagar dan mendorongku ke jalan
hingga aku terjatuh di aspal, dan sekali lagi tanpa disadari mataku lansung
ditampar oleh cahaya yang sangat terang dan perlahan mendekat. Bukan, tentu
saja itu bukan cahaya lampu kamar lagi, tapi sebuah mobil dengan kecepatan
tinggi telah berada beberapa meter lurus didepanku. Aku yang waktu itu dengan
setengah sadar tidak begitu kuat untuk mencoba menghindar. walaupun klakson
mobil itu sangat memekakkan telinga yang terpaksa melemparkan aku begitu jauh
hingga dalam dalam sekejap sakit luar biasa kurasakan diseluruh tubuhku.
Pandanganku mulai pudar, kesadaranku perlahan hilang, semuanya menjadi gelap
dan gelap..
Aku mendengar suara marah, tangis dan emosi
dari jauh. Tubuhku seperti terikat dengan slang dimana-mana. Aku tak tau apa
yang terjadi, kenapa aku bisa berada
diruangan yang sempit dan terasa asing, bahkan untuk membuka mata saja
aku harus mengumpulkan puing-puing tenaga yang tersisa. Aku seperti ingin
meneriakkan dan menyuruh mereka diam. Kenapa tak ada yang mau mendengarku.
Kenapa semuanya begitu sibuk meyebut-nyebut namaku sambil menangis .
Oh….hentikan ! jeritku, tidak bisakah
kalian diam untuk mengurangi rasa sakitku ini.
Aku masih bisa merasakan sesuatu yang
bertengger ditanganku, seseorang yang tengah tidur disampingku. Aku tak bisa
bergerak, semuanya terasa begitu aneh dan sangat berat, dengan pandangan yang
samar-samar kulihat begitu banyak orang disekelilingku, mendampingku, bahkan
mama yang selama ini sangat membenciku, kini berada disampingku, menangis,
memelukku dan berulang kali menciumku. Ada apa ini? bukankah harapan terbesar
mama tidak ingin melihatku lagi ? tak lama kemudian, kak Robi seperti
membisikkan sesuatu ditelingaku. Bahwa, Tante April telah mengungkap Talasemia
yang ku derita dan menyarankan pada keluargaku untuk melakukan tes DNA saja.
mereka setuju, dan hasilnya tentu sangat mengejutkan semua orang, Via kecil
yang diculik tujuh belas tahun yang lalu adalah aku, yang ditinggal begitu saja
disebuah gerbong kereta api pinggir
kota. Dan menurut perkiraan dokter, sasaran yang sesungguhnya bukan aku, tapi
bayi yang disebelahku. Karena dua hari setelah aku diculik bayi itu juga ikut
Raib. Dan atas kehendak tuhan aku diizinkan kembali ke keluarga kamil dengan
status anak angkat dirumah orang tuaku sendiri.
***
Aku masih ingat betul semuanya, saat ini….
“Kita pulang?” aku menoleh ketika kak Robi
menyentuh pundakku, menggugah kesadaranku.
“Ucapkan salam pada mama, dan katakan,
besok kita akan kesini lagi”. Ucapnya pelan, aku mengangguk sambil terus
menghapus air yang terus tercucur dari mataku, kuraih tangan mama dan
menciumnya.
“Gia pulang dulu ya, ma! Gia harap, jika
besok Gia kesini lagi, mama sudah sembuh dan bisa pulang bersama kami!”
Mama terpaksa diisolasi karena mengalami
goncangan yang sangat hebat ketika mengetahui bahwa putrinya yang selama ini
dirindukannya adalah aku. Orang yang selama ini didekatnya dan selalu
disia-siakan olehnya, aku yang harus berdiam diri dan bergantung pada benda
mati ini seumur hidupku. Ya, kecelakaan itu memang berhasil membuat kedua kaki
ku diamputasi. Tapi aku takkan pernah menyesali keadaan ini, apa lagi sampai
membenci mama. Jika aku memang harus menukar kakiku dengan memiliki seorang
mama dalam hidupku, itu adalah sebuah tukaran yang pantas. Dan ketidak
sempurnaanku saat ini, takkan pernah mampu membuatku patah semangat untuk terus
berjuang meraih kebahagiaanku lagi. Karena seberat apapun cobaan yang terus
menimpaku dan keluargaku saat ini, aku yakin, aku lebih tegar dari itu apalagi
demi mama, aku pasti bisa. ***
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Comments
Post a Comment