Skip to main content

Ulasan Cerpen “Lukisan Naura” Karya Mawar Rovita Sari (Pekanbaru)

[ID-FAM661M, Anggota FAM Pekanbaru]

Cerpen berjudul “Lukisan Naura” ini bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Alifa yang menginap di rumah Naura untuk menyelesaikan skripsinya. Naura adalah seorang gadis tunawicara yang memiliki hobi melukis.

Dalam cerpen ini, fokus cerita terletak pada hubungan yang dibangun penulis antara Alifa dan Naura. Deskripsi cerita lebih pada suasana hati dari masing-masng tokoh, bukan pada suasana tempat. Penulis mencoba menggambarkan itu semua melalui monolog yang tercermin dalam Alifa maupun dialog antara Alifa dengan Naura.

Pada paragraf pertama, ada baiknya antara kalimat pertama dengan kalimat kedua diberi
penghubung ‘akan tetapi’. Hal ini karena kedua kalimat tersebut sejatinya saling berhubungan. Meskipun jika dibiarkan seperti itu pembaca akan mengerti maksudnya akan tetapi menjadi terasa tidak nyaman dibaca.

Judul yang digunakan penulis cukup bagus. Begitupun dengan teknik penulisan dan pemilihan diksi. Meski begitu, penulis harus tetap belajar dengan banyak membaca dan menulis agar kualitasnya semakin meningkat.

Beberapa hal yang menjadi catatan FAM, untuk istilah asing lebih baik ditulis dengan cetak miring atau petik satu (‘) seperti kata “de javu”. Hal ini untuk membedakan dengan dialog yang ditandai dengan tanda petik (“). Penulis juga harus lebih teliti lagi dalam proses editing agar tidak ada lagi salah ketik.

Secara keseluruhan, cerpen ini bagus. Teruslah berkarya.

Salam Aishiteru.
TIM FAM INDONESIA

[NASKAH ASLI CERPEN TANPA EDITING FAM INDONESIA]

Lukisan Naura
Mawar Rovita Sari
IDFAM661M Anggota FAM Pekanbaru

Perjalanan dari Yogyakarta ke Karanganyar yang sebagian besar medannya naik-turun dan jalannya yang berkelok-kelok membuat aku harus menahan rasa mual selama perjalanan. Hamparan sawah yang tersusun rapi dan indah serta pemandangan dari Gunung Lawu yang menghiasi kota ini membuat rasa mual dan lelah yang aku alami selama perjalanan menjadi menguap dan hilang dibawa angin.

Pak Heru memarkirkan mobilnya di pelataran Kantor Kecamatan Kerto Raharjo. Beliau kemudian membawaku masuk ke dalamnya dan memperkenalkan aku dengan Pak Agung dan Bu Hida. Mereka adalah orangtua dari Naura. Di rumah beliaulah aku akan menghabiskan masa-masa penelitianku selama aku menyelesaikan tugas skripsi.

***

“ Hai dek Naura” sapaku dengan halus kepada seorang remaja putri di sebuah kamar. Tidak ada sahutan darinya, hanya tatapan menyelidik dan rasa ketakutan yang di tampilkan wajah gadis itu kepadaku.

Melihat hal itu, Bu Hida langsung berinisiatif untuk menerangkan sesuatu kepada putrinya mengenai keberadaanku. Entah apa yang di katakan oleh Bu Hida, namun yang jelas rona wajah Naura sudah berubah menjadi jauh lebih tenang dan siap menerima kehadiranku.

“ Nama mbak, Alifa” ucapku dengan nada yang tulus, seraya mengulurkan tangan kananku kepada gadis itu. Naura menjabat tanganku dengan erat meski cuma sebentar, karena dia langsung meringkuk kembali di dalam dekapan Bu Hida. Seoalah mencari perlindungan.

***

Ke esokan harinya, aku berusaha untuk mendekati Naura. Aku ingin dia merasa nyaman dan bisa menerima keberadaanku di sampingnya. Kulihat Naura tengah asyik dengan lembaran kertas gambar dan sebuah kuas di tangannya. Aku tidak ingin menganggu keasyikannya, maka cukup dalam diam aku mengawasinya. Aku menemukan metode yang bisa aku gunakan untuk mendekatinya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, segera aku berlari ke kamarku dan mengambil perlengkapan menggambar milikku. Aku ingin memasuki dunia Naura lewat lukisan.

“ Boleh mbak ikut melukis dengan dek Naura?” pintaku hati-hati sambil menunjukkan perlengkapan melukis di kedua tanganku. Hanya anggukan dari kepala dan kerlipan mata yang diberikannya padaku.  Hal itu bararti “Iya”.

Selama proses melukis, aku berusaha untuk memancingnya berbicara. Meskipun cuma dari isyarat tubuh. Aku ingin mengetahui bagaimana ia berkomunikasi dengan orang lain. Naura tanggap dengan maksudku, dia secara tidak langsung telah mengajarkanku tentang Bahasanya. Dia menyodorkan sebuah buku tebal bertuliskan “BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia)”. Aku di kenalkan huruf-huruf dari bahasa isyarat jari tangan. Aku menyimaknya dengan baik, agar aku bisa berkomunikasi dengannya.

Ketika kurasakan bahwa atmosfer diantara kami sudah meleleh, aku berniat untuk memulai penelitianku tentang Penderita Tunarungu dan Tunawicara. Aku bertanya kepadanya tentang alasan sikapnya kepadaku ketika baru pertama kali bertemu.

“ Naura malu. Naura tidak mau kalau mbak Alifa menghina Naura” jawabnya dengan polos pada sebuah kertas. Untuk sementara ini, aku dan Naura berkomunikasi lewat kertas atau layar Handphone.

“ Naura tidak boleh malu. Naura anak yang Hebat.  Naura pandai melukis.” tulisku pada sebuah kertas yang kemudian kusodorkan kepadanya. Aku bingung harus berkata apa. Aku tahu bagaimana perasaan yang melanda hatinya.  Sebuah senyuman hangat menghiasi wajah Naura setelah membaca tulisanku..

***

Aku menemukan fakta bahwa masalah minder yang dialami oleh penderita Tunarungu dan Tunawicara adalah suatu masalah yang paling mendasar. Aku rasa semua penderita cacat lainnya juga merasakan kondisi seperti itu. Perasaan takut di kucilkan dan di hina oleh masyarakat membuat mereka enggan untuk membaur dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka juga selalu merasa rendah diri ketika betemu dengan orang yang normal. Hal itu membuat mereka merasa ketakutan dan terancam seolah keberadaannya tidak akan bisa diterima dengan orang tersebut karena di anggap sebuah aib. Namun  mereka bisa menjadi sangat ramah kepada orang-orang yang mereka anggap bisa menerima kondisi mereka.

Aku tidak ingin menciptakan jarak diantara aku dan Naura. Aku ingin membuat Naura bisa merasakan bahwa tidak ada yang perlu di risaukan dengan kondisi yang berbeda dari orang Normal. Semuanya sama. Keterbatasan bukanlah suatu aib yang harus di tutupi.

***

“ Dek Naura mau nemenin mbak ngelihat air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu?” tanyaku padanya dengan niat terselubung. Dia hanya menatapku dengan sorot mata menyelidik . Sepertinya dia bisa  mencium kecurigaan di balik ajakanku. Aku mencoba lagi usahaku. Berharap ada respon positif yang kuterima darinya.

“ Nanti kita bisa ngelukis pemandangan disana. Pasti indah banget. Mau kan dek?” bujukku kemudian. Naura memberikan selembar kertas yang barusan di tulisnya kepadaku. Kemudian aku membacanya dengan khusyuk, lalu kertas itu kulipat dan kusimpan baik-baik.

***

Esoknya, aku dan Naura menikmati deburan air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu. Udara yang sejuk dan hawa dingin yang menusuk tulang-tulangku membuat aku merasa seperti sedang menikmati musim salju. “ Mungkin seperti ini rasanya bila musim salju”, gumamku dalam hati.

Aku senang telah berhasil membuat Naura bisa melawan rasa takut dan mindernya terhadap dunia luar. Selama ini dia hanya berada di dalam rumah. Semua aktifitasnya hanya berpusat di dalam kamarnya saja. Hari ini aku telah mengenalkannya pada Alam dan Matahari yang indah.

“ Dek Naura Hebat” pujiku kepadanya di sela-sela keasyikannya pada selembar kertas dan sebuah pensil. Mungkin dia sedang menikmati inspirasi barunya. Sehingga tidak menyadari kalau aku diam-diam telah mengambil foto wajahnya yang tampak Natural.

***

“ Mbak Alifa, ini untuk mbak” jelas Naura dengan isyarat huruf  jari ke arahku, sambil menyodorkan sebuah lukisan berbingkai kepadaku.

“ Terimakasih ya, Naura” balasku dengan isyarat huruf  jari ke arahnya. Dia membalas dengan senyuman hangatnya dan  mendekap tubuhku dengan erat.. Kami berpelukan cukup lama dan merasakan tetesan air mata membanjiri pundak kami masing-masing. Seolah saling melepas kerinduan diantara kami berdua. Aku merasa “ de javu” dengan Naura.

Naura memandang lekat ke arahku sambil melambai-lambaikan tangan kanannya melepas kepergianku. Sementara di dalam mobil aku hanya bisa meratapi lukisan yang di berikan Naura kepadaku. Terlihat gambar dua orang gadis yang sedang berdiri di bawah kucuran Air Terjun. Keduanya memancarkan wajah suka cita.

“Terimakasih Naura, atas bahasa isyaratnya. Mbak tidak akan pernah lupa dengan dek Naura” gumamku lirih di sela-sela isak tangisku sambil mendekap erat lukisan Naura di dadaku.

Sementara di tempat lain, terlihat seorang remaja putrid berusia lima belas tahun tengah menempelkan sebuah kertas berisi tulisan di dinding kamarnya.

“ Mulai hari ini, Naura berjanji tidak akan MALU sebagai Tunarungu dan Tunawicara. Naura anak yang Hebat. Naura Pandai Melukis”

Dia lalu mendengungkan kata-kata itu di dalam hatinya. Sambil membayangkan sosok wanita yang telah membuatnya berani dan bangkit dari rasa malu yang membelenggunya selama ini. 

***

Tiga Tahun Kemudian

Di sebuah acara penyerahan Piala Anugerah untuk Pelukis berbakat. S eorang gadis berusia delapan belas tahun maju ke podium dengan penuh percaya diri di saksikan oleh para hadirin yang berjumlah ribuan orang, gadis itu menerima penghargaan atas karyanya. Siapa sangka bahwa gadis itu adalah seorang penderita Tunarungu dan Tunawicara. Lewat bahasa yang terbata-bata, dia mengucapkan sebuah kalimat,

“ Piala ini Naura persembahkan untuk mbak Alifa” ucapnya dengan mantap sambil mengangkat piala itu ke atas. Di susul dengan tepuk tangan yang membahana oleh seluruh hadirin di ruangan itu.

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

Alinea Terakhir Kheista

Judul: Alinea Terakhir Kheista Penulis: I. F. Donne Kategori: Novel ISBN: 978-602-335-517-4 Terbit: Agustus 2019 Tebal: x + 107 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp 50.000,- (Harga belum termasuk Ongkir) Novel fiksi ini menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Kheista, yang tengah melawan penyakit kanker serviks. Sebelum akhirnya Kheista memutuskan untuk menjalani kemoterapi, ia sempat menghubungi Emma-sahabatnya, yang juga seorang dokter yang sedang berjuang untuk menemukan obat penyakit kanker. Emma menyarankan kepada Kheista untuk berobat di rumah sakit ‘John Hopskin’ Di Baltimore, Amerika Serikat. Selanjutnya Kheista ditangani oleh seorang dokter ahli kanker yang bernama Michael Jensen, yang akhirnya mempertemukannya dengan Daffa-sahabat sedari kecil yang kerap dirindukannya. Runtutan kisah yang sukar diterka, dengan alur maju mudur, disertai beberapa bab yang merumitkan, akan membuat para pembaca berfikir keras ketika membacanya, sehingga hal itu menjadikan novel ini begitu berbe...

Senja di Ufuk Selaparang

Judul: Senja di Ufuk Selaparang Penulis: Andre Kurniawan, S. Pd Kategori: Kumpulan Puisi ISBN: 978-602-5935-55-8 Terbit: Maret 2020 Tebal: xiv + 69 hal: 14 x 21 cm Harga: Rp48.000,- Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher (Harga belum termasuk Ongkir) Ketika semua berputar dan secara tak sadar kini hanya menyiksakan sekelumit kisah yang sangat berkesan dan tanpa bisa terulang kembali. Kepada alam semesta yang selalu agung akan pesonanya, izinkan aku mengangkat topi setinggi-tingginya untuk semua yang telah memberi warna. Duhai pencinta, abadilah dalam serpihan doa. Kan ku kenang selalu setiap jengkal peristiwa yang ada. Kepada sekat jua pembatas jiwa, bahwa adanya kau dalam kenangan, merupakan bingkisan terindah yang pernah kudapat dariNya. Kepada para kisah, kini aku mengundangmu hadir dan mengisi jejak langkahku. *Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan. [Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui pe...

Catatan dari Bedah Buku dan Diskusi Menulis FAM Wilayah Jawa Barat

FAM Jabar-Banten Bedah Buku Laporan: Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jabar-Banten) Cianjur (FAMNews) – Setiap momen Ramadan tentu menghadirkan berbagai kisah dan cerita tersendiri bagi setiap diri yang menjalani. Demikian pula pada Ramadan kali ini. Sebagai salah satu upaya untuk menjadikan bulan suci sebagai bulan penuh berkah, maka FAM Wilayah Jawa Barat-Banten bekerja sama dengan Taman Baca Masjid Agung (TBMA) Cianjur mengadakan kegiatan bertajuk “Bedah Buku dan Diskusi Menulis”. Kegiatan berlangsung santai namun hangat dan penuh keakraban di beranda TBMA. Selain dihadiri para pelajar dan pengunjung TBMA acara ini juga dihadiri tiga orang kontributor yang karyanya berada dalam buku “Sepenggal Kisah di bulan Suci” terbitan FAM Publishing. Mereka mewakili sejumlah penulis yang tergabung dalam Antologi FTS dan Prosa Liris yang terbit Maret 2014 silam. Di antaranya adalah De Minnie, Azxa dan saya sendiri. Selain itu, kegiatan semakin hangat dengan kehadiran penulis yang t...